Seumur Hidup Bersembahyang Kepada Buddha Namun Selalu Kurang Satu Batang Dupa

71

Erabaru.net. Seumur hidup bersembahyang kepada Buddha namun selalu kekurangan satu batang dupa

Di sebuah tempat suci yang besar dan megah, ada seorang remaja memasang dupa dan mempersembahkannya kepada Buddha Gautama.

Dia memasang tiga batang dupa ke dalam wadah, lalu mulai berdoa dengan khusyuk:

“Saya dengan rendah hati meminta restu dari Buddha Gautama. Semoga saya lulus

ujian nasional dengan jalur promosi yang sangat jelas. Saya berjanji untuk setia kepada negara dan berkontribusi terhadap kebahagiaan seluruh penduduk desa.”

Selesai bersembahyang, remaja itu membungkuk beberapa kali dan bangkit, lalu kemudian pergi.

Buddha Gautama melihat ke bawah ke remaja tadi, tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.

Yang Mulia Ananda (murid Buddha Sakyamuni) bertanya kepadanya: “Buddha Gautama, remaja ini sangat tulus, permintaannya juga sangat bagus, mengapa Anda tidak menerimanya?”

Buddha Gautama tersenyum dan perlahan berkata: “Karena dia kekurangan satu batang dupa.”

“Kurang satu batang dupa?”, Yang Mulia Ananda melihat tiga batang dupa yang dipasang, dan tidak dapat mengerti maksud perkataan itu.

Sepuluh tahun telah berlalu, remaja naif itu kini telah menjadi pemuda yang tampan dan gagah.

Dia tidak lulus ujian tahun itu, tapi dia memutuskan untuk bergabung dengan dinas kemiliteran.

Dia menjadi jenderal dan membuat banyak kemenangan gemilang, kali ini dia kembali ke kampung halaman untuk menikah.

Pemuda itu masih memasang tiga batang dupa ke dalam wadah seperti dulu, berlutut dengan hormat di hadapan patung Buddha: “Saya dengan rendah hati meminta restu dari Buddha Gautama, semoga saya menikahi wanita yang lembut dan benar, dan memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia.”

Dia membungkuk beberapa kali sambil mengatakan hal itu.”

Yang Mulia Ananda sangat tersentuh melihat hal ini, dia menoleh ke belakang dan melihat Buddha Gautama tersenyum diam, dia bertanya: “Buddha Gautama, mengapa Anda tidak menerimanya?”

Buddha Gautama tersenyum: “Dia masih kekurangan satu batang dupa.”

Sepuluh tahun berikutnya telah berlalu, pemuda tersebut kini menjadi pria paruh baya

Saat dia melangkah masuk ke tempat suci itu lagi, di wajahnya sudah ada beberapa keriput yang muncul.

Karena terlibat konflik dengan keluarga istrinya, dari seorang jenderal besar dia diturunkan jabatannya hingga menjadi seorang pejabat lokal kecil.

Banyak keinginan besar tak bisa dilakukan lagi. Dia melangkah ke dalam tempat suci, memasang dupa, membungkuk dan berdoa: Saya berharap anak-anak saya mau belajar dan bekerja keras untuk menyelesaikan karir saya yang belum tercapai.

Yang Mulia Ananda menatapnya dan kemudian menatap Buddha Gautama yang tersenyum diam, berucap dengan tenang: “Akhirnya dia masih kekurangan satu batang dupa.”

Sepuluh tahun berikutnya telah berlalu. Pria paruh baya sekarang menjadi pria tua dengan rambut abu-abu.

Saat itu, dia telah meninggalkan tentara dan kembali ke kampung halaman. Sekarang dia tinggal di desa kecilnya, dan tidak memiliki keinginan yang besar seperti sebelumnya.

Orang tua itu membakar tiga batang dupa lagi, membungkuk dan berkata:

“Buddha Gautama, saya telah berdoa berkali-kali di sini, tapi Anda tidak pernah menerima sekali pun permohonan saya.

Tapi kali ini, tolong terima keinginan dari seorang anak yang mencintai ibunya ini

Ayah saya meninggal ketika saya masih kecil, ibu saya harus bekerja sangat keras untuk membesarkan saya.

Sekarang dia sudah sangat tua, saya hanya berharap dia bisa hidup dengan damai dan bahagia dalam sisa hidupnya.

Selain ini, saya tidak memohon apapun”

Yang Mulia Ananda tersentuh saat mendengar kata-kata ini. Dia memalingkan kepalanya kembali untuk melihat Buddha Gautama dan menemukan Buddha tersenyum, mengangguk perlahan: “Yang kamu inginkan akan terjadi.”

Orang tua itu keluar dari kuil. Dia belum sampai pulang ke rumah, namun sudah menerima berita bagus.

Kedua putranya sekaligus meraih gelar doktor pertama di bidang ilmu pengetahuan dan satunya lagi mendapat penghargaan kehormatan besar di bidang militer.

Apalagi, pengadilan mengeluarkan surat untuk menghapus hukuman militer yang pernah dia terima secara tidak adil, dia diperbolehkan kembali ke militer dan pangkatnya dinaikkan tiga tingkat.

“Tapi saat itu, orang tua itu tidak menerima perintah tersebut.”

Dia memutuskan untuk tinggal di kampung halamannya, dan mulai sekarang hanya akan mengurus ibunya. ”

“Manusia menghabiskan seluruh masa hidupnya di hadapan patung Buddha memohon manfaat, ketenaran,namun akhirnya, mereka selalu ”Kekurangan satu batang dupa.””

Orang-orang jaman dulu berkata:”Bakti kepada orangtua adalah kebaikan di antara ratusan perbuatan baik,”

Bakti kepada orangtua memang bisa membawa Kebaikan, siapa yang memiliki orang tua, ingatlah: “Bakti kepada orang tua adalah kebaikan di antara ratusan perbuatan baik.”(eb)

Video Rekomendasi:

Apa Yang Dilakukan Bayi ini Membuat Aktris Tertegun dan Spider Man Kagum