Erabaru.net. Lahir dan eksis karena kebaikan, itulah kekuatan cinta dan kasih dalam sajian berikut ini.

Pukul 11:15, sebuah kedai berisi 16 meja dan 64 tempat duduk yang berada di tempat yang agak tersembunyi itu telah dipenuhi antrian tamu yang berbaris rapi.

Dalam antrian itu, ada orang tua yang ngobrol santai, anak-anak yang diam, pekerja yang mengenakan seragam kebersihan, om yang berantakan pakaiannya, dan penyandang disabilitas.

Meskipun ramai, tapi mereka berdiri dengan tertib di sisi jalan dan berbaris dengan rapi, tidak ada yang saling berdesakan atau pun berisik.

Setelah masuk ke dalam kedai, mereka pun tidak asing lagi dengan suasana di dalamnya, langsung menuju ke arah jendela. Sementara para pelayan yang terdiri dari pria dan wanita paruh baya yang berdiri di balik meja yang dipenuhi dengan aneka macam lauk pauk itu dengan tangkas mengambilkan lauk pauk sesuai dengan permintan tamu.

Tampak bapak yang mengenakan seragam keamanan berompi kuning, dan sarung tangan mengantarkan semangkuk sup kepada setiap pengunjung.

Selesai makan, para pengunjung secara inisiatif membereskan sendiri tempat duduknya, kemudian membawa piring nasi ke tempat cuci yang berada di samping kedai, lalu pergi dengan tenang. Sementara tamu yang baru mengambil makanannya, langsung duduk di tempat yang barusan ditinggalkan tamu lainnya, dan menikmati makan siangnya di sana.

Ketika tamu terakhir pergi, para pelayan yang sibuk di siang hari akhirnya bisa duduk santai, mengendurkan sejenak tubuh yang kaku dan pegal.

Pada pukul 13:00, para pelayan yang baru duduk santai sejenak, kembali sibuk bersih-bersih, sampai kedai kecil itu bersih dan rapi kembali seperti semula.

Pukul 15:00, setelah memastikan segala sesuatunya telah beres, pelayan wanita berusia 57 tahun itu kemudian baru membuka pintu kedai.

Kedai ini, yang dibuka pada 30 Desember 2014 lalu, buka non stop sepanjang tahun dan hingga sekarang telah mengisi hari-harinya selama 1.096 hari, terjual lebih dari 218.600 porsi makan siang, namun rugi lebih dari 200.000 NTD ( sekitar 100 juta rupiah) .

Hasil penjualan memang bagus, tapi jangan pernah berpikir akan meraup keuntungan besar, sebaliknya justru akan membuat sebagian besar orang berpikir ulang untuk meneruskan usaha ini.

Pasalnya itu adalah kedai sosial yang sengaja disediakan untuk publik, artinya setiap pengunjung yang masuk ke kedai tersebut bisa makan siang gratis tanpa dipungut bayaran sepersen pun.

Setiap satu porsi yang terjual, itu sama dengan kerugian yang harus ditanggung kedai. Kendati demikian, kedai ini telah menjalankan usaha sosialnya selama tiga tahun penuh dan masih berdiri tegak hingga detik ini.

Baik kakek-nenek yang tinggal sendiri atau tunawisma miskin maupun siswa dari keluarga tak mampu,
selama berkunjung ke kedai ini, tetap bisa menikmati secara cuma-cuma seporsi menu siang vegetarian yang bergizi.

Dan tidak peduli apa pun status Anda sebelumnya, Anda pasti akan disambut dengan ramah selama Anda masuk ke kedai itu.

Setiap hari, ada lebih dari selusin orang yang sibuk di dalam kedai sederhana itu, tetapi jumlah personelnya tidak tetap, begitu juga pelayannya, tidak ada pembagian tugas, apalagi absensi kehadiran.

Usia para pelayan di kedai itu juga beragam, dan rata-rata berusia lanjut, ada yang berusia 57 tahun, 72 tahun 73 tahun, 83 tahun. Dari usia 40-an hingga 80-an, total usia para pelayan sosial di kedai itu ada lebih dari 600 tahun kalau dihitung secara keseluruhan.

Status mereka juga beragam, ada nenek-nenek yang menjaga cucu-cucu mereka di rumah setelah pensiun, ada juga pedagang sayur-mayur di sekitar, atau para tukang di masyarakat sekitar. …

Orang-orang yang tampak tidak memiliki hubungan dekat satu sama lain ini, berkumpul di kedai kecil itu untuk membantu, dan mereka memiliki satu kesamaan–Tidak menerima uang sepersen pun dari kedai, semua kerja mereka bersifat sukarela.

Tidak ada karyawan tetap, dan tenaga kerja pada dasarnya diselesaikan oleh para relawan. Tidak ada pembagian tugas dan tanggung jawab. Selama Anda bersedia, siapa pun dapat menyingsingkan lengan (membantu) dan bergabung dengan tim.

Nenek Ma yang berusia 72 tahun, adalah sukarelawan yang paling setia di kedai tersebut. Sejak pembukaan kedai hingga sekarang, tidak pernah absen sehari pun.

Saat mulai sibuk di siang hari, dia sudah beraktivitas di depan mesin pencuci piring. Terkadang makan sekadarnya dengan cepat saat melihat piring tidak mencukupi, dan kembali meneruskan pekerjaannya lagi.

Sementara itu, nenek Zheng yang memiliki dua cucu selalu terburu-buru ke kedai setelah membereskan semua kebutuhan cucunya. Dan setelah menyelesaikan pekerjaan persiapan di kedai, nenek Zheng yang belum sempat makan pun buru-buru pulang lagi ke rumah untuk mengurus kedua cucunya.

Meski cukup melelahkan, namun, ia pikir masih banyak orang di kedai yang ingin makan, dan relawan lainnya akan sangat kerepotan jika tenaga tidak mencukupi.

Mereka semua berkumpul di kedai itu hanya dengan satu tujuan, yakni membantu menyediakan makan siang gratis untuk 200 orang yang tak dikenal.

Meski tidak ada keuntungan apa pun, dan orang-orang yang menikmati kebaikan mereka juga tidak ada hubungannya dengan mereka, tetapi mereka tetap merasakan suka-cita..

Setelah pensiun, ruang lingkup pun (pergaulan) menjadi sempit, kehidupan berangsur-angsur menjadi hambar, sementara keluarga di rumah juga sibuk dengan urusannya masing-masing.

Beberapa kali ingin curhat, tapi baru sampai di ujung bibir, lidah pun menjadi keluh, tertelan kembali.

Tidak perlu kerja, tidak perlu cemas dengan isi perut, jalan-jalan setiap hari, ngobrol dengan orang-orang di sekitar, satu hari pun berlalu, lantas apa yang mau dikeluhkan ?

Namun, batin mereka tak tahan mulai mempertanyakan nilai-nilai mereka sendiri, Mereka tidak tahu apa arti keberadaan mereka saat itu, dan apa lagi yang bisa mereka lakukan sekarang.

Ketika menemui kesempatan agar orang lain bisa menjalani hidupnya melalui usaha mereka semampunya, dimana karena keberadaan mereka itu, sehingga sedikit demi sedikit timbul sesuatu yang agak berbeda di batin mereka, dan dengan sendirinya memancarkan gelora semangat yang tak ada habisnya.

Lantas, sosok orang seperti apa sebenarnya yang rela membuka kedai yang tidak ada untungnya ini, dan apa yang menopang kedai itu hingga mampu terus bertahan selama tiga tahun?

Kedai itu dibuka oleh beberapa orang, tetapi tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya. Satu-satunya yang sosok orang yang menampakkan dirinya hanya penanggung jawab kedai,seorang pria paruh baya bernama Liu.

Adapun tujuan didirikannya kedai itu sangat sederhana : Kami telah memiliki banyak kekayaan dari masyarakat ini, karena sekarang kita memiliki kemampuan itu, jadi sudah saatnya bagi kita untuk mengembalikan sumbangsih itu.

Diantara beberapa mitra kerja sama itu, ada yang keluar uang, ada yang keluar tenaga. Ada yang membuka resto dengan property di bawah namanya, ada yang langsung memborong persediaan beras harian untuk restoran itu. Ada juga beberapa orang yang memberikan dukungan materi dan keuangan dalam bentuk donasi.

Terkadang, ada pengunjung yang makan di kedai sosial itu, menyumbangkan uang atau minyak, beras dan semacamnya agar kedai itu tetap bertahan.

Bahkan ada pengunjung yang makan di kedai itu secara khusus berjalan kaki selama tiga jam datang ke kedai itu hanya untuk menyumbangkan uang.

Ada juga tamu yang kemarin baru makan di kedai, keesokannya langsung ke kedai itu menjadi sukarelawan dan secara pribadi mengucapkan terima kasih.

Siklus dari niat baik itu pada akhirnya akan menghasilkan lebih banyak niat baik, kedai itu hadir dan tetap eksis hanya karena kebaikan tulus yang dipancarkan dari sanubari orang-orang.

Dan secara kontinyu memberikan makan siang gratis kepada orang-orang tak dikenal, tidak ada karyawan tetap, tidak ada pengaturan kerja yang ditetapkan, tidak ada permintaan, tidak ada yang mengawasi, semuanya atas dasar kesadaran diri sepenuhnya.

Kedai itu tidak memenuhi salah satu definisi manajemen yang kita tahu, tetapi ia bertahan dengan kokoh.

Dan tak disangka, berkat dukungan setetes demi setetes dari niat baik itu, kedai yang mirip Utopia itu menduduki satu posisi yang kokoh di kota yang berkembang pesat itu.

Jadi, jangan pernah meremehkan kekuatan yang baik-tulus itu.(jhn/yant)

Sumber: life.bldaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular