Erabaru.net. Konon katanya mata ikan gabus akan buta setelah bertelur, sehingga tidak bisa mencari makanan dan harus menahan lapar.

Karena tak tega melihat induknya mati kelaparan, ribuan gabus kecil yang menetas kemudian secara aktif berenang ke moncong induknya untuk dimakan.

Induknya selamat, namun, jumlah kelangsungan hidup anak-anaknya kurang dari sepersepuluh secara keseluruhan.

Karena kebanyakan dari mereka telah mengorbankan hidupnya untuk sang induk. Gabus adalah ikan yang berbakti!

Setiap tahun selama musim bertelur, ikan salmon harus berenang pulang “kampung” dari perairan laut menuju tempat bertelur.

Perjalanan induk ikan salmon tersebut sangat menguras tenaga, karena harus melawan arus sungai yang menurun diakibatkan kedudukan sungai lebih tinggi daripada laut.

Lompatan-lompatan itu kerap kali gagal untuk mencapai atas tangga sungai dan belum lagi telah menanti kawanan beruang atau pemangsa lapar lainnya yang tanpa susah payah memangsanya, serta harus melewati sungai yang semakin dangkal.

Yang sangat tragis dan mengagumkan bahwa hanya sebagian kecil induk salmon yang berhasil mencapai hulu sungai dan bertelur, kemudian mati.

Perjalanan ikan salmon itu mengingatkan kita akan perjalanan hidup manusia. Kita pun punya naluri untuk pulang.

Kita dilahirkan dan hidup untuk tujuan yang jelas, yaitu mengenal dan saling mengasihi. Dari kisah ikan salmon yang luar biasa ini ada banyak hal yang bisa kita petik.

Salah satunya, perjuangan yang dilakukan oleh ikan salmon untuk berenang ke hilir sungai walaupun setelah bertelur mereka akan mati. Ikan Salmon mengajarkan bahwa hidup ini adalah perjuangan.

Selain kegigihannya dalam berjuang, ikan Salmon juga mengajarkan kehidupan yang penuh pengorbanan.

Bayangkan jika ikan Salmon menjadi egois dan tidak mau berjuang berenang ke hilir sungai. Mereka akan menjadi punah, banyak makhluk hidup mati dan keseimbangan alam akan terganggu.

Pengorbanan yang ditunjukkan ikan salmon ini sangat berbeda dengan kebanyakan manusia yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri daripada kepentingan orang lain/masyarakat.

Kita harus hidup bukan untuk mencapai ambisi dan kepentingan diri sendiri saja. Kehidupan ini akan lebih bermakna bila hidup kita bisa bermanfaat bagi orang lain.(jhn/yant)

Sumber: life.bldaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular