Erabaru.net. Li Chenggong berusia 50 tahun dan telah bekerja di pabrik selama lebih dari 20 tahun. Bos dan karyawan lain mengagumi keterampilan kerja Li Chenggong dan kemampuannya di pabrik adalah contoh dari pekerja lain.

Bos selalu menjadikan dia contoh selalu memujinya di hadapan karyawan lain dan ia sering berkata, “Adalah menjadi penghargaan buat pihak kami ketika mendapatkan pekerja terampil seperti Li.”

Meskipun pabrik itu adalah perusahaan swasta, manfaatnya bagi karyawannya sangat baik. Li Chenggong hanya mengandalkan keterampilan tangan dalam bekerja untuk mendukung keluarganya sehingga ia dapat membiayai pendidikan putranya di universitas.

Namun, kondisi yang tanpa kendala itu tidak berlangsung lama. Suatu hari, Li menerima telepon dari putranya yang memberi kabar “Ayah, ibu sakit parah, tolong pulang secepat mungkin. ”

Li Chenggong sudah mengetahui selama ini istrinya sering jatuh sakit dan sendirian juga harus merawat orangtuanya yang sudah lanjut usia.

Dari panggilan telepon, dia tahu istrinya sakit dan butuh perhatian. Jadi Li memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sementara waktu dan pulang ke kampung untuk mendampingi istrinya dan merawat kedua mertuanya.

Li akan memastikan istrinya dalam keadaan sehat sepenuhnya sebelum memutuskan untuk kembali bekerja.

Dengan surat pengunduran dirinya, Li telah melangkah ke kantor bosnya tetapi dia agak ragu dan hanya mondar-mandir di depan pintu ruangan bosnya. Dalam pikirannya, bosnya ini adalah orang yang baik dan selalu memperlakukannya dengan baik.

Li Chenggong menyadari perannya di pabrik itu sangat penting dan jika dia meninggalkan pabrik tersebut dan pulang ke rumahnya, tidak ada yang lebih terampil darinya yang akan menggantikan tempatnya di situ. Tapi Li tetap ingin pulang dan merawat istrinya yang sakit. Akhirnya, Li memutuskan dan mengetuk pintu kantor bosnya.

Li Chenggong memasuki ruangan bosnya. Dia melihat beberapa pria di ruang kantor yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Majikannya terlihat sedang duduk dengan wajah agak berkerut dan sepuntung rokok di mejanya . Orang-orang itu duduk diam dan memperhatikan Li dengan wajah serius.

Li kemudian berkata, “Bos, Perlu bos ketahui istri saya sakit dan lemah di kampung. Anak saya menelepon kemarin mengatakan kepada saya bahwa istri saya sakit dan situasi membutuhkan perhatian. Saat perayaan tahun baru mendatang, boleh atau tidak bos mengizinkan saya pulang lebih awal untuk mengurus istri saya? ”

Bos ini mendengar permintaan Li dan berkata, “Baiklah, dengan perayaan tahun baru yang akan tiba dan kamu pun sudah lama bekerja keras di perusahaan ini. Ambillah cuti beberapa hari untuk perayaan tahun baru dan menjaga istri kamu.”

Li menyadari bosnya salah tafsir dengan perkataanya, lalu dia mengulang permintaan itu dan berkata, “Saya ingin mengambil cuti tambahan yang lebih lama untuk menjaga istri saya yang sedang sakit dan jika kondisi istri saya bertambah parah saya mungkin tidak akan kembali bekerja, bos! ”

Bosnya ini kemudian memahami maksud dan penjelasan Li dan berkata, “Paman Li, jika kamu pergi, saya mungkin tidak dapat menemukan karyawan sebaik kamu untuk menggantikan tempat kamu.”

Li Chenggong telah mengambil keputusan dengan satu permintaan, “Maafkan saya bos. Satu permintaan saya, bisakah jika bos memberi saya bonus tahunan saya satu kali? Saya ingin menggunakan uang ini untuk membayar biaya medis istri saya. ”

Setelah bos ini mendengar permintaan itu dan menyadari ada beberapa orang yang sedang mendengarkan di ruangannya itu, bosnya ini lalu berkata dengan nada marah, “Apa bonus tahunan? Pergi ke bagian SDM dan ambil sekotak kurma merah di sana. Beli tiket kereta dan pulanglah ke rumah! ”

Ketika Li tiba di rumahnya, dia melihat istrinya sedang berbaring di tempat tidur. Putranya telah mengambil cuti kuliahnya untuk merawat ibunya.

Ketika putra Li melihat ayahnya pulang, dia berkata, “Ayah sibuk mencari uang diluar untuk kami. Setelah Tahun Baru ini, saya akan meninggalkan kuliah dan merawat ibu sepenuhnya. ”

Li menjadi terkejut dan berkata kepada putranya, “Oh tidak! Jangan berhenti belajar. Ayah telah memberi tahu bos ayah bahwa ayah untuk sementara waktu meninggalkan pekerjaan ayah untuk merawat ibumu. Jika ibumu sudah sembuh, maka ayah akan kembali bekerja. Jika situasinya memburuk, ayah akan pensiun demi kebaikan semua. ”

Selepas mendengar penjelasan ayahnya, anak lelaki Li berkata, ” Ayah sanggup membuat keputusan nekad begitu? Bagaimana dengan bonus tahunan ayah?”

Li dengan nada sedih berkata, “Lupakanlah dengan bonus tahunan! Apa yang ayah dapat hanya sekotak kurma merah kering!”

Putra Li melihat wajah ayahnya yang hampa dan merasa tidak dihargai dan tidak ingin berbicara lebih banyak tentang topik itu. Dia takut akan membuat ayahnya lebih sedih. Begitu mereka menyelesaikan percakapan, telepon Li Chenggong berbunyi.

Li mengambil telepon dan melihat satu pesan baru yang disampaikan dengan mengatakan, ” Rp.200.000. 000 telah disetorkan ke akun Anda.”

Putra Li melihat ayahnya duduk dengan wajah beku sambil menatap layar ponsel. Putra Li mengambil telepon dari tangan ayahnya.

Kemudian ia menyadari di rekening ayahnya telah bertambah sebesar 200 juta rupiah . Dia bertanya kepada ayahnya, “Ayah, siapa yang mengirim…?”

Belum lagi putra Li menyelesaikan pertanyaannya, satu pesan lagi terkirim ke teleponya.

Pesan itu berbunyi, “Paman Li, maafkan saya karena bersikap kasar ketika paman Li menemui saya di kantor hari itu. Seperti yang paman lihat ada beberapa pria di kantor hari itu. Mereka adalah kreditor yang ingin menagih utang pada hari itu. Jika saya memberi Anda bonus tahunan pada hari itu, mereka akan mengambil semua uang dari saya dan uang yang akan digunakan untuk membiayai tagihan medis istri Anda tidak akan lagi diberikan kepada Anda, paman Li. ”

Pesannya lebih lanjut, “Jadi, saya telah memikirkan cara yang tidak manusiawi ini dengan memberi tahu Anda untuk mengambil sekotak kurma merah kering dari SDM. Saya harap istri Anda akan segera pulih dan sehat. Dan saya juga berharap Anda dapat kembali bekerja secepat mungkin. ”

Kemudian pesan kedua dikirim, “Uang 200 juta rupiahn ini adalah sumbangan tulus saya untuk menyatakan penghargaan saya atas sumbangan luar biasa paman Li kepada pabrik dan perusahaan. Saya selalu menghargai kontribusi paman yang telah menguntungkan perusahaan. Gunakan uang ini untuk merawat istri paman . Jangan khawatir tentang pekerjaan di pabrik. Semuanya telah diurus dan berjalan dengan lancar. Nikmati liburan paman bersama keluarga. ”

Ketika membaca pesan itu, Li Chenggong menjadi tidak sadar dan tidak bisa menahan diri untuk terkejut dan bahagia pada saat yang bersamaan. Tanpa menyadari air matanya mengalir di pipi.

Semua kebencian dan kekecewaan sebelumnya telah hilang begitu saja. Li Chenggong baru menyadari bahwa majikannya juga memiliki masalah, yang mungkin lebih besar dari masalahnya.

Setelah istrinya membaca pesan itu, dia berkata, “Setelah tahun baru, kamu kembali ke pabrik dan kembali bekerja. Saya tahu bagaimana keadaan saya. Saya bisa menjaga kesehatan saya. Jika saya dapat beristirahat dengan baik di Tahun Baru ini, saya dapat pulih. Majikan kamu memperlakukan kamu dengan baik. Jika kamu tidak kembali bekerja, kamu akan mengecewakannya. ”

Sulit untuk mendapatkan majikan yang baik dan memiliki karakter dan hati yang mulia.

Li Chenggong melihat istrinya dan berpaling lagi melihat pesan di telepon. Dia menundukkan kepalanya dan menangis lagi. Sekarang dia tahu majikannya benar-benar orang yang sangat baik.(yant)

Sumber: erabaru.my

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular