Erabaru.net. Beberapa waktu lalu terjadi tragedi mengenaskan di Chongqing, Tiongkok. Dimana sepasang suami istri yang bertengkar, sang istri yang tidak bisa mengendalikan emosinya dengan teganya menbrak suaminya dengan mobil hingga tewas.

Entah apa yang menyebabkan sepasang pasutri muda ini bertengkar hebat, dan suasana pertengkaran pun semakin lama semakin sengit tak terkendali. Sang istri pun keluar sambil membanting pintu, siap untuk pergi dengan mobilnya.

Melihat itu, suaminya pun mengejar dan menghadang di depan mobil istrinya, keduanya tidak ada yang mau mengalah, bersikukuh dengan pendiriannya,.

Melihat istrinya menghidupkan mesin mobil, suaminya membentangkan kedua lengan menghadang mobil istrinya agar tidak pergi.

Saat itu, entah apa yang diucapkan istrinya ketika suaminya dengan keras memukul kaca depan. Detik berikutnya, tiba-tiba, istrinya tancap gas dan mobil pun melaju kencang, terdengar suara benturan, suaminya yang menghadang di depan mobil terhempas keluar dan kepalanya membentur aspal.

Ketika 120 (nomor/kantor telepon darurat setempat) tiba di lokasi kejadian, suaminya sudah tewas terkapar. Setelah itu, isteri korban dibawa ke kantor polisi.

Sebuah sumber mengatakan bahwa saat itu istrinya tidak sadar sepenuhnya, dia hanya mengucapkan sepatah kata : semuanya tidak terjadi jika saja dia tidak seemosi itu…ya, jika waktu itu tidak dibakar emosi, jika keduanya bisa duduk bersama dan bicarakan baik-baik, jika saat itu bisa mengendalikan emosi, dan jika…..lantas apakah tragedi itu tidak akan terjadi ?

Sayangnya, tidak ada istilah jika/kalau seperti itu dalam kehidupan nyata.

Dr. Ronald, seorang pakar pengelolaan emosi-marah asal Amerika pernah berkata: “Hasil study menyebutkan bahwa marah bak amukan badai, waktu keberlangsungannya umumnya kurang dari 12 detik. Ketika emosi itu meledak, akan menghancurkan segalanya, tetapi setelah itu tenang kembali. Jadi kendalikan dengan baik 12 detik ini, dapat mengatasi emosi negatif. ”

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, berapa banyak orang yang tidak bisa melewati12 detik ini, karena tidak bisa mengendalikan emosi, hingga akhirnya hanya akan menyebabkan konsekuensi yang tidak dapat ditebus. Dan yang paling tersakiti adalah kerabat terdekat.

Tragedi di Chongqing ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa pendidikan yang meresap sampai ke sanubari adalah tidak meluapkan amarah pada orang-orang terdekat.

Sebelumnya pernah diberitakan, seorang ayah mencaci maki putrinya karena gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi,”Lebih baik mati saja kalau tidak lulus !”

Padahal itu hanyalah lelucon-akibat emosi yang lebih dominan daripada nalar. Tapi tak disangka, putrinya menganggapnya serius, lalu meninggalkan surat wasiat, “Maaf telah membuat ayah kecewa”, setelah itu mengakhiri hidupnya.

Sementara itu, pernah juga terjadi satu peristiwa yang mengerikan di sebuah supermarket di Thailand.

Anaknya kecanduan main game sepanjang hari, sang ayah yang tidak tahan lagi dengan kelakuannya yang semakin dalam terperosok itu pun mengambil pistol dan diletakkan di hadapan anaknya sambil mencaci-maki : “Benar-benar tidak berguna, lebih baik mati saja kamu.”

Dan tak disangka, di saat dia membalikkan badannya, putranya benar-benar mengambil pistol ayahnya lalu menembak dirinya hingga tewas di tempat.

Tak bisa dipungkiri bahwa ayah ini memang bermaksud baik, hanya saja caranya salah.

Bayangkan jika dia tidak menggunakan cara kasar seperti itu untuk menasehati anaknya, marah-marah dengan sumpah serapah yang menyakitkan perasaan, tapi meluangkan waktu sejenak, dan bicarakan baik-baik dengan suasana tenang, maka akhir dari peristiwa itu akan berbeda. Tragedi seperti itu banyak terjadi di belahan dunia lain, hanya saja tidak diekpos.

Sebenarnya, bukan hanya orangtua, sebagai anak juga ada kalanya tidak bisa menahan emosi terhadap orangtuanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, entah apakah Anda pernah berkata seperti ini pada kedua orangtua : “Bawel amat sih kalian ! Aku sudah dewasa, tidak perlu kalian ceramahi setiap hari. Kalau kuceritakan juga kalian tidak akan paham, sudahlah jangan banyak tanya.”

Melampiaskan emosi pada orang-orang terdekat, jelas-jelas kalau itu tidak benar, tapi tetap saja tidak dapat mengendalikan diri, hingga akhirnya, tidak hanya menyakiti orangtua, tetapi juga menyakiti diri sendiri.

Jadi, lain kali, ketika Anda ingin marah dengan orang-orang terdekat Anda, cobalah sampaikan dengan cara lain, dimulai dari hal-hal kecil ini, perlahan-lahan akan Anda temukan perubahannya.(jhn/yant)

Sumber: life.soundofhope.org

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular