ErabaruNews – Mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal dan putrinya diracuni dengan racun saraf yang dipasang di pintu depan rumah mereka di Inggris. Fakta itu dipastikan dan disampaikan oleh polisi anti-terorisme Inggris.

Ini adalah penggunaan pertama racun saraf kelas militer di Eropa sejak Perang Dunia II, yang terungkap sejauh ini. Inggris menyalahkan Presiden Rusia Vladimir Putin atas percobaan pembunuhan, dan negara-negara Barat telah mengusir sekitar 130 diplomat Rusia.

“Kami yakin Skripal pertama kali melakukan kontak dengan racun saraf dari pintu depan rumah mereka,” kata Dean Haydon, koordinator nasional senior pada kepolisian kontra-terorisme Inggris.

“Spesialis telah mengidentifikasi konsentrasi tertinggi dari racun saraf, hingga saat ini, yaitu berada di pintu depan rumah korban,” timpal Scotland Yard dalam sebuah pernyataan.

Rusia membantah menggunakan Novichok, ‘agen saraf’ yang pertama kali dikembangkan oleh militer Soviet, untuk menyerang Skripal. Moskow mengatakan pihaknya mencurigai dinas rahasia Inggris mencoba membingkai bahwa Rusia yang melakukannya, untuk memicu histeria anti-Rusia.

Skripal dan putrinya yang berusia 33 tahun, Yulia, berada dalam kondisi kritis sejak ditemukan tidak sadarkan diri di bangku umum di kota Salisbury, Inggris, pada 4 Maret 2018. Seorang hakim Inggris mengatakan mereka mungkin menderita kerusakan otak permanen.

Seorang petugas polisi berjaga-jaga di luar rumah mantan perwira intelijen militer Rusia, Sergei Skripal, di Salisbury, Inggris, 8 Maret 2018. (Peter Nicholls/Reuters/The Epoch Times)

Percobaan pembunuhan terhadap Skripal telah menjerumuskan hubungan Moskow dengan negara-negara Barat menuju level terburuk pasca-Perang Dingin. Korban adalah seorang mantan kolonel berusia 66 tahun dalam dinas intelijen militer Rusia. Dia mengkhianati belasan agen Rusia dengan menyerahkan data mereka kepada salah satu dinas mata-mata Inggris, MI6.

Setelah Inggris mengusir 23 orang Rusia yang dikatakan adalah mata-mata yang bekerja di bawah perlindungan diplomatik, Rusia menyusul dengan mengusir 23 diplomat Inggris. Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, termasuk sebagian besar negara anggota Uni Eropa dan NATO, kemudian menyusul dengan mengusir lebih dari 100 diplomat dan agen intelijen Rusia.

Anggota parlemen Inggris juga meluncurkan penyelidikan baru tentang pencucian uang, sanksi, dan kejahatan ekonomi, dengan fokus khusus pada properti yang dibeli dengan apa yang disebut ‘uang kotor’.

Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson mengatakan Kremlin telah meremehkan respon Barat terhadap serangan itu. Serangan racun saraf yang juga melukai seorang polisi Inggris.

Johnson mengatakan kepada khalayak duta besar di London bahwa 27 negara kini telah mengambil sikap untuk mengusir diplomat Rusia atas dugaan keterlibatan Moskow, yang berulangkali dibantah Rusia.

“Pengusiran ini mewakili suatu momen ketika suatu perasaan tiba-tiba mengkristal, ketika bertahun-tahun kejengkelan dan provokasi telah membuat kesabaran kolektif mencapai titik puncak, dan ketika di seluruh dunia-melintasi tiga benua-ada negara-negara yang bersedia mengatakan cukup sudah, cukup,” Kata Johnson.

“Jika mereka [Rusia] percaya bahwa kami telah menjadi sangat lemah secara moral, sangat bergantung pada hidrokarbon, sehingga menghindari risiko secara kronis, dan begitu ketakutan terhadap Rusia sehingga kami tidak akan berani menanggapi, maka ini adalah jawaban mereka.”

Putin, yang telah berurusan dengan kebakaran pusat perbelanjaan mematikan di Siberia, belum menanggapi, meskipun Moskow telah mengancam tindakan pembalasan.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan keadaan serangan Salisbury menyebabkan Rusia mencurigai potensi keterlibatan dinas intelijen Inggris.

Video Pilihan :

“Jika bukti yang meyakinkan sebaliknya tidak disampaikan kepada pihak Rusia, kami akan mempertimbangkan bahwa kami sedang berurusan dengan upaya kehidupan warga negara kami sebagai akibat provokasi politik besar-besaran,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan pada hari Kamis (29/3/2018) bahwa Rusia juga mengamati secara dekat laporan media bahwa Inggris mungkin membatasi peran London dalam memasarkan utang Rusia kepada investor.

Seorang dokter yang tidak dikenal yang merawat Skripal mengatakan mereka berdua sangat terbius dan tidak dapat berkomunikasi. Kondisi itu tidak mungkin untuk menilai kapan atau sejauh mana mereka mampu mendapatkan kembali kapasitas mental, demikian terungkap dalam dokumen pengadilan.

Skripal, yang direkrut oleh mata-mata Inggris saat berada di Spanyol, berakhir di Inggris setelah pertukaran mata-mata Perang Dingin. Dia ditukar dengan 10 mata-mata Rusia yang ditangkap di Amerika Serikat.

Sejak muncul dari dunia spionase dan pengkhianatan tingkat tinggi, Skripal hidup sederhana di kota katedral Salisbury. Dia berhasil menghindar dari sorotan dunia hingga ditemukan pingsan pada tanggal 4 Maret 2018.

Serangan terhadap Skripal, telah disamakan dengan insiden sebelumnya di Inggris, dengan pembunuhan mantan agen KGB Alexander Litvinenko. Dia adalah seorang pengkritik Putin, yang meninggal di London pada 2006 setelah minum teh hijau yang belakangan diketahui dicampur dengan radioaktif polonium 210.

Rusia membantah terlibat dalam pembunuhan itu.

Penyelidikan yang dipimpin oleh hakim senior Inggris, Robert Owen menemukan bahwa mantan pengawal KGB Andrei Lugovoy dan petenis Rusia lainnya, Dmitry Kovtun, melakukan pembunuhan sebagai bagian dari operasi yang mungkin disutradarai oleh Dinas Keamanan Federal Rusia. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Share

Video Popular