Erabaru.net. Adik Kembarannya Yang Tidak Lulus Ini “Memalsukan Jati Dirinya Sebagai Kakak Kembar” Untuk Kuliah, Sementara Sang Kakak Menggantikan Pekerjaan Ayahnya! Namun Siapa Sangka Endingnya Seperti Ini 4 Tahun Kemudian!

Dua saudara kembar, mengikuti ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru secara bersamaan. Hasilnya, sang kakak kembarannya mendapat surat pemberitahuan atas kelulusannya, sedangkan adik kembarannya telah gagal.

Kedua saudara kembar ini sama persis bak pinang dibelah dua, namun karakter dan kepribadian keduanya sangat jauh berbeda. Sang kakak pendiam dan polos, sedangkan adiknya supel dan lincah; sang kakak kaku dalam bicara dan tidak mahir dalam mengungkapkan sesuatu secara lisan, adiknya pandai bicara dalam meyakinkan orang lain.

Sang kakak memperlihatkan surat lulusnya kepada orangtuanya, namun, kedua orang tuanya yang miskin dan sakit-sakitan itu hanya diam membisu, sementara sang adik mengunci dirinya di kamar, tidak mau makan.

Ia menghela napas sambil mendesah, “Tuhan tidak punya mata, tidak bisa melihat mana orang yang berbakat dan pintar,” gumamnya.

Sang ayah yang merenung selama dua hari dua malam itu pun kemudian berkata kepada putra sulungnya, “Biarlah adikmu yang kuliah, dia punya bakat sekolah.”

Akhirnya sang kakak menyerahkan surat penerimaan calon mahasiswa barunya kepada adik kembarnya, dan mengatakan sesuatu padanya, “Ini bukan tiket ke surga, jangan terlalu berharap padanya.”

Mendengar itu, adiknya pun bertanya sambil mengerutkan kening, “Maksudmu?”

“Secarik kertas penghisap yang khusus menyerap keringat, seperti lintah darat yang khusus menghisap uang kuliah,” sahut kakak kembarnya. Mendengar itu sang adik hanya menggelengkan kepalanya dan menertawakan kakaknya.

Saat masuk kuliah, adiknya pergi ke ibukota memulai kuliahnya, sementara di kampung, sang kakak meminta ayahnya yang sakit-sakitan untuk istirahat di rumah dan dia yang akan menggantikan pekerjaannya di pabrik semen.

Di atas mesin penghancur batu, tampak banyak bekas darah karena banyak jari tangan pekerja yang putus karenanya. Sejak hari pertama menggantikan pekerjaan ayahnya, sang kakak pun mewujudkan mimpi indahnya.

Dia menghabiskan tiga bulan waktunya, memodifikasi secara teknis mesin pengahancur batu itu, dan hasilnya selain bisa meningkatkan kualitas kerikil, juga memperbaikinya dari sisi keamanan.

Kepala pabrik kemudian memindahkannya ke bagian produksi, namun, bagian produksi yang penuh dengan debu itu, menyebabkan banyak pekerja terkena silicosis (suatu penyakit saluran pernafasan akibat menghirup debu silika, yang menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru).

Bersama dengan beberapa rekan kerjanya di bagian teknis, dia bekerja keras berusaha memperbaiki fasilitas perlindungan lingkungan kerja di bagian produksi. Setelah itu, kepala pabrik memindahkannya lagi ke laboratorium penelitian.

Di laboratorium, dia membaca banyak sekali buku untuk menunjang pengetahuannya, selain itu juga berkunjung ke sejumlah pabrik dan banyak bertanya, kemudian mempraktekkanya berulang kali. Setelah melakukan banyak uji coba, akhirnya berhasil meningkatkan kualitas semen, dan menghasilkan produk berkualitas dengan merek baru dari pabrik tempat dia bekerja.

Atas kinerjanya yang ulet dan pantang menyerah, dia berhasil menjadi sosok yang terkenal di industri bahan bangunan.

Sementara itu, adik kembarannya yang menggantikannya kuliah tampak biasa-biasa saja sejak awal kuliah, ia pernah menulis beberapa surat menanyakan kondisi penyakit ayahnya.

Pada tahun kedua, ia berkenalan dengan seorang gadis anak seorang pengusaha kaya, dan keduanya pun larut dalam asmara yang menggelora. Gadis itu menjadi isi dompet yang terus dikurasnya, sehingga selama dua tahun, dia tak pernah meminta uang sepeser pun dari keluarganya.

Setelah tahun keempat kuliahnya, dia putus pacaran dengan gadis anak orang kaya itu. Akhirnya terperosok ke dalam “masa depresi muda.” Dia larut dengan dunia mayanya, tidak bergairah kuliah, namun akhirnya bisa lulus juga meski dengan cara yang tidak pantas dan mendapatkan modal kerja berupa secarik kertas ijazah.

Dengan terombang-ambing dia mencari pekerjaan, namun selalu gagal. Akhirnya memutuskan kembali ke kampung halaman. Merasa malu karena masih terpuruk, dia tidak mau  pulang menemui orang tuanya.

Berkat rekomendasi dari pusat tenaga kerja, ia mencoba melamar kerja di perusahaan bergengsi yang bergerak dalam bidang bahan bangunan.

Dengan susah payah dia berhasil lolos ujian perekrutan karyawan baru. Ketika sampai pada test wawancara di ruang direktur perusahaan, entah mengapa sang direktur justru menunda-nunda kemunculannya.

Namun tak lama kemudian, sekretaris datang dan mengatakan kepadanya bahwa dia telah diterima. Tetapi sebelumnya dia harus lebih dulu bekerja di bagian produksi pembakaran batu.

Merasa tidak adil, dia meminta bertemu dengan sang direktur. Sekretaris perusahaan memberinya secarik kertas yang bertuliskan sebaris kalimat : “Kalau mau ke surga, harus ke neraka dulu.”

Dia mendongak dan darahnya seketika berdesir melihat kakak kembarnya masuk ke ruangan lalu duduk di atas kursi direktur.

Walaupun Anda sedang berjalan menuju surga, namun, tidak berarti Anda pasti akan sampai ke surga.

Jangan selalu berangan-angan bisa dengan mudah mewujudkan impian Anda, karena acapkali mimpi itu seperti surga yang jauhnya tak terjangkau. Setiap perjalanan apa pun yang menuju ke surga impian itu berasal dari cobaan dan tempaan dalam kesengsaraan seperti di neraka.

Uang, tidak bisa menghidupi Anda seumur hidup ; paras yang cantik dan tampan, tidak bisa dibanggakan seumur hidup. Yang paling miskin itu tidak lebih dari mengemis, selama masih hidup, pasti akan bisa menikmati hangatnya mentari. Kehidupan siapa pun tidak ada yang sempurna.

Kehidupan siapa yang bukan berasal dari suka-duka, merasakan pahit-manisnya hidup, siapa pula yang bisa menjamin hidupnya akan sesuai dengan harapan?

Sehebat apa pun seseorang pasti ada pahit-getir dibalik kecemerlangannya.

Orang yang paling bahagia dan sejahtera pun pasti ada kegetiran dan ketidakberdayaan di dalam hatinya.

Tidak ada siapapun yang hidupnya mudah, menghormati orang lain adalah penghormatan terhadap diri sendiri. Jika ingin berjalan di depan, maka Anda harus menderita dulu di belakang.

Menjadi sosok orang yang berwibawa dan disegani, harus menjadi bawahan dulu. Sesuatu yang instan itu tidak akan awet dan bertahan lama. ( eb)

Video Rekomendasi :

Cucu ini Menendang-nendang Jenazah Kakeknya, Ternyata Dia Ingin Menyampaikan Sesuatu

Share

Video Popular