Erabaru.net. Di Afganistan, kaum wanita kebanyakan buta huruf dan dianggap sebagai warga kelas dua, tetapi ibu muda ini terlihat sangat berbeda. Bagaimana dia yang memiliki tiga anak dan miskin ini mewujudkan mimpinya?

Baru-baru ini, diantara mahasiswa yang ikut ujian di Nasir Khusraw Private University, tampak seorang peserta ujian yang unik. Dia duduk di lantai sambil memangku seorang bayi. Sementara ia fokus pada kertas ujian masuk sebuah perguruan tinggi swasta di Afganistan tersebut.

Awalnya, dia duduk di kursi untuk menjawab pertanyaan, namun, karena bayinya tengah sakit telinga dan tak berhenti menangis. Dia pun terpaksa duduk di lantai di balik sebuah kursi paling belakang di tempat terbuka, agar tidak mengganggu peserta lain. Sambil menenangkan bayinya, dia fokus pada soal ujian.

دشواری ها و امیدهای دانایی؛—————————-کودکی در آغوش، قلمی بر دست و آینده ای پر از بیم و امید در پیش…

Posted by Yahya Erfan on Sunday, March 18, 2018

Jahantab Ahmadi (25) adalah seorang ibu dari tiga anak, namun, karena anaknya yang paling kecil itu terinfeksi virus di telinganya, sehingga dia terpaksa menggendongnya sambil mengikuti ujian masuk universitas.

Ahmadi, yang penuh harapan akan masa depannya itu menikah setelah lulus dari sekolah menengah atas pada usia 18 tahun.

* Afghan farmer Jahantab Ahmadi sits on the ground, her baby resting in her lap, as she focuses on the university…

Posted by Women And Children on Monday, March 26, 2018

Selain membesarkan tiga anak, ia juga harus membantu bekerja di ladang dan menanam sejumlah kecil gandum untuk kelangsungan hidup keluarga. Namun, Ahmadi yang berasal dari keluarga tak mampu ini selalu bermimpi dan berharap suatu hari nanti punya kesempatan untuk kuliah.

Pemandangan itu membuat haru Profesor Yahya Erfan yang merupakan pengawas ujian. Kemudian sang profesor memotret Amadi dan mengunggahnya ke media social.

Potret Ahmadi menuai pujian karena di negaranya sebagian besar wanita buta huruf dan diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Gambar itu juga memicu luapan kekaguman banyak orang, tawaran bantuan keuangan untuk ibu tiga anak berusia 25 tahun tersebut pun berdatangan.

Selain itu juga, kampanye yang diluncurkan Asosiasi Pemuda Afghanistan di situs penggalangan dana GoFundMe berhasil mengumpulkan uang senilai 14 ribu dolar AS (sekitar 191 juta rupiah) bagi Jahantab Ahmadi. Dana tersebut cukup besar mengingat 39% warga Afghanistan hidup di bawah garis kemiskinan.

Kemudian, AFP juga mengunjungi tempat tinggal Ahmadi di daerah pedesaan terpencil di Ibu Kota Provinsi Daikundi, yang membuatnya tertegun, karena dia tidak tahu bahwa foto-fotonya telah beredar luas saat mengikuti ujian.

“Aku tak ingin studiku terputus. Aku ingin bekerja di luar rumah. Aku ingin menjadi dokter, seseorang yang melayani wanita di komunitas atau masyarakatku,”kata Ahmadi.

“Temanku di desa mengatakan, ‘kamu difoto oleh seseorang’. Tetapi, aku tidak sadar. Ia lalu berkata, ‘Kamu terlalu fokus pada soal ujian,’” kata perempuan itu seraya meniru ucapan temannya.

Selain itu, aktivis hak perempuan di Afghanistan, Zahra Yagana, langsung menghubungi Ahmadi dan meyakinkannya untuk pindah ke Ibu Kota Kabul guna menempuh pendidikan.

Ibu tiga orang anak itu harus berjuang keras demi menempuh ujian dari desanya menuju Nili, Ibu Kota Provinsi Daikundi.

Ahmadi menempuh perjalanan dua jam dengan jalan kaki melewati pegunungan dan sembilan jam perjalanan darat dengan menggunakan transportasi umum di jalanan yang bergelombang.

Yagana meminta bantuan pemda setempat, agar membantu Ahmadi menempuh studinya di sebuah universitas swasta di Ibukota Afganistan. Keluarga Ahmadi juga dipersilakan untuk tinggal bersama Yagana karena tingkat pendidikan di Daikundi cukup rendah.

“Kami akan mencarikan rumah untuknya di Kabul. Ada banyak teman yang sudah berjanji untuk membantunya. Kami akan membantu mencarikan pekerjaan bagi suaminya serta mengumpulkan uang untuk membiayai pendidikan anak-anaknya,” ucap Zahra Yagana.

Di Afghanistan, hanya 39% warga yang mengecap pendidikan, sementara tingkat pendidikan perempuan di sana bahkan jauh lebih rendah lagi.

“Aku tidak ingin ketinggalan,” kata Ahmadi.(jhn/yant)

life.bldaily.com/Jhn


Video Rekomendasi:

Share
Tag: Kategori: Headline

Video Popular