Erabaru.net. Apa lagi yang lebih memilukan daripada kematian pasangan hidup di usia setengah baya? Eva yang kini berusia 30 tahun, ditinggal pergi suaminya enam bulan yang lalu karena sakit, meninggalkan dia dan anaknya yang baru berusia tiga tahun.

Ia yang sangat mencintai mendiang suaminya seakan hatinya ikut dibawa pergi seiring dengan kematian Samuel, suaminya.

Jika bukan karena anaknya masih kecil, ingin rasanya Eva pergi bersama suaminya.

Anaknya yang masih kecil, tidak mengerti apa yang disebut “kematian”. Dia hanya bertanya berulang-ulang.

“Mama, papa kok belum pulang juga ya?”

“Ma, papa kemana sih ?”

Mendengar pertanyaan Sandy, putranya yang polos, Eva pun terpaksa menciptakan kebohongan yang indah untuk putranya.

“Papa pergi ke tempat yang sangat jauh nak. Papa akan pulang nanti kalau Sandy sudah berusia 18 tahun,” sahut Eva kepada anak semata wayangnya suatu ketika.

Sandy memang anak yang polos, selalu begitu mudahnya dibohongi oleh mamanya.

Bocah cilik yang baru berusia tiga tahun itu dengan polosnya berkata : “Kalau begitu aku mau makan yang banyak, supaya besok aku sudah berusia 18 tahun, dan Papa akan pulang.”

Mendengar kata-kata polos anaknya, Eva pun tak kuasa menahan kepedihannya dan memeluk Sandy sambil menahan isak tangisnya.

Ilustrasi.

Yang paling sedih dengan kepergian suaminya, tentu saja ibu mertuanya yang tak lain adalah mamanya Samuel.

Hal yang paling menyedihkan di dunia itu bukanlah hidup atau mati, tetapi “Orang yang berambut putih mengantar orang berambut hitam”, – Kiasan orangtua yang mengantar anak ke liang lahat.

Semenjak kepergian Samuel, ibu mertuanya yang memang tidak banyak bicara, menjadi semakin jarang bicara lagi, mereka kerap saling memunggungi.

Ibu mertuanya selalu berdiri dengan tatapan kosong di arah di mana Samuel sering pulang ke rumah, berangan-angan Samuel, putra bungsunya itu bisa segera kembali.

Eva bisa merasakan kesedihan ibu mertuanya, dan untuk meringangkan kesedihan mereka, seusai pulang kerja, Eva selalu membawa Sandy, putranya bersepeda sekitar dua puluh menit ke rumah bapak-ibu mertuanya, berkumpul sejenak bersama mereka.

Hanya setelah melihat Sandy, cucunya, bapak ibu mertuanya baru merasa hidup itu bermakna lagi.

Orang yang sudah pergi takkan pernah kembali lagi, tak ada yang lebih menenangkan batin selain mengikhlaskan kepergiannya, sementara yang masih sehat (hidup), harus kita hargai, sesedih apa pun, hidup tetap harus berlanjut, bukan ?

Daripada kerinduan semu yang tak berujung pada almarhum, lebih baik kerinduan itu dicurahkan pada mereka yang masih sehat/hidup di dunia..

Ilustrasi.

Sejak kematian suaminya, sudah lama rasanya Eva tidak mengajak anaknya jalan-jalan lagi di mall.

Menjelang musim panas yang akan segera tiba, Eva pun mengajak Sandy, putranya ke mall, selain jalan-jalan sejenak sekaligus membeli beberapa potong pakaian musim panas anaknya yang sudah tak muat lagi.

Pada hari itu, Eva juga melihat sandal ibu mertuanya sudah tak layak pakai, begitu juga dengan pakaian bapak mertuanya yang hanya itu-itu saja yang dipakainya secara bergantian, jadi Eva sekalian membelikan keperluan mereka masing-masing.

Ilustrasi.

Mungkin karena perubahan di rumah, Sandy yang masih sangat belia itu tiba-tiba saja berubah drastis, sikapnya menjadi jauh lebih dewasa, tidak lagi merengek minta dibelikan ini-itu sejak tiba di mall, sebaliknya ia selalu bersikap tenang sambil menemaninya mamanya belanja

Eva menyuruh Sandy duduk manis di bangku panjang, sementara dia memilih-milh sandal atau sepatu yang cocok untuk mertuanya.

Namun, tanpa Eva sadari, Sandy yang tadinya duduk manis di bangku panjang toko, tiba-tiba berlari keluar dan berteriak, “Papa, papa!”

Eva segera melepaskan sandalnya dan berlari keluar mengejar anaknya..

Eva pun tertegun saat melihat wajah pria yang disangka papa oleh anaknya, dia memang mirip dengan mendiang suaminya.

Eva segera menggendong anaknya, dan terus meminta maaf pada seorang pria yang berjalan menghampirinya, “Maaf anak-anak masih kecil, salah memanggil orang,” kata Eva pada pria tak dikenal itu.

Namun, anaknya menangis sambil terus meraung memanggil papa pada pria itu, dan tangisnya semakin keras saat Eva akan membawanya pergi.

“Itu papa, papa!”Teriaknya sambil terisak.

Melihat suasana itu, si pria kemudian mencoba membelai kepala anak itu dan menggendongnya sambil berkata lembut pada Eva : “Aneh juga, saya seakan juga merasa sudah biasa saat memandang anak ini !”

“Anak yang sangat lucu, memanggil papa pada saya, tampaknya saya berjodoh dengan anak manis ini. Bagaimana kalau anggap saja saya sebagai papa angkatnya, itu juga jika anda tidak keberatan,” kata pria itu sambil tersenyum ramah pada Eva.

“Kantor saya di sekitar mall ini, lain kali kalau ke mall kalian bisa mencariku untuk sekadar bermain,“ tambahnya.

Eva berulang kali mengucapkan terima kasih kepada pria itu, dan mungkin memang anak itu bisa mengerti apa yang dikatakan oleh orang dewasa, sehingga dia dengan cerianya bermanja-manja dalam pelukan si pria.

Tak lama kemudian Eva dan pria tak dikenal itu pun mulai ngobrol. Pria yang bernama Chandra itu menceritakan secara singkat bahwa dia baru dipindahkan ke kantor barunya di mall ini.

Eva merasa seakan sangat familiar dengan wajah pria yang baru dikenalnya ini, namun, untuk sesaat dia tidak ingat siapa sosok pria itu.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, Eva merasa sudah waktunya untuk pulang, sebelum pergi, anak itu tampaknya merasa berat berpisah dengan Chandra, yang keliru dianggap dan dipanggilnya papa.

Dia berseru dengan manis “Papa, sampai ketemu lagi,” teriaknya semangat, membuat Eva serba salah, entah harus tertawa bahagia atau menangis sedih.

Sesampainya di rumah ibu mertuanya, Eva pun menceritakan kejadian yang dianggapnya lelucon menggelikan itu pada ibu mertuanya. Tapi entah mengapa ibu mertuanya seketika terdiam usai mendengar cerita Eva.

Beberapa saat kemudian, ibu mertuanya tampak penasaran dan bertanya : “Eva, tadi kamu bilang dia pindahan dari kota XX ya ?”

“Ya, sepertinya memang begitu, dia bilang dari kota XX,” sahut Eva.

“Apa mungkin itu hanya kebetulan saja!” gumam ibu mertuanya sambil merenung.

Kemudian, ibu mertuanya menceritakan sebuah rahasia besar tiga puluh tahun yang lalu.

Ternyata 30 tahun yang lalu, ibu mertua melahirkan sepasang anak kembar. Saat itu ibu mertuanya mengalami kesulitan saat persalinan.

Dokter yang menangani persalinannya ketika itu berusaha keras selama dua hari berturut-turut baru berhasil dengan lancar membantunya melahirkan sepasang anak kembar.

Pada saat itu, dokter wanita yang telah bertahun-tahun menikah itu belum dikaruniai seorang anak pun. Ketika melihat ibu mertuanya melahirkan dua anak laki-laki yang manis, dia pun mencoba memohon pada ibu mertuanya untuk memberikan satu anaknya kepadanya.

Ketika itu, keluarga ibu mertuanya sangat miskin, dan kebetulan saat itu, ibu mertuanya juga sedang mencemaskan kebutuhan hidup ketiga anaknya.

Dokter wanita itu memiliki kondisi ekonomi yang baik sekaligus penyelamatnya, akhirnya dengan pertimbangan matang, ibu mertuanya pun setuju memberikan salah satu anak kembarnya kepada dokter wanita itu.

Ilustrasi.

Waktu bergulir dengan cepat, tak terasa tiga puluh tahun pun berlalu. Anak yang diberikannya ketika itu kini telah tumbuh menjadi sesosok pria yang tampan.

Karena penasaran, Kedua mertuanya kemudian meminta Eva mengajaknya menemui pria itu di mal.

Entah kebetulan atau memang berjodoh, karena di perjalanan mereka bertemu dengan pria yang juga ingin menemui Eva.

Pria yang tak lain adalah Chandra itu kemudian menceritakan bahwa ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya saat memikirkan kejadian di mall. Selain itu, sebelum pergi, ibunya juga menceritakan tentang jati dirinya yang sebenarnya, dan menyuruhnya mencari keluarga kandungnya setelah tiba di kota itu.

Kejadian yang dialaminya juga membuatnya merasa bahwa semua itu terlalu kebetulan, dan dia pun bertanya dalam hati, mungkinkah Sandy, putra Eva yang ditemuinya itu adalah salah satu keluarganya.

Bapak-ibu mertua Eva pun seketika menangis terisak ketika melihat Chandra, pria yang tak lain adalah anak kandungnya yang diberikannya kepada dokter wanita pada 30 tahu silam.

Tuhan itu memang Maha Adil. Dia telah mengambil ayah dari anak itu, tetapi memberikannya seorang “ayah” lain dengan cara-Nya seperti itu.

Dan yang paling bahagia tentu saja bocah itu, semoga dia bisa tumbuh besar dan sehat dibawah curahan kasih sayang segenap keluarga, dan semoga sang paman (Chandra) juga dapat mencurahkan cinta dan kasih sayangnya seperti almarhum papanya si bocah.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular