Erabaru.net. Pengusaha Besar Pun Tidak Akan Bisa Menandingi Kakek Ini.

Dalam wasiat terakhirnya, Andrew Carnegie, orang terkaya di Amerika Serikat pada awal abad ke-20, mengatakan : “Orang yang mati dalam keadaan kaya adalah aib.”

Tetapi sebaliknya, “Mati dalam keadaan miskin” itu merupakan hal yang sulit dilakukan oleh setiap pengusaha.

Namun, tidak ada hal yang mutlak. Pada 23 September 2005 silam, Bai Fangli, seorang kakek penarik becak berusia 93 tahun meninggal dunia. Tagihan milik pribadinya adalah nol. Mungkin banyak orang yang tidak mengenal wirausahawan ini, atau tak seorang pun dari orang-orang yang mengenalnya akan menganggap dirinya seorang pengusaha. Bagaimanapun, dia orang yang sangat dihormati.

Pada kesempatan ini, redaksi akan mengangkat kisah tentang orang tua yang berhati mulia ini.

Bai Fangli, sebenarnya adalah seorang kakek penarik becak, Sejak 1986, dia merasa anak-anak miskin tidak memiliki uang untuk sekolah, dan berangkat dari inilah, kakek Bai menyumbangkan hasil kerja kerasnya ke yayasan yatim piatu. Pada awal musim semi ketika itu, dia menyerahkan 3.000 yuan atau sekitar 600 ribu rupiah dari hasil kerja kerasnya kepada yayasan yatim piatu yang mengasuh 300 anak-anak yang tidak mampu.

Pada tahun 1986, Bai Fang Li melihat seorang anak sekitar 6 tahun yang membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Setelah diberi uang, anak itu tetap saja mencari makan dengan mengumpulkan sisa-sisa makanan dari tempat sampah. Saat Bai Fang Li bertanya mengapa anak itu tidak membeli makanan dari hasil kerjanya, sang anak mengatakan bahwa dia akan memakai uang itu untuk membeli makanan untuk dua adiknya, karena orang tua mereka tidak diketahui keberadaannya.

Sejak saat itu, hati Bai Fang Li terketuk untuk melakukan cara yang sama. Dia selalu menyisihkan penghasilannya yang tidak seberapa untuk disumbangkan.

Usia kakek Bai tidak lagi muda, setiap hari dia menarik becak dengan pengahasilan tidak seberapa. Bahkan untuk makan pun, Bai Fang Li harus mencari makanan sisa di tempat sampah. Tetapi tahukah Anda, penarik becak yang miskin ini telah menyumbang lebih Rp 500 juta untuk anak-anak miskin.

Sejak 1994 –1998, Bai Fangli telah menyumbangkan uang di sepanjang hidupnya sebesar 350.000 yuan atau sekitar 700 juta rupiah yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Mungkin bagi banyak orang, gelar “Pengusaha” untuknya ini agak tidak sesuai dengan profilnya. Tetapi bagi orang tua yang buta huruf ini, dia telah mewujudkannya melalui tindakan nyata untuk memberi tahu pengusaha akan arti semangat “Kontribusi sosial.” Setelah kematian Bai Fangli, seniman membuat patung perunggu Bai Fangli di Tianjing Recreation Park.

Bagaimanapun, semoga kakek Bai bisa beristirahat dalam damai, dan semoga orang-orang baik di dunia selalu dalam lindungan-Nya!

Kisah nyata dari penarik becak tua ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Keikhlasan hati membantu orang lain, tidak hanya bisa didapat saat kita sudah bergelimang harta. Bahkan dalam keadaan miskin sekali pun, kita bisa membantu orang yang lebih membutuhkan.

“Smoga dapat menjadi renungan.”

Video Rekomendasi:

Menjelang Kepergiannya Bocah ini Ingin Menjadi Malaikat Untuk Adiknya

Share

Video Popular