Erabaru.net. Pak Ma punya dua anak laki-laki dan masing-masing telah memiliki rumah di kota. Tahun-tahun sebelumnya, fisik Pak Ma masih dalam keadaan sehat, dan tinggal di desa, menikmati hidupnya di sana. Tapi sekarang, di usianya yang sudah tua, Pak Ma merasa tak sanggup lagi tinggal sendirian di desa, jadi dia berencana tinggal di rumah anaknya di kota.

Pak Ma sengaja memilih akhir pekan ke rumah putranya, karena menurutnya, anaknya akan berada di rumah dan lebih nyaman berangkat pada akhir pekan.

Sesampainya di rumah putra sulungnya, Pak Ma disambut dengan hangat oleh putra sulungnya ini.

“Ayah, sering-seringlah ke sini kalau sempat, aku sangat merindukan ayah, kita punya rumah yang luas, ayah bisa tinggal di sini,”kata putra sulungnya basa basi.

Mendengar kata-kata manis anaknya, Pak Ma pun berpikir bahwa putra sulungnya ini ternyata anak yang soleh, menawarkan kepadanya untuk tinggal di rumahnya.

“Ya, kalau begitu, ayah akan tinggal di rumahmu saja,” kata Pak Ma.

Mendengar sahutan pasti ayahnya, muka putra sulungnya pun tiba-tiba berubah dan berkata, “Jangan…ayah, aku hanya asal bicara saja, jangan anggap serius, lagipula kami tidak bisa merawat ayah disini, kami semua sibuk dengan pekerjaan.”

Namun, Pak Ma bersikeras tidak mau pergi. Putra sulungnya pun menjadi kesal.

“Kenapa sih ayah begitu keras kepala, sebaiknya ayah pulang saja, atau tinggal di rumah adik saja, bukankah ayah paling menyayanginya sejak kecil, jadi suruh saja dia yang merawat ayah!”Cetus putra sulungnya kesal.

Pak Ma tersentak seketika dan hatinya terasa sakit mendengar bentakan putra sulungnya yang mengusirnya dengan nada kasar.

Kalau dipaksakan tetap tinggal di sana, maka dipastikan terjadi gesekan pada hari-hari mendatang. Akhirnya, Pak Ma pun bersiap pergi dari rumah putra sulungnya.

Sebelum Pak Ma pergi putra sulungnya memberi uang satu juta rupiah kepadanya dan berkata : “Ayah, satu juta rupiah ini untuk ayah, ambillah, jangan terlalu boros ya…Lihat betapa berbaktinya saya sama ayah,” kata putra sulungnya basa basi.

Pak Ma hanya tersenyum dingin mendengar basa basi putranya, kemudian dia pergi ke rumah putra bungsunya.

Meskipun putra bungsunya tinggal di kota, tapi kondisi ekonominya juga cukup memprihatinkan, rumahnya kecil sederhana hanya dilengkapi dengan satu kamar tidur dan satu ruang tamu.

Karena Pak Ma tahu dia tidak punya tempat untuk tidur, jadi dia pun tidak mau menyusahkan putra bungsunya.

Tapi tak disangka, putra bungsunya bersikeras meminta Pak Ma untuk tinggal di rumahnya dan berkata, “Ayah, tinggallah di sini, aku akan menjadi anak durhaka kalau membiarkan ayah tinggal sendirian di kampung.”

“Ayah tinggal bersama kami, ayah bisa tidur di kamar kami, sementara aku, istri dan anak-anak bisa tinggal di ruang tamu, tidak apa-apa ayah, semua itu tidak menjadi masalah bagi kami, ayah tenang saja ! “kata putra bungsunya tulus.

Pak Ma yang tak tega, akhirnya tinggal di rumah putra bungsunya.

Putra bungsu Pak Ma tercengang setelah kurang lebih setengah tahun merawat ayahnya di rumah, karena sebuah kejutan tiba-tiba menghampirinya.

Malam itu, Pak Ma mengambil buku tabungannya dan berkata kepada putra bungsunya, “Di sini ada sekitar 1,7 miliar rupiah. Pakailah uang ini untuk membeli satu unit rumah yang lebih besar dan nyaman untuk keluargamu. Sisa uangnya, kamu gunakanlah untuk sekeluarga, ayah sudah tua, tidak membutuhkan uang begitu banyak, anggap saja itu semua sebagai titipan ayah untukmu.”(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular