Erabaru.net. Untuk pertama kalinya putri Seema yang berusia 5 tahun bepergian dengan kereta api.

Saat kereta api mulai bergerak, seorang pria penjual makanan ringan berdesak-desakan menembus kerumunan untuk menjual makanan ringan kepada penumpang kereta.

Penjual itu menawarkan sebungkus makanan ringan pada Seema.Seema menatapnya dengan jijik dan menyuruhnya pergi, tetapi putrinya menarik tangannya dan berkata,”Ibu, tolong belikan sebungkus untukku.”

Penjual itu belum beranjak pergi, mengulurkan bungkusan itu, tetapi Seema dengan marah berkata, “Pergilah!”

Merasa sedih, pria itu hendak pergi, tetapi putri Semma tersenyum manis dan melambai tangan petanda “selamat tinggal” kepadanya.

Hati pria itu merasa bahagia.Saat kereta api tiba pada pemberhentian berikutnya, Semma dan putrinya akan segera turun, mereka melihat penjual itu duduk di dekat pintu kereta.

Gadis kecil itu dengan penuh semangat tersenyum kepadanya dan menoleh ke ibunya, memohon,“Ibu, dapatkah kita memberinya uang? Ia tampak lapar.”

Seema dengan tegas menjawab:“Abaikan dia, dia bukan orang baik. Orang seperti itu menculik gadis kecil ke dalam tasnya.”Seema dan putrinya turun dari kereta api, dan setelah berjalan sedikit, mereka mendengar seseorang berteriak di belakang mereka.

Mereka menengok ke belakang melihat penjual itu melambaikan tangannya dan mengikuti mereka.Seema mengira pria itu menguntit mereka dan berjalan lebih cepat sambil menarik putrinya.

Seema memanggil taksi dan buru-buru masuk ke dalam taksi bersama putrinya.Seema menutup pintu taksi dan meminta sopir untuk segera tancap gas.

Tetapi penjual itu mencapai taksi sebelum taksi pergi dan mengetuk jendela mobil. Seema berusaha mengabaikan pria itu, tetapi ada sesuatu yang berkilau menarik perhatiannya.

Ketika ia melihat lebih dekat, ia menyadari penjual itu memegang gelang putrinya.Seema menurunkan jendela mobil, penjual itu menyerahkan gelang itu dan berkata,“Ibu, putrimu memberi gelang ini kepadaku sebelum turun dari kereta.”

Lalu penjual itu memberi sebungkus makanan ringan kepada putri Seema.
“Ini untukmu,” katanya sambil tersenyum. Belum sempat Seema mengucapkan sesuatu, penjual itu pergi, dan taksi berangkat.

Seema menatap putrinya dengan kagum. Lalu Seema berpikir:“Maafkan saya, pak. Saya telah salah menilai anda.”

“Dunia ini adalah tempat yang berbahaya, namun masih ada orang berhati emas.”

Moral:
Jangan menilai seseorang dari penampilannya atau tanpa mengetahui siapa dia.
Senyum ramah, kata-kata bijak, dan hati penuh belas kasih tidak membutuhkan biaya, tetapi membuat setiap orang merasa lebih kaya dan bahagia.(eb)

Video Rekomendasi:

Jika Mencintai Seseorang Jangan Biarkan Kebodohan Menghalangi Anda

Share

Video Popular