Erabaru.net. Di antara beragam ras di dunia, eksistensi Bangsa Yahudi memang benar-benar unik. Mereka dikenal sebagai “pengusaha/pedagang pertama di dunia”. Mereka bisa tetap kaya selama tiga generasi berturut-turut. Kemampuan orang Yahudi meraup pundit-pundi uang memang sangat dikagumi semua orang.

Ada pepatah yang berbunyi seperti ini : “Tidak ada orang miskin sejak lahir juga tidak ada orang kaya sejak dilahirkan, namun, kemiskinan dapat diturunkan”.

” Financial Quotient – Kecerdasan Keuangan” adalah standar atau ukuran kepintaran yang digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang dalam mengatur dan mengelola keuangannya, kepandaian untuk menghasilkan uang dan mengola uang dan aset tersebut sehingga dapat berlipat ganda secara maksimal dalam jangka waktu sesingkat mungkin, serta mempertahankan aset tersebut.

Ilustrasi. (Internet)

Semakin tinggi ‘Kecerdasan Keuangan’ seseorang, semakin mudah orang tersebut untuk menjadi kaya, sangat kaya, dan super kaya (meningkatkan jumlah uang).

Oleh karena itu, semakin banyak orang yang menganggap bahwa “Kecerdasan Keuangan” sebagai kunci menuju kesuksesan dalam hidup.

Sementara itu, “Pendidikan tentang kecerdasan keuangan” adalah untuk memecahkan dua masalah utama yang dihadapi umat manusia terhadap uang : Ketakutan dan keserakahan.

Demi menstabilkan ilusi kehidupan, banyak orang menjadi budak uang. Masalah uang adalah salah satu dari lima masalah utama dalam kehidupan.

Bangsa Yahudi telah memikirkan hal terkait uang selama ribuan tahun silam. Sementara di saat negara-negara lain membangun negara dan menciptakan sejarah, orang-orang Yahudi terus ditindas (Ribuan tahun silam-Redaksi)

Mereka terusir ke Jewish Quarter (Yerusalem) dan “Ghetto” (istilah untuk tempat tinggal warga Yahudi pada abad ke-16 dan ke-17).

Ghetto sering dikaitkan sebagai perlambangan diskriminasi. Undang-undang melarang mereka memiliki tanah, tidak boleh terlibat dalam manufaktur, dan mereka dapat diusir kapan saja. Sebuah bangsa yang bisa saja berada di pengasingan setiap saat, lantas apa yang bisa mereka andalkan ?

Selain Tuhan, adalah uang! Orang-orang Yahudi berpikir bahwa uang adalah alat untuk kesejahteraan manusia, adalah kunci yang dapat memberikan peluang yang baik bagi orang-orang.

Sisi baik atau buruknya uang itu sendiri tergantung pada tujuan dan nilai-nilai orang yang memilikinya.

Bagi orang Yahudi, uang hanyalah sarana, bukan tujuan. Sementara dari sisi (sifat) manusia itu sendiri, dia tidak dikendalikan oleh uang, sebaliknya harus mengendalikan uang. Manusia adalah salah satu penguasa paling kuat di muka Bumi.

Ilustrasi. (Internet)

Orang Yahudi percaya bahwa jika seseorang ingin mempertahankan “jalan moderat” dalam hidupnya, ia juga harus menjaga keseimbangan terhadap uang. Menurut catatan dalam Alkitab Kejadian, Tuhan menciptakan segalanya untuk umat manusia, memberikan kepada umat manusia untuk mengatur semua yang diciptakan-Nya di Bumi.

Uang itu terletak di bagian terendah yang digunakan oleh manusia. Orang Yahudi percaya bahwa selama mereka dapat menggunakan hukum untuk membuat semua itu berjalan teratur, mereka dapat dengan bebas mengontrol kekayaan dan kebahagiaannya.

Ada orang yang terlalu mengejar uang, juga ada yang memandang sebelah mata pada uang. Sikap ini tidaklah benar.

Karena orang Yahudi tahu bagaimana saling membantu dan mengintegrasikan sumber daya, jadi mereka memiliki banyak maksim tentang uang, dan penuh dengan kebijaksanaan.

Orang-orang Yahudi tidak mempertimbangkan arti moral dari uang, tidak peduli kaya atau miskin, mereka menganggap uang hanyalah sarana manusia, tak lebih.

Namun, bagaimana pun, orang-orang Yahudi berpikir bahwa pemikiran mulia tanpa uang itu sangat riskan. Perbedaan terbesar antara si kaya dan si miskin terutama terletak pada pengetahuan tentang uang.

Pandangan orang miskin yang dangkal umumnya dikarenakan kurangnya persediaan material, semua energi dan sumber daya hanya untuk mendapatkan sumber daya hidup paling dasar, dan fokusnya terlalu sempit.

Akibatnya, banyak peluang penting yang terlewatkan : Belajar berinvestasi, dan mencoba memasuki area baru dan lingkaran (lingkungan pergaulan) yang berbeda untuk mendapatkan informasi yang lebih efisien dan cara-cara untuk meningkatkan kekayaan.

Inilah yang disebut “efek Matius” dalam ilmu ekonomi, kalau tidak, maka hasil akhirnya adalah “orang kaya semakin kaya, sementara orang miskin menjadi lebih miskin”.

Untuk mengembangkan kecerdasan keuangan seseorang, pertama-tama harus membuatnya memiliki “pikiran sebagai sosok orang kaya”, belajar mengatasi kesulitan, dan belajar untuk keluar dari banyak rintangan dan bayang-bayang.

Ilustrasi. (Internet)

Tujuan mendasar dari “Pendidikan kecerdasan keuangan” agar anak-anak mengetahui tentang kekayaan, baik materi maupun rohani, memahami kekayaan, mengelola kekayaan, dan menciptakan kekayaan, semua ini harus dikembangkan sejak sekolah dasar, sehingga orang-orang dapat memperoleh kebebasan finansial, mengurangi pembandingan secara keuangan,.

“Pendidikan tentang kecerdasan keuangan”juga untuk memecahkan dua masalah utama yang dihadapi umat manusia terhadap uang yakni ketakutan dan keserakahan, serta membuat orang-orang mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya dan pembangunan yang berkelanjutan.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

<iframe width=”560″ height=”315″ src=”http://video.erabaru.net/static/embed/e10/747b79.html” frameborder=”0″ allowfullscreen seamless></iframe>

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular