Erabaru.net. Ini adalah sebuah cerita pagi yang dikutip dari Dcard.tw (situs jejaring sosial Taiwan)

Kemarin saya melihat sebuah berita dengan judul “Bapak itu pekerja di bangunan, debu dan kotoran melekat di tubuhnya! Apa kamu mau duduk di sampingnya?”

Jujur saja, saya tidak sanggup membendung linangan air mata setelah membacanya.

Kulit mereka kusam dan gelap karena bekerja di bawah terik Matahari sepanjang hari sementara di sisi lain, ada mahasiswa yang bahkan tidak mau/betah duduk di ruang ber-AC selama tiga jam kuliah.

Pernahkah kalian melihat deru debu yang beterbangan di lokasi konstruksi ? Debu-debu itu menghinggap di sekujur badan mereka, jadi kita bisa melihatnya.

Tapi pernahkah terlintas dalam benak kalian ? Selain debu-debu yang hinggap di badan mereka, juga banyak yang terhirup ke dalam paru-paru yang tidak bisa kita lihat saat mereka sedang bekerja. Dan aroma dari badan mereka saat pulang kerja juga tentu tak sedap di hidung..

Badan yang basah dan lengket pasti sangat tidak nyaman rasanya, tapi itu adalah bukti dari keseriusan kerja mereka.

Saya tidak habis mengerti mengapa ada orang yang tidak menyukai mereka dan tidak mau duduk di sampingnya.

Saat saya sekolah hingga lulus, sebagian besar orangtua siswa adalah dokter, pengacara dan sebagainya, dan itu adalah pekerjaan dengan status sosial yang tinggi di mata kebanyakan orang.

Tapi ayah saya, selalu membentur dinding – tidak mendapatkan pekerjaan semenjak di PHK.

Kemudian dia memilih sebagai tukang/pekerja bangunan demi menafkahi kami sekeluarga.

Pada saat itu, karena saya belum tahu apa-apa, jadi ketika orang-orang berbicara tentang (pekerjaan) orangtua mereka, saya justru tidak bisa mengatakan fakta bahwa ayah saya adalah seorang pekerja bangunan, karena saya takut ditertawakan teman-teman.

Sampai saat kuliah di Taipei, saya selalu ingat ayah menelepon saya untuk pertama kalinya.

Dia bertanya kepada saya, “Betahkah selama tinggal di lingkungan baru? Kalau ingin makan sesuatu yang sulit ditemukan di sana, ayah akan kirimkan untukmu,” katanya lembut.

Saya diam membisu dan tak bisa menahan linangan air mata haru mendengar kata-katanya yang penuh perhatian.

Saat itu, baru saya sadari, bahwa tidak peduli apa pun pekerjaan ayah, dia bekerja keras dan mendidikku, agar saya bisa belajar, dan ayah akan berusaha keras untuk membiayaiku meski biaya untuk semua itu sangatlah mahal baginya, seorang tukang bangunan.

Saya juga tidak kekurangan dengan apa yang orang lain miliki. Berkat kerja keras dan didikan ayah, saya baru bisa masuk ke universitas yang sudah lama saya impikan. Dan ayah tidak kalah sedikit pun dibandingkan dengan ayah siswa lainnya.

Ayah selalu membawa tas yang berat saat berangkat kerja. Saat tasnya rusak pun, dia enggan membeli tas yang baru, hanya menggunakan tas sekolah usang semasa SMP saya dulu.

Untuk sarapan juga ayah selalu makan nasi kemarin campur kecap.

Dia bilang itu enak, tapi saya tahu dia hanya ingin menghemat pengeluarannya sendiri.

Ayah selalu pulang dalam keadaan basah bermandikan aroma keringat.

Ketika ayah berjalan lewat di sampingku, dimana meski tak tahan mencium bau keringatnya. Tetapi saya tidak akan dengan sengaja menahan nafas, saya harus selalu mengingatkan diri saya.

Karena hidup ayah yang getir dan harus bekerja keras menafkahi keluarga, jadi saya harus tekun dan tidak boleh mengecewakannya.

Setelah melihat berita itu, perasaan saya berkecamuk tak menentu, sedih dan tertekan.

Saya merasa simpati pada bapak pekerja bangunan itu, juga tak tega pada ayahku.

Bagi Anda yang merasa malu, bukan mereka yang mengotori kursi melainkan orang-orang yang berpikir diri mereka itu hebat dan merasa jijik dengan mereka (tukang bangunan)

Di mata saya, mereka itu hebat dan luar biasa!(jhn/yant)

Sumber: twgreatdaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular