Eabaru.net. Karena dekat dengan kota, desa tempat tinggal keluarga Joko telah berkembang maju dengan sangat baik dalam beberapa tahun terakhir ini. Usaha para petani pun berkembang dengan subur dan tampak maju, hanya keluarga Joko yang masih hidup dalam kemiskinan.

Saat penduduk desa lainnya sudah membangun rumah baru atau membeli mobil baru, keluarga Joko masih saja hidup serba kekurangan, bahkan tidak mampu membeli daging untuk makan keluarga!

Karena ayah Joko meninggalkan hutang yang banyak semasa hidupnya, sehingga keluarganya memiliki kesenjangan ekonomi yang sangat besar dengan keluarga lainnya di desa yang sama.

Segenap penduduk desa yang telah lanjut usia tahu persis dengan kelakukan buruk ayah Joko semasa mudanya, dan tidak pernah berubah sedikit pun ketika memasuki usia lanjut.

Di usia senjanya, dia masih saja berjudi layaknya orang-orang berduit, akhirnya hartanya ludes di meja judi, hingga meninggalkan banyak utang, dan karena stres dikejar-kejar utang, akhirnya dia mengakhiri hidupnya, namun, kepergiannya justru membuat sekeluarga Joko menderita.

Setelah ayah Joko tiada, para tukang tagih membawa sekelompok orang ke rumah keluarga Joko untuk menagih hutang.

Para tukang tagih ini mengobrak-abrik seisi rumah Joko kalau tidak memberikan uang, mereka bahkan mengancam anak istrinya, memaksanya untuk membayar utang.

Akhirnya, mau tidak mau Joko mengambil semua tabungannya untuk membayar utang ayahnya, tetapi masih jauh dari cukup. Kemudian mereka membuat surat pernyataan utang atas sisa utang yang belum lunas. Sejak itu, kehidupan sekeluarga Joko pun jatuh dalam jurang kesengsaraan .

Joko yang bekerja sebagai sopir taksi dengan penghasilan tidak seberapa itu, selain biaya sekolah kedua anaknya setiap bulan, sisa uangnya hanya cukup untuk makan keluarga sehari-hari.

Sejak menanggung beban utang almarhum ayahnya, penghasilanya setiap bulan semuanya diserahkan kepada penagih utang.

Untungnya, Joko tidak seperti ayahnya yang seorang penjudi, dia sosok pekerja keras dan tekun, saat menikah juga mengandalkan usahanya sendiri. Joko dikaruniai dua orang anak dari hasil perkawinannya, putri sulung berusia 10 tahun, dan seorang putra yang baru berusia 8 tahun.

Malang sekali kedua anak Joko yang masih dalam tahap pertumbuhan ini, karena himpitan ekonomi keluarga, sehingga mereka tampak kurus, untungnya kedua anaknya cukup sehat, dan mereka juga bisa memaklumi kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Selain itu, Joko cukup terhibur juga dengan prestasi kedua anaknya di sekolah, yang tidak mengecewakan.

Suatu hari, ketika Iwan, putra Joko pulang sekolah, dia melihat seekor anak anjing yang terluka di pinggir jalan. Iwan melihat seorang pria dewasa ingin membunuhnya, kemudian mungkin akan dibawa pulang dan dibuat santapan olehnya.

Iwan yang tak tega kemudian meminta pria dewasa itu untuk melepaskan anak anjing tersebut, namun pria itu tidak menggubrisnya, dan anak itu pun seketika menangis keras di tempat.

Mendengar tangisan Iwan, orang-orang pun berdatangan, karena takut dikira menindas anak kecil, pria itu pun menyerahkan anak anjing itu ke Iwan.

Namun, setelah Iwan membawa pulang anak anjing itu, Joko yang melihatnya kemudian menyuruh anaknya untuk membuangnya, tetapi iwan memohon pada ayahnya untuk tidak membuangnya, karena ia ingin memelihara anak anjing itu.

Namun, dengan marah Joko membentaknya : “Untuk makan saja kita sudah susah, apalagi memelihara anjing lagi!”

Iwan pun menangis mendengar bentakan ayahnya, kemudian dia sambail menangis berkata pada ayahnya,” Iwan akan bagikan jatah makan Iwan untuknya, tidak akan mengambil lebih makanan di rumah … ”

Melihat anaknya menangis seperti itu, Andini, sang ibu pun marah pada suaminya, dan berkata “Ngapain teriak-teriak, kondisi kita seperti ini juga gara-gara ayahmu, kalau bukan karena ayahmu yang penjudi itu, mungkinkah kita tidak akan menderita seperti ini !”

Usai menumpahkan kekesalannya, Andini pun menangis sedih.

Melihat pertengkaran kedua orangtuanya, Rosa pun menimpali : “Ayah ibu sudahlah, jangan bertengkar lagi, dan Iwan kamu juga jangan menangis lagi, nanti kalau masak, tambahkan saja kuahnya untuk makan anjing itu, meskipun dia hewan juga berhak untuk hidup, lagipula kita juga tidak boleh melihatnya mati kelaparan, bukan! ”

Melihat suasana itu, akhirnya diam-diam Joko pun menerima usulan Rosa, putrinya. Sejak itu, keluarga yang hidup serba kekurangan itu pun bertambah satu anggota keluarga baru.

Di bawah perawatan Iwan yang telaten, anak anjing itu pun tumbuh sehat, setiap hari bermain bersama kedua kakak-beradik Iwan dan Rosa, dan seiring berjalannya waktu, kedua kakak beradik itu pun semakin menyukai anak anjing yang lucu itu.

Tiga bulan kemudian, pada suatu hari seseorang mengendarai mobil dan berhenti di rumah Joko. Saat melihat seekor anjing di halaman, tamu itu dengan akrabnya menghampiri anjing itu dan menggendongnya, sementara anak anjing itu juga tampaknya sangat familiar dengannya.

Melihat keakraban antara si tamu dan anak anjing itu, Joko pun bisa menebak orang itu adalah pemilik dari anak anjing tersebut !

Benar saja, tamu itu pun menyebutkan identitasnya, dan sekarang dia akan membawa pulang anak anjing itu.

Sebagai tanda ucapan terima kasih, tamu yang tampaknya dari keluarga berada itu memberikan sejumlah uang pada Joko. Namun, Joko tidak langsung menerima uangnya, dan berkata kepadanya : “Anak anjing itu dipungut oleh anak saya, dan sehari-hari bersama dengan kakaknya merawat dan memberi makan.”

“ Saya sendiri tidak keberatan kalau Anda ingin membawanya pulang, karena itu milik Anda, tapi bisakah tunggu sebentar, sampai anak saya pulang sekolah, supaya mereka tahu dan melihat anjing itu untuk terakhir kalinya. Kalau tidak, nanti saya tidak bisa menjelaskannya saat dia pulang melihat anak anjingnya sudah tidak ada di rumah.”

Tamu yang tampak berwibawa itu menganggukkan kepala sambil tersenyum mendengar penjelasan Joko.

Iwan pun meneteskan air mata sedih ketika pulang sekolah mengetahui anak anjing itu akan dibawa pergi oleh pemiliknya.

Sementara anak anjing itu juga sepertinya berat meninggalkan Iwan dan Rosa saat melihat kedua kakak beradik menghampirinya.

Melihat suasana itu, sang tamu tahu kalau anjingnya telah sangat akrab dan sudah terjalin perasaan batin satu sama lain. Namun, sang tamu tetap membawa pergi anak anjing itu, dan sebelum pergi, dia meninggalkan sejumlah uang dan diserahkan pada Joko.

Tamu itu memberikan 50 juta rupiah pada Joko, dan itu adalah angka yang tidak sedikit bagi sekeluarga Joko yang selama ini hidup dalam keprihatinan. Namun, melihat kedua anaknya sedih, Joko tampak muram dan tidak bisa tersenyum meski memegang sekantong uang di tangannya.

Tiga hari kemudian, pemilik anjing itu berkunjung lagi ke rumah Joko. Dia mengatakan bahwa dia akan ke luar kota selama beberapa hari. Untuk itu, dia menitipkan anjingnya, karena merasa anak-anak Joko telah merawat anjingnya dengan sangat baik.

Bukan main senangnya kakak beradik itu ketika melihat anjing itu kembali lagi ke rumahnya, dan tanpa banyak pikir lagi mereka langsung mengiyakannya, bahwa mereka pasti akan merawat anjing itu dengan sebaik-baiknya.

Setelah itu, pemilik anjing mengajak Joko untuk bicara sebentar. Dia mengatakan bahwa dia akan membantu melunasi hutang keluarganya. Joko bisa pelan-pelan mengembalikannya kapan saja. Selain itu, dia juga akan membangun sebuah pabrik di desa ini, meminta bantuan Joko mencari tenaga kerja dari penduduk sekitar.

Mendengar itu, Joko langsung mengangguk sambil tersenyum bahagia, dan sampai tidak bisa berkata sepatah kata pun saking semangatnya.

Dua tahun kemudian, Joko telah melunasi utangnya, berkat bantuan pemilik anjing itu. Joko pun sudah bisa hidup nyaman dan menjadi salah satu penduduk terkaya di desanya.

Sementara itu, Iwan dan Rosa terus memelihara anjing putih yang telah membawa rezeki dan berkah bagi sekeluarganya !

Tak disangka bukan, satu tindakan baik Iwan, anaknya telah mengubah roda hidup sekeluarga Joko.
Selalu menanam kebaikan demi berkah baik yang tak terduga di masa depan.(jhn/yant)

Sumber: life.bldaily.com

pakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular