Erabaru.net. Aku dan Dicky adalah sahabat semasa kanak-kanak. Dia berasal dari desa seberang. Karena tidak ada sekolah dasar di desa mereka, jadi, semua anak-anak di sana sekolah di desa kami. Kaki Dicky agak pincang saat jalan akibat salah suntik karena sakit semasa kanak-kanak !

Di sekolah, Dicky selalu dibuli oleh teman-teman, pertama karena dia berasal dari luar desa, kedua, fisiknya yang cacat.

Kadang-kadang, teman sekelasnya sengaja bikin kotor buku pelajarannya, memasukkan ulat yang menjijikkan ke dalam kotak alat tulisnya, bahkan ada yang menjulukinya “si pincang!”

Aku merasa simpati setiap kali melihatnya dibuli teman-temannya, tapi aku tidak berani menunjukkannya secara langsung !

Masih hangat dalam benakku saat duduk di kelas IV kala itu, suatu hari saat pulang sekolah dan teman-teman sudah pada pulang, hanya tinggal kami berdua di dalam kelas yang sunyi. Saat itu, aku bertanya kepadanya kenapa belum pulang.

Tapi tiba-tiba dia malah menangis dan berkata, “Ibuku sakit parah, ayahku bilang aku mungkin tidak akan pernah melihat ibuku lagi, aku tidak berani pulang, dan tidak ingin pulang!” katanya sambil terisak.

Mendengar itu, aku pun tak kuasa menahan linangan air mata !

Aku berjalan ke mejanya dan duduk di sampingnya, aku mendengar dengan sabar uneg-unegnya, mungkin ini adalah perkataan terbanyak yang pernah kudengar dari Dicky, aku makin bersimpati kepadanya dan seketika terbersit dalam pikiranku untuk membantunya.

Sesampainya di rumah, aku pun mengambil semua uang jajan yang sudah lama kutabung.

Keesokannya saat pulang sekolah, diam-diam aku menyelipkan uang kepadanya.

“Ini adalah uang jajan yang kutabung, tidak banyak hanya 90 ribu rupiah. Nanti belilah sedikit buah-buahan untuk ibumu! Kataku.

Namun, tak disangka, itu adalah hari terakhir aku melihatnya di sekolah, karena keesokan harinya, aku tidak melihat Dicky di sekolah.

Aku dengar ibunya telah meninggal, dan Dicky dibawa ayahnya ke kota lain. Terkadang aku merindukannya setiap saat melihat tempat duduknya yang kosong di kelas, entah bagaimana keadaannya sekarang, apakah baik-baik saja, gumamku dalam hati.

Tak disangka 20 tahun lamanya aku tidak pernah melihat Dicky lagi sejak dibawa ayahnya ke kota.

Saat bertemu Dicky lagi adalah dalam resepsi pernikahanku.

Saat itu, tiba-tiba saja dia datang dengan mobil mewahnya. Jujur saja, aku benar-benar tidak mengenalnya kalau bukan dia yang bilang dirinya adalah Dicky, karena penampilannya benar-benar beda, Dicky terlihat seperti seorang bos besar.

Begitu bertemu, Dicky tidak banyak basa basi, dia langsung duduk dengan tenang.

Setelah makan malam di rumahku, Dicky mengambil sebuah amplop merah dari dalam tasnya dan menyodorkan kepadaku sambil berkata : “Selamat menempuh hidup baru, kawan!”katanya sambil tersenyum

Sebenarnya aku ingin memintanya jangan buru-buru pergi dulu. Tapi dia mengatakan masih ada urusan mendesak di perusahaan yang harus ditangani.

Dicky meninggalkan nomor kontak dan berkata, “Kalau butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku, urusanmu adalah urusanku, jangan lupa ya saudara baikku !”

Kami pun berpelukan erat, setelah Dicky pergi, aku membuka amplop merah yang dia berikan, dan aku terkejut di dalam amplop berisi selembar kartu ATM, dan secarik kertas : “Terima kasih, aku tidak akan lupa dengan setiap kebersamaan kita dua puluh tahun silam itu, juga tidak pernah lupa dengan bantuanmu saat itu, dan selalu terlintas dalam benakku ketika kamu menyelipkan uang jajanmu waktu itu!

“Di kartu ATM ada sejumlah uang untukmu, berikut pin-nya yang tertera di kertas itu, sekali lagi kuucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga sehat dan bahagia, saudara baikku, jangan lupa segera hubungi aku kalau ada apa-apa, ingat, urusanmu adalah urusanku !” Tulis Dicky dalam secarik kertas itu.

Air mataku berlinang usai membaca surat dan melihat ATM berisi uang itu.

Setiap orang memiliki kondisi yang tidak sama. Tapi, saudara baikku, aku pasti akan menghargai persahabatan ini dalam sepanjang hidupku !

Mungkin inilah makna sesungguhnya dari sebuah persahabatan sejati, tidak pernah lupa dengan setiap kebersamaan, baik suka maupun duka, meski bertahun-tahun sudah tak bertemu.(jhn/yant)

Sumber: life.bldaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular