Erabaru.net. Ayah pekerja keras ini merahasiakan pekerjaannya dari keempat putrinya agar mereka tidak merasa malu, sampai suatu hari … Seorang pria bernama Idris bekerja sebagai pengumpul sampah untuk membiayai sekolah putri-putrinya.

Dia berusaha keras agar mereka tidak mengetahui apa pekerjaannya untuk mencari nafkah.

Dia bahkan membersihkan diri di toilet umum sebelum pulang ke rumah setiap hari.
Setiap kali putrinya bertanya apa yang dia lakukan, dia sering menjawab dengan ragu bahwa …”Bapak adalah seorang buruh.”

Sehari sebelum tanggal terakhir putrinya masuk kuliah,
ketika dia tidak bisa memenuhi biaya pendaftaran untuk putrinya. “Saya tidak bisa bekerja hari itu, duduk di samping sampah, berusaha menyembunyikan air mata saya.”

Semua rekan kerjanya menatapnya, tetapi tidak ada yang datang untuk berbicara dengannya.

“Saya tidak tahu bagaimana menghadapi putriku jika bertanya tentang biaya kuliah begitu saya kembali ke rumah.

Saya terlahir miskin. Saya percaya tidak ada hal baik yang bisa terjadi pada orang miskin.”
Setelah bekerja, semua teman kerja menghampirinya, dan bertanya apakah dia menganggap mereka sebagai saudara.

Sebelum dia bisa menjawab, mereka menyerahkan hasil kerja mereka hari itu.
Dia mencoba menolak, tetapi mereka memaksa,”Kami hanya akan kelaparan hari ini, tetapi putri kami harus kuliah.”

Itu adalah hari dimana Idris akhirnya mengatakan pada putrinya bahwa dia pengumpul sampah.
Setelah putri-putrinya mengetahui ayah mereka berkorban memikul beban sebesar itu untuk mereka,
mereka bertiga tidak lagi membiarkan dia pergi bekerja.

Putri bungsu Idris masih pelajar, dan ketiga anak itu bersama-sama membayar uang sekolahnya.

Sepertinya Idris masih bekerja sebagai pengumpul sampah, tetapi sekarang,
putri bungsunya sering bersamanya ke tempat kerja, dan membawa makanan untuk semua teman kerja Idris.

Mereka tertawa dan bertanya mengapa dia sering memberi mereka makan.
“Kalian semua kelaparan untukku hari itu maka aku bisa menjadi seperti hari ini, doakan aku agar dapat melakukan ini untuk kalian, setiap hari.”

“Sekarang, aku tidak merasa seperti orang miskin,” kata Idris.
“Siapa pun yang memiliki anak seperti itu, bagaimana dia bisa miskin!”(eb)

Video Rekomendasi:

Kisah Nyata: Kakek Miskin Penarik Becak Rela Hidup Melarat Menyumbangkan Penghasilannya

Share

Video Popular