Erabaru.net. Boleh dikata, saya harus berterima kasih kepada pria itu, jika dia tidak meninggalkan saya ketika itu, saya tidak dapat memutuskan untuk menetap di sini, dan fokus pada apa yang ingin saya lakukan.

Ketika dia mengatakan hal itu, Wang Xue-qing duduk di atas tempat tidur gantung sambil mendekap sebuah buku. Mentari yang hangat di musim gugur menyinarinya melalui celah-celah daun. Tatapan matanya juga tampak cerah seperti sinar mentari.

Dua tahun yang lalu, karena asmaranya yang kandas, gadis itu pergi ke sebuah desa kecil dan terpencil di Luoxi, distrik Luojiang, Provinsi Fujian, Tiongkok. Setelah menyewa gubuk lusuh, dia merombak sendiri gubuk itu menjadi “Pondok Cinderella” yang sekarang banyak dikunjungi oleh orang asing.

Wang Xueqing dilahirkan di daerah pedesaan di Kabupaten Hui’an, Provinsi Fujian. Ia adalah putri sulung dan punya 3 adik perempuan. Untuk membantu meringankan beban keluarga, dia sudah bekerja pada usia 17 tahun.

Pertama dia bekerja di pabrik elektronik di Shenzhen, kemudian pindah ke toko bunga di Xiamen. Namun, karakternya yang lugas membuatnya enggan berdebat dengan bosnya dan akhrinya dia mengundurkan diri. Apa yang mereka katakan itu jelas tidak benar, mengapa saya harus menurut, melakukan sesuatu yang salah ? kata Wang Xue-qing yang tetap pada pendiriannya sampai sekarang.

Sepenggal kehidupan yang suram di kotanya melahirkan pemikiran Wang Xue-qing untuk hidup bebas di pedesaan yang sejuk dan tentram. Dia berkali-kali mengunjungi desa dekat Quanzhou untuk melihat-lihat. Hanya saja ketika itu, dia belum memiliki keberanian untuk menapakkan kakinya di desa tersebut.

Februari dua tahun lalu, Wang Xue-qing berkenalan dengan seorang pria di kereta. Pria itu adalah seorang mahasiswa di universitas terkenal.

Wang Xue-qing yang tidak mengecap pendidikan formal di sekolah ini, dengan cepat tertarik dengan kharismanya, dan dengan sepenuh hati terbenam ke dalam pelukan si pria. Namun, kenyataannya sungguh sangat kejam, pihak keluarga si pria tidak setuju dengan hubungan mereka.

“Itu adalah cinta pertama saya yang tulus, namun harus berakhir hanya beberapa bulan setelah merasakan madunya asmara,” katanya. Wang Xue-qing yang sekarang tampak hambar.saat berbicara tentang masa lalunya.

Untuk mengobati luka hatinya, Wang Xue-qing datang sendiri ke desa terpencil di Luoxi itu. Dia menyewa sebuah rumah tua.

Sebelum ke sini, rumah ini sudah lebih dari 20 tahun tidak pernah dihuni, sekelilingnya berupa kandang domba, bahkan untuk ternak domba juga tidak cocok karena atapnya bocor saat hujan!

Wang Xueqing memutuskan untuk memperbaiki rumah tua itu dan mengubahnya menjadi model yang disukainya. Namun, dia hanya memiliki sekitar uang sekitar 20 juta rupiah, setelah membeli batu bata dan pasir, uangnya pun kempes.

Untuk mewujudkan istana impiannya, dia pun bekerja sendiri, memasang batu bata dan ubin, dan membangunnya secara bertahap.

Saat Tahun Baru, Wang Xue-qing tidak pulang untuk merayakannya bersama keluarga di rumah. Ketika orangtuanya menelepon, dia hanya mengatakan sedang beristirahat.

Padahal saat itu, dia sedang membuat cerobong perapian, semua pekerjaan yang menguras tenaga itu dikerjakan sendiri olehnya.

Celakanya, karena tidak punya pengalaman, cerobong yang dia bangun selama dua hari itu roboh, dia pun harus membangun kembali cerobong itu.

Wang Xue-qing benar-benar sedih mengalami hal itu, apalagi bayang-bayang atas kegagalan cintanya belum sepenuhnya sirna ketika itu !

Setelah lebih dari satu tahun bekerja keras, ‘Pondok Cinderella’ yang diimpikannya perlahan-lahan mulai terwujud.

“Cinderella” Wang Xue-qing itu akhirnya punya waktu sendiri untuk melakukan hal-hal yang disukainya.

Dia tidak mengecap Pendidikan secara formal di sekolah, hanya mengambil kelas melek huruf satu tahun di sekolah malam. Namun, ia suka belajar, terutama sastra klasik dalam maupun luar negeri.

Saya menghabiskan waktu tiga tahun membaca “Dream of the Red Mansions” tiga kali. Pertama kali belajar mengenal huruf, kedua adalah mengenal nama dalam tokoh cerita, karena ada begitu banyak nama dalam cerita tersebut, sedangkan yang ketiga baru tahu secara garis besar tentang makna cerita.

Ada beberapa penduduk di sekitar kediaman Wang Xue-qing, namun, tidak ada toko. Untuk membeli kebutuhan sehari-hari harus bersepeda selama 20 menit ke supermarket di kota.

Untuk itu, Wang Xue-qing menanam sayuran, dan sebagian besar sayuran sehari-hari bisa mencukupi dirinya sendiri.

Dia juga belajar fotografi tanpa guru dan meniru lukisan minyak di buku-buku yang dilihatnya, dia juga memotret foto dirinya sendiri. Dan tak disangka banyak yang takjub setelah diunggahnya ke internet.

Perlahan-lahan, dia pun memiliki reputasi tertentu. Banyak orang yang datang ke rumahnya untuk sekadar memotret, membuat sketsa, atau membeli kostum klasik karya Cinderella ini.

Kisah Cinderella juga telah menarik perhatian teman-teman dari luar negeri.

Oktober 2016 lalu, Suzake dari Perancis mengunjungi taman “Cinderella” Wang Xue-qing ditemani pacarnya.

Mereka berbincang-bincang sambil menikmati teh senja, lukisan, makanan, fotografi, Suzake tampak begitu akrab saat ngobrol bersamanya dan berdecak kagum melihat kediamannya, dan itu adalah rumah dongeng yang langka di dunia, katanya.

Wang Xue-qing terus merahasiakan kepada keluarga tentang keberadaan dirinya setelah dia menetap di sana.

Dia hanya mengatakan pada keluarganya bahwa dia bekerja di luar. Tapi suatu hari, salah seorang teman sekampungnya melihat dirinya di internet. Dan ayahnya pun menangis setelah mengetahui hal itu.

Sementara ibunya segera mengemasi tasnya, dan buru-buru berangkat ke tempat kediaman Wang Xue-qing, putrinya.

Setelah Pondok Cinderella cukup terkenal, banyak penduduk sekitar yang datang berkunjung. Namun, banyak dari mereka tidak dapat memahami gaya hidup Wang Xue-qing. Kenapa dia tidak bekerja ? Ini adalah pertanyaan yang kerap dilontarkan kepadanya.

Ada juga yang mulai sembarangan menduga : “Jangan-jangan dia bersembunyi di sini karena telah melakukan sesuatu yang memalukan di luar dan dugaan negatif lainnya”.

“Saya sekarang sudah terbiasa dengan gunjingan semacam itu. Terserah apa pun yang dikatakan mereka, saya hanya fokus pada pekerjaan saya, yang penting saya happy, itu saja,” kata Wang Xue-qing.

Banyak juga yang bertanya pada Wang Xue-qing : Apa tidak ada keinginan untuk mencari pendamping hidup ?

“Tidak banyak orang yang benar-benar memahami saya, apalagi orang yang bersedia tinggal bersama saya di sini,” jawabnya singkat.

Dia berencana akan memperluas areanya secara bertahap setelah kondisi ekonominya memungkinkan, dia akan memasukkan lebih banyak area di desa ke dalam bagian “Pondok Cinderella” nya.

“Namun, berhasil atau tidak, saya tetap akan berada di sini sampai ajal menjemput,” katanya.(jhn/yant)

Sumber: life.bldaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular