Erabaru.net.Dahulu pernah hidup seorang pendekar hebat. Meskipun sudah tua, ia masih mampu mengalahkan semua penantangnya.

Suatu hari, datanglah seorang pendekar muda yang bertekad menjadi orang pertama yang mengalahkan pendekar tua yang hebat itu.Pendekar muda itu memiliki dan kekuatan luar biasa dan kemampuan khusus untuk menemukan kelemahan lawannya dan menggunakannya melawan mereka dalam pertarungan.

Dalam setiap pertarungan, ia akan menunggu lawannya melakukan langkah pertama untuk memahami kelemahannya, lalu ia akan melakukan serangan dengan kecepatan dan kekuatannya yang luar biasa.

Sehingga tiada seorang pun yang pernah mengalahkannya setelah melakukan langkah pertama. Pendekar tua itu menerima tantangan pendekar muda walaupun ditentang oleh murid-muridnya yang prihatin.

Pada hari pertarungan, semua orang berkumpul di sekitar dua pendekar itu. Ketika pertarungan dimulai, pendekar muda itu mulai melecehkan pendekar tua.

Ia menendang debu ke arah pendekar tua dan meludahi wajahnya, tetapi pendekar tua itu berdiri tak bergerak. Pendekar muda itu terus melecehkan pendekar tua untuk waktu yang lama, namun pendekar tua tetap berdiri dengan tenang di hadapannya.

Akhirnya, pendekar muda itu menyerah. Ia sadar bahwa ia telah dikalahkan dan dibiarkan malu.Semua murid kecewa mengapa gurunya tidak melawan pendekar muda setelah dihina seperti itu.Mereka bertanya bagaimana sang guru mampu menahan penghinaan seperti itu dan penyebab perginya pendekar muda.

Pendekar tua itu menjawab, “Jika seseorang datang memberimu hadiah dan kamu tidak menerimanya, lalu milik siapakah hadiah itu?”

Salah satu muridnya menjawab, “Maka hadiah itu menjadi milik orang yang ingin memberikannya.” “Benar,” kata pendekar tua itu.”Dan jika seseorang mencoba menghinamu dan membuatmu marah,tetapi kamu tidak menerimanya, milik siapakah hinaan atau amarah itu?”

Murid lain menjawab, “Menjadi milik orang yang ingin menghina kita dan membuat kita marah.” “Benar,” jawab pendekar tua itu. “Orang lain boleh saja memprovokasi dan membuatmu marah, tetapi kamu tidak harus menerima amarahnya.

Terserah padamu cara merespons. Ingat, kamu selalu punya pilihan.
Pilih untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih mulia.”
Pilih untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih mulia.”

Tetap tenang bahkan di saat orang mencoba memprovokasi kita adalah tanda kebijaksanaan dan pengendalian diri. (eb)

Video Rekomendasi:

Detak Jantung Si Kecil di Kandungannya Menguatkan Ibu Hamil Penderita Kanker ini

Share

Video Popular