Erabaru.net. Untuk memahami golongan masyarakat terendah di Amerika Serikat, William James, seorang reporter dari sebuah surat kabar terkemuka di dunia dan menyamar sebagai orang miskin yang lumpuh yang berkeliaran supaya dapat berbaur dengan para tunawisma.

Pada hari pertama, saat melihat James yang lumpuh dan mengenakan pakaian compang-camping yang kotor,para tunawisma segera menunjukkan kepeduliannya.

Seorang pria tunawisma memberi sebuah tongkat kayu kepada James dan berkata:

“Saudaraku, ambillah tongkat ini yang akan membantumu”.

James mengambilnya dan merasa sangat dihargai. James melihat pria tersebut sambil tercengang karena pria tersebut juga lumpuh.

Para tunawisma membawa James ke tempat sampah di sebelah sebuah supermarket.

Mereka bersedia memberi tahu James bahwa limbah tersebut dapat dijual guna mendapatkan uang dan kapan waktu yang tepat untuk mengumpulkannya.

Saat James sedang berjuang mengumpulkan sampah, seorang pemuda kulit hitam datang dan memberi kantong limbahnya kepada James sambil berkata: “Saudaraku, ambil saja ini dan pergilah istirahat!”

James tidak mempercayai kata-kata yang baru saja didengarnya dan berkata: “Saya tidak dapat menerimanya, karena kamu sudah bekerja keras untuk mengumpulkannya!”

Pemuda itu berkata dengan gembira: “Sedikit lebih mudah bagi saya untuk mengumpulkannya”, lalu pemuda tersebut pergi.

Saat makan siang, James merasa lapar. Seorang pria tunawisma berpunggung bungkuk memberinya dua roti dan berkata: “Saudaraku, ambil saja!”

James merasa sedikit tidak nyaman, berkata: “Jika kamu memberi roti ini kepada saya, apa yang akan kamu makan?”

Pria tersebut tersenyum dan berkata, “Sedikit lebih mudah untuk saya mendapatkan roti ini!”

Dengan air mata yang berlinang, James memegang roti tersebut. Butuh beberapa saat baginya untuk menenangkan perasaannya.

Saat malam tiba, James dan beberapa orang tunawisma berbaring di bawah jembatan. James sedang berbaring di dekat pinggir jembatan.

Tiba-tiba ia mendengar suara: “Saudaraku, berbaringlah di tempat saya karena sedikit lebih nyaman daripada di sini.”

Saat James membuka matanya, ia melihat seorang pria tunawisma yang sudah tua dengan rambut putih tersenyum.

James merasa tidak nyaman: “Jika saya menempati tempat tidurmu, di manakah kamu akan tidur?”

” Sedikit lebih mudah bagi saya!”James mengerti bahwa meski hidup mereka sangat berat, mereka masih mau mengulurkan tangannya untuk membantu orang lain,saat melihat seseorang sedang dalam kesulitan.

Mereka selalu merasa rela membantu dan menghargai orang lain yang lebih menderita, sehingga memberi kehangatan dan semangat kepada orang lain yang menderita tersebut untuk melanjutkan hidup.

Setelah setengah tahun menyelidiki, James menulis serangkaian laporan yang menggerakkan hati jutaan pembaca.

Ia memberi judul seri yang mengejutkan penonton,”Sedikit lebih mudah bagi saya”

Itulah kata-kata paling aneh yang dikatakan oleh para tunawisma, yang memberi keyakinan pada orang lain untuk melanjutkan hidup dan James belum pernah mengalami sebelumnya.

Jutaan pembaca The New York Times tiba- tiba menyadari bahwa pakaian compang -camping, kotor, cacat,atau miskin tidak dapat menhentikan langkah seseorang untuk memiliki hati yang mulia.

” Sedikit lebih mudah bagi saya!adalah benar bagi siapapun dalam menjalani hidup ini, bahkan saat anda tidak memiliki apapun, selain sebuah hati.”

Video Rekomendasi:

Benda Jutaan Tahun Ditemukannya di Pantai, Sungguh Mengejutkan

Share

Video Popular