Erabaru.net. Seingatku, Ibu selalu memasak untuk kami. Namun yang ku kenang adalah suatu malam saat aku berusia 8 tahun.

Ayahku pulang ke rumah setelah lelah bekerja seharian. Ibu sedang menyiapkan makan malam kami saat Ayah bergabung denganku di meja makan.
Lalu Ibu meletakkan sepiring selai dan roti bakar yang hangus di depan Ayahku.
Bukan hangus sedikit, namun benar-benar roti panggang yang hangus.

Aku menanti adakah yang memperhatikan roti panggang yang hangus dan berkomentar.
Tapi Ayah tetap makan roti panggangnya dan bertanya padaku apakah aku sudah mengerjakan PR dan bagaimana hariku.

Aku tidak ingat jawabanku kepada Ayah malam itu, tetapi yang ku ingat adalah mendengar Ibu meminta maaf kepada Ayah karena roti panggang yang hangus.

Dan tidak akan pernah ku lupakan apa yang dikatakan Ayah…
“Manisku, aku suka roti panggang yang hangus. Terima kasih!”
Malam itu, aku beranjak mengucapkan selamat malam pada Ayah dan bertanya padanya benarkah ia sungguh menyukai roti panggang yang hangus.

Ayah memeluk bahuku dan berkata, “Ibumu bekerja keras seharian dan kelelahan.”
“Lagi pula, roti panggang yang hangus tidak akan menyakiti siapa pun, tetapi tahukah kamu bahwa kata-kata yang kasar akan menyakiti seseorang?”

Lalu Ayah berkata, “Kamu tahu bahwa hidup ini penuh dengan hal yang tidak sempurna dan orang yang tidak sempurna…”

Aku bukanlah yang terbaik dalam segala hal, dan aku lupa hari ulang tahun dan hari perayaan seperti manusia lainnya.

Tetapi yang telah ku pelajari selama bertahun-tahun adalah bahwa belajar untuk saling menerima kesalahan dan perbedaan adalah salah satu kunci terpenting untuk menciptakan hubungan yang sehat, tambah erat, dan langgeng.

“Hidup terlalu singkat untuk memicu penyesalan.”

“Cintailah orang yang berbuat baik terhadap Anda dan berbelas kasihlah kepada orang yang tidak berbuat baik terhadap Anda.” (vv/an)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular