Erabaru.net. Akhir-akhir ini sejumlah laporan media menyebutkan lebih dari 50 orang tewas dalam waktu kurang dari seminggu.

Bukan karena kecelakaan atau bencana alam, orang-orang ini tewas setelah menenggak minuman keras oplosan. Mereka yang tewas termasuk di Jakarta dan Jawa Barat.

Laporan media, insiden terakhir, 17 orang tewas antara Kamis dan Senin (09/04/2018) pagi di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Sebelumnya, Direktur RSUD Cicalengka, dr. Yani Sumpena kepada wartawan mengatakan 16 orang tewas di rumah sakit dan 1 orang tewas pada saat di rumah sakit.

Secara total, sekitar 40 orang dirawat dengan gejala seperti mual, muntah, sesak nafas dan tidak sadarkan diri, dan 13 masih dirawat.

Sebagaimana diketahui kasus minuman keras oplosan merupakan kasus lama yang sering terjadi.

Bahan yang berpotensi mematikan seperti metanol. Kandungan metanol ini kadang-kadang digunakan dalam resep miras oplosan.

Laporan media mengatakan polisi telah menutup empat toko minuman keras di wilayah Cicalengka dan menyita lusinan jerigen berisi anggur palem dan ratusan botol berbagai jenis minuman keras.

Laporan kepolisian menyebut 31 orang tewas di Jakarta dan kota-kota sekitar di Depok dan Bekasi akibat keracunan alkohol dalam insiden terpisah sejak awal bulan ini.

Atas insiden ini, Polisi telah menangkap setidaknya empat tersangka di wilayah Jakarta yang dituduh menjual minuman keras oplosan.

Pada akhir Maret, enam orang tewas di wilayah paling timur Indonesia di Papua dari minum alkohol oplosan.

Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal (Komjen) Syafruddin menargetkan kasus miras oplosan tuntas sebelum Ramadhan.

“Saya minta, seluruh indonesia harus zero, saya berikan target bulan ini selesai, seluruh indonesia, nanti bulan ramadhan tidak ada lagi miras,” kata Komjen Syafruddin di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Rabu (11/4/2018) dilansir dari Tribratanews.

Wakapolri menegaskan, kasus miras Oplosan yang menewaskan puluhan orang diungkap hingga ke akar-akaranya.

“Saya perintahkan kasus ini berhenti, artinya mengungkap sampai ke akarnya, ke otaknya, dalangnya yang punya skenario. Ini korbannya banyak,” kata Komjen Syafruddin. (asr)

Share

Video Popular