Buku ini terbagi menjadi dua bagian yaitu awal dan akhir, yakni bagian awal: Tujuan Terakhir Komunisme (Bab tentang Tiongkok); bagian akhir: Tujuan Terakhir Komunisme (Bab tentang Dunia)

Dajiyuan (Epoch Times) pertama-tama akan menerbitkan bagian awal yakni Bab tentangTiongkok, bagian akhir tidak lama setelahnya akan dipublikasikan, tetaplah bersama kami.

Dengan hormat mempersembahkan buku ini kepada seluruh manusia yang dengan tulus mengharapkan peradaban bangsa Tionghoa berhati bajik, makmur dan kuat!

BACA JUGA : Editorial“Sembilan Komentar”: Tujuan Terakhir Komunisme

Bab 1. Negara yang Menjadi Pusat  Kebudayaan Warisan Dewata

Daftar Isi:

  1. Negara yang Menjadi Pusat
  2. Kebudayaan Warisan Dewata
  3. Struktur Tatanan Ribuan Tahun
  4. Kelapangan dada, Toleransi dan Pengampunan
  5. Sejarah Kalpa Tidak Musnah

Kesimpulan

*****

Sejarah lima ribu tahun bagai arus pasang dan surut di sungai Yangtze [Chang Jiang], peradaban besar yang dulunya sangat megah semuanya telah buyar bagaikan debu dan asap, namun hanya peradaban bangsa Tionghoa saja yang terwariskan tanpa henti.

Tiongkok dulunya pernah mencapai puncak kejayaan maha megah dengan berbagai dinasti dari berbagai bangsa, dihormati sebagai “Negara Besar Dinasti Langit”, dengan kebudayaan yang secara mendalam mempengaruhi seluruh Asia Timur, dan telah terbentuk lingkaran besar kebudayaan Tionghoa. Dengan dibukanya Jalur Sutra dan Empat Penemuan Besar [Kertas, Percetakan, Kompas, Mesiu] yang menyebar ke Barat — telah mendorong maju peradaban dunia, dan telah memberi konstribusi terhadap Abad Renaisans Eropa dan penemuan daratan [benua] baru.

Lukisan pemandangan tinta Tiongkok oleh Sun Mingguo / Epoch Times

Bangsa Tionghoa juga telah mengalami banyak sekali kesulitan. Terutama di zaman modern, persoalan internal dan agresi dari eksternal terus berlangsung tanpa akhir.

Pertengahan abad ke 20, setelah hantu dari Barat partai komunis merebut kekuasaan, terjadi pembantaian rakyat – keruntuhan kebudayaan – perusakan lingkungan, sehingga membuat gunung dan sungai berubah warna, para makhluk hidup menderita, peradaban yang dulunya maha megah tertutup bayangan hitam, hampir hancur tanpa sisa.

Mengapa setelah partai komunis memperoleh kekuasaan, masih tanpa henti meluncurkan berbagai macam kampanye, dan bahkan meluncurkan Revolusi Kebudayaan “yang tidak pernah ada dalam sejarah”?

Mengapa partai komunis Tiongkok harus memperlakukan orang Tiongkok dan kebudayaan Tiongkok sebagai musuh, bahkan penuh nafsu setelah menghabisi barulah puas?

Mengapa dalam satu abad terakhir, Tiongkok menjadi negara yang dikendalikan paling ketat – yang dianiaya paling berat oleh roh jahat komunis?

Buku ini untuk pertama kalinya mengungkap, bahwa paham komunis benar-benar bukan sebuah arus pemikiran – teori, atau pun sebuah percobaan gagal saat umat manusia mencari jalan keluar. Ia adalah iblis, juga dikenal sebagai roh jahat komunis, yang terbentuk dari Kebencian dan berbagai macam materi sampah ruang dimensi tingkat rendah alam semesta.  Tujuan terakhirnya adalah memusnahkan umat manusia.

Sebuah jurus paling jahat dari roh jahat komunis untuk memusnahkan umat manusia, tepatnya adalah dengan merusak Kebudayaan Hasil Warisan Dewa, atau yang disebut dengan Kebudayaan Tradisional Tiongkok yang diciptakan oleh Sang Pencipta demi menyelamatkan semua makhluk.

I. Negara yang Menjadi Pusat

Banjir besar yang menutupi seluruh dunia 4.000 tahun yang lalu, membuat umat manusia periode sebelumnya hampir seluruhnya berada dalam kondisi musnah. Dalam ingatan berbagai bangsa mengenai kejadian banjir besar ini, rata-rata hanya ekstrem sedikit manusia yang tersisa, sebagai ras manusia yang berkembang lagi dari awal.

Di dalam sejarah Tiongkok, saat itu bertepatan dengan masa Kaisar Yao. Di tengah banjir besar yang juga menenggelamkan banyak gunung tinggi, bangsa Tionghoa sebaliknya secara utuh berhasil bertahan hidup, pada saat yang sama telah berhasil mempertahankan peradaban maha megah masa lalu, termasuk hal-hal yang masih sulit dimengerti oleh manusia modern sampai hari ini antara lain Taiji – Hetu – Luoshu – Zhouyi – Bagua dan lain-lain.

Dinasti Song komposit Yu Agung dan Sungai Kuning. (National Palace Museum/PD-Art;Beijing Palace Museum/PD-Art)

Menurut catatan, pada saat Kaisar Yao memberikan persembahan kepada Langit, Tuhan menampilkan mukjizat sekaligus memberi instruksi kepada Kaisar Yao: “Air Terhimpun Hingga Menjadi Bahaya, Hidup Anak Selamatkanlah Dia” (Banjir besar membahayakan ruang manusia, anda harus menyelamatkan rakyat. Lihat <<Catatan Musik Dulu dan Sekarang>>), dengan ini dimulailah keajaiban Da Yu [Yu Agung] menguras air.

Era Yao – Shun – Yu, merupakan awal pulihnya bangsa Tionghoa dari kemusnahan akibat banjir besar. Da Yu [Yu Agung] mengendalikan gunung dan sungai, memulai lingkungan baru untuk bangsa Tionghoa, yang digunakan sampai sekarang.

Ini adalah perhatian khusus dari Tuhan kepada bangsa Tionghoa. Tanpa perlindungan dari Tuhan, bangsa Tionghoa sama seperti bangsa lain di atas dunia, juga tidak bisa kabur dari bencana tenggelamnya lingkup dunia ini. Tuhan secara khusus — dari banyaknya bangsa telah memilih bangsa Tionghoa, untuk diajarkan Kebudayaan Hasil Warisan Dewa, juga dikenal sebagai kebudayaan semi Dewa, ini tentu saja juga merupakan persiapan yang dibuat demi pengaturan yang lebih besar di kemudian hari.

Tiongkok dari dinasti berbeda mempunyai wilayah yang berbeda. Pada dasarnya, “Tiongkok [Negara Pusat]” bukanlah dalam konsep lokasi geografis, melainkan berarti “Negara yang Menjadi Pusat”, ini berasal dari pengaturan Dewa terhadap kebudayaan Tionghoa dengan status – karakteristik – struktur dan unsur pembentuk yang penuh karunia Langit.

’The Eighteen Scholars’ oleh seorang seniman Dinasti Ming yang anonim. Lukisan itu menggambarkan delapan belas cendekiawan Konfusian yang terpelajar yang dikumpulkan oleh Kaisar Taizong dari Tang, ketika ia mendirikan Institut Studi Sastra. (Domain publik)

Bumi pertiwi bangsa Tionghoa unik tiada duanya, merupakan Negara yang Menjadi Pusat pilihan Tuhan, Fa terakhir untuk menyelamatkan manusia di dunia adalah disebarkan di sini. Oleh karenanya Tiongkok secara keseluruhan, dari lingkungan hidup – penyebaran populasi secara permukaan, hingga proses perkembangan sejarah – penetapan kebudayaan di tingkat mendalam, dan juga pemahaman dari berbagai macam agama dan aliran Fa Xiulian beserta hal lainnya, semuanya berasal dari pengaturan Tuhan yang teratur dan sistematis.

Di dalam sejarah panjang bangsa Tionghoa, Sang Pencipta bereinkarnasi menjadi kaisar agung – sastrawan – biksu – pendeta Tao – ketua perguruan silat – penasihat strategi – jenderal besar, memimpin kehidupan yang asalnya dari luar duniawi, membangun tempat hidup untuk rakyat Shenzhou [benua Dewa; sebutan Tiongkok zaman dulu], menetapkan kriteria moral, memperkaya kandungan makna ideologis, menanamkan kebudayaan Ortodoks, dan membangun sistem hukum. Anak Langit dari setiap dinasti – rakyat dari setiap dinasti – kebudayaan dari setiap dinasti – bentuk pakaian dari setiap dinasti – kebiasaan dan kondisi dari setiap dinasti – karakteristik kandungan makna dari setiap dinasti yang muncul di Tiongkok, datang silih berganti, gemerlap bagai lautan bintang, tersebar jauh di empat samudra, kuat mengguncang delapan penjuru, dan pada akhirnya menjadi kondisi megah secara keseluruhan Kebudayaan Hasil Warisan Dewa selama lima ribu tahun.

Karakter heroik, yang termasyhur dan mengagumkan sepanjang zaman. Qin Huang [Qin Shi Huang] – Wu Han [Kaisar Wu dari Dinasti Han] – Wei Wu [Caocao dari Kerajaan Wei] – Zhuge Wuhou [Zhuge Liang] – Tang Taizong [Kaisar Dinasti Tang] – Jenghis Khan – Kubilai Khan – Ming Chengzu [Kaisar Yongle dari Dinasti Ming] – Kangxi Dadi [Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing] dan kaisar-kaisar agung serta pejabat penting lainnya, memperluas wilayah, dengan negara-negara – bangsa di sekitarnya mengikat tali takdir, membawa Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa tersebar jauh ke luar negeri.

Pada masa Dinasti Qin dan Han, terjadi Penggabungan Enam Negara – Perluasan ke Wilayah Barat [istilah di zaman Dinasti Han untuk wilayah di luar Lintasan Yumen] – Ekspedisi Utara ke Wuhuan [yang dipimpin oleh Caocao] – peristiwa Menuju Nanman dengan Pakaian Berkabung [Liu Bei baru saja meninggal, Nanman Barbar Selatan memberontak, Zhuge Liang melakukan kampanye militer ke Selatan].

Lalu pada era dua Dinasti Jin [Barat dan Timur] dan Dinasti Selatan Utara, terjadi peristiwa Pakaian dan Topi Menyeberang ke Selatan [Pusat pemerintahan Dinasti Jin pindah dari Sungai Kuning ke Sungai Yangtze], Lima Hu Masuk Menempati ZhongYuan [Lima suku non-Han: Xiongnu, Xianbei, Jie, Di, Qiang masuk ke Daratan Tengah].

Selama era Dinasti Sui dan Dinasti Tang hingga Lima Dinasti, bangsa-bangsa di sekitarnya melakukan hubungan dengan ZhongYuan dalam bentuk bergabung di bawah kekuasaannya – membayar upeti, atau berperang – pernikahan politik, atau pertukaran pelajar – lalu lintas perdagangan, atau berbagai bentuk lainnya.

Pada era dua Dinasti Song [Utara dan Selatan], Qidan [Khitan] – Jurchen [Tungus, leluhur Manchu pendiri Dinasti Jin dan Qing] secara tiba-tiba meningkat kekuasaannya, terjadi perang antara Dinasti Song dan Liao – Dinasti Song dan Jin.

Jenghis Khan menyatukan gurun, ekspedisi jauh ke Eropa; Ming Chengzu [Kaisar Yongle dari Dinasti Ming] mengutus orang berlayar menyeberangi lautan. Berbagai jenis aksi heroik, mengguncang Langit Bumi, mengharukan Hantu dan Dewa; kelihatannya tidak teratur, namun faktanya teratur; terlihat kebetulan, namun faktanya keniscayaan.

Jenghis Khan

Tuhan tidak meninggalkan kehidupan mana pun di dunia, secara teratur telah mengatur Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa agar memberi radiasi ke dunia, demi meletakkan fondasi nilai-nilai universal yang seharusnya ke seluruh dunia.

Di atas panggung megah Shenzhou [benua Dewa; sebutan Tiongkok zaman dulu], anda dan saya bermain di panggung silih berganti, orang yang mengadakan pertunjukan tampil tanpa sadar diri, orang yang menonton pertunjukan nonton sampai mabuk terbius. Alur cerita dari pertunjukan besar ribuan tahun ini hingga kandungan makna mendalam yang tersembunyi di belakangnya, diam-diam telah secara mendalam menyusup dalam pembuluh darah rakyat Shenzhou, ditambah melalui catatan sejarah tanpa henti selama lima ribu tahun, yang ditinggalkan untuk generasi selanjutnya, sehingga membuat moralitas terjaga pada standar yang relatif tidak rusak.

II. Kebudayaan Warisan Dewata

Kebudayaan tradisional bangsa Tionghoa adalah terhubung dengan Langit. Dalam tradisi bangsa Tionghoa, Langit tidak sekadar “alam raya” seperti yang dipahami oleh manusia modern saja. Langit adalah benar memiliki jiwa, seluruh makhluk yang berada di antara Langit dan Bumi disebut dengan “hasil ciptaan”, yang berarti diciptakan dan ditumbuh-besarkan.

Sedangkan yang menciptakan dan membesarkan adalah penguasa dari Langit Bumi Alam Semesta, yang disebut “Kaisar Langit” dan “Maha Kaisar Langit Raya”, di kalangan rakyat disebut “Tuan Langit” yakni: Tuhan tertinggi tanpa banding.

Orang Tiongkok menyebut negara sendiri sebagai Shenzhou (Negeri Dewata), orang Tiongkok menyebut kaisar sebagai “Putra Langit”. Tempat tujuan akhir manusia, adalah kembali ke Kerajaan Langit Tuhan yang dicapai setelah meningkatnya moralitas.

Kehendak dari Tuhan disebut “kehendak Langit”, seluruh makhluk di antara Langit dan Bumi bertindak mengikuti kehendak Langit, yang dianggap sebagai Tao Langit  (Jalan Langit).

Kehendak Langit muncul melalui fenomena Langit. Dalam kebudayaan bangsa Tionghoa, Kaisar Langit melalui berbagai bencana alam, memberi peringatan kepada orang-orang yang berseberangan dengan kehendak Langit, dan melalui berbagai pertanda baik, merestui orang-orang yang memiliki De[1] yang selaras dengan Langit serta patuh terhadap kehendak Langit.

Tuhan juga mengatur para kaisar agung dan arif bijaksana turun ke dunia sebagai orang penting di masa lalu, untuk memberi pencerahan kepada masyarakat, agar manusia dapat membaca fenomena Langit dan memahami kehendak Langit.

Di dalam kitab Xi Ci bagian ke satu dari Yi Jing (kitab Zhouyi) disebutkan: “Langit menurunkan fenomena, menampakkan baik buruk, Orang Suci menafsirkannya. Sungai (Kuning) menghasilkan peta – (sungai) Luo menghasilkan kitab[2], Orang Suci mengikutinya.”

Secara umum artinya, orang suci mendapat Mandat Langit lalu memperlihatkan fenomena Langit (ilmu Langit atau astronomi) semacam ini kepada manusia, agar menjadi ideologi, kepercayaan dan perilaku dari manusia, hingga yang paling mendasar di permukaan berupa tatanan hidup manusia, norma perilaku, sistem institusi dan lain-lain, dengan demikian, “ilmu langit” (astronomi) diubah menjadi “ilmu manusia” (humaniora), itulah sumber dari peradaban bangsa Tionghoa.

Dalam mitologi Tiongkok, Dewi Nu Wa dipandang sebagai Dewi Penciptaan . Sebagai dewi yang maha kuasa, ia mampu menciptakan dan mengubah semua hal; dia menggunakan tanah liat untuk menciptakan manusia

 “Orang suci” yang menginterpretasikan peradaban bangsa Tionghoa dan yang mencerahkan masyarakat, adalah Dewa, maupun Semi Dewa. Mirip seperti yang ditampilkan dalam huruf “Suci (聖) [3]”, Mereka adalah raja yang secara vertikal memahami Mandat Langit dan secara horizontal mencipta ilmu (kebudayaan) manusia, seperti Pangu[4]– Nuwa[5]– Fuxi[6]– Shennong[7] dan Dewa-Dewa lainnya; dan juga raja-raja suci seperti Huangdi (Kaisar Kuning), Yao (Tang Yao), Shun, Yu (Dayu) dan lainnya yang dengan tubuh manusia melaksanakan pekerjaan Dewa.

Menurut catatan kitab kuno, orang Tiongkok percaya bahwa Kaisar Kuning Xuan Yuan “leluhur pertama ilmu manusia” setelah menyelesaikan misi mencerahkan masyarakat, telah mencapai kesempurnaan (Tao) dan terbang membubung kembali ke singgasana Langit, sejak itu telah mewariskan kepada umat manusia: kebudayaan xiulian yakni (jalan) manusia kembali ke status Dewa.

Orang-orang yang kala itu ditinggalkan telah mengubur pakaian Kaisar Kuning yang dikenakannya sebelum terbang membubung untuk dikubur di Gunung Qiao (Provinsi Shaanxi), lalu mendirikan gundukan tanah sebagai makam dan menganggapnya sebagai makam Kaisar Kuning, yang disembah hingga kini.

Sejak itu di dalam setiap dinasti dalam sejarah, Dewa tanpa henti bereinkarnasi ke dunia sebagai raja kuno atau kaisar agung dari bangsa Huaxia[8], di dalam rantang waktu yang sangat panjang itu, selangkah demi selangkah membangun dan memperkaya sistem peradaban dari kebudayaan warisan Dewata bangsa Tionghoa. Kebudayaan bangsa Tionghoa bersumber dari kebijaksanaan Dewata, kandungan maknanya sangat luas mendalam, sarat akan rahasia Langit dan mukjizat Tuhan.

III. Struktur Tatanan Ribuan Tahun

Setelah banjir besar, tiga raja suci Yao, Shun dan Yu datang ke dunia silih berganti, meluruskan kembali tatanan pergantian empat musim Langit dan Bumi, mengendalikan air dan tanah, mengharmoniskan Yin dan Yang, membasmi iblis dan siluman, serta membangun lingkungan hidup untuk umat manusia. Dengan kebajikan besar memimpin seluruh negeri, dengan moralitas sebagai inti, membangun sistem kebudayaan yang menyatukan manusia dengan alam, secara bersama telah menyelesaikan proses pendirian panggung besar Shenzhou.

Dua Dinasti Xia dan Shang, di tengah periode Manusia Eksis Bersama Dewa, ada banyak Dewa-Dewi dan Manusia Sejati hidup berdampingan dengan manusia, mewariskan berbagai macam kebudayaan dan seni ketrampilan kepada manusia, membangun dan menetapkan moralitas umat manusia serta kandungan makna ideologis.

Dari Dinasti Zhou Barat sampai Qin Agung (Dinasti Qin), terjadi perubahan besar dan munculnya Lima Pimpinan Feodal susul menyusul serta Tujuh Penguasa saling bersaing sengit[9] selama delapan ratus tahun. Qin Agung (Qin Shi Huang), mengikuti timing Langit, memperoleh keuntungan geografis dan mencapai keharmonisan manusia serta menyatukan seantero negeri, mendirikan dinasti kekaisaran tradisional bangsa Tionghoa yang pertama.

Han Wudi2 membuka perbatasan memperlebar wilayah, ekspedisi ke selatan dan berperang di utara, keperkasaan Han Agung menggulung wilayah Barat. Terhadap internal merencanakan sistem pemerintahan dan menanamkan fondasi kebudayaan ribuan tahun Han: terhadap eksternal membuka akses ke wilayah Barat, untuk membawa kebudayaan bangsa Tionghoa ke seluruh daratan Eurasia. Tiongkok, sejak itu dan seterusnya sampai Dinasti Qing, selama dua ribu tahun periode itu, senantiasa mewarisi sistem dan paradigma dinasti kekaisaran yang diformula oleh Dinasti Qin dan Han.

Kaisar Taizong dari Dinasti Tang Agung, Li Shimin, menggunakan kebijaksanaan yang tidak pernah ada sebelumnya dan kecanggihan taktik militernya dalam menumpas kelompok bandit, menentramkan Zhong Yuan (Dataran Tengah) dan menyatukan seluruh negeri, sehingga berhasil mendorong peradaban lima ribu tahun bangsa Tionghoa ke puncaknya.

Kaisar Taizong, kaisar kedua dari Dinasti Tang. (The Epoch Times)

Dinasti Kerajaan Tang Agung, memimpin seluruh negeri, kewibawaannya mengguncang delapan penjuru, kelapangan dada yang maha luas, bersikap percaya diri, cemerlang tiada banding dan adidaya tiada lawan, cahaya gemerlap menerangi dari zaman kuno hingga zaman kini!

Pada awal abad ke-13, Maha Raja Meng Yuan (Mongolia) Jenghis Khan beserta klan Huangjin[10] membuka akses ke wilayah Barat dan menyapu bersih daratan Eurasia, menetapkan struktur tatanan Eropa, membawa peradaban Huaxia ke mana pun perginya.

Ratusan tahun kemudian, dimulai dari abad Renaisans Eropa dan lain-lain, membuat peradaban Barat mengalami kemajuan pesat. Pendiri Dinasti Yuan Agung Kubilai Khan memimpin Dinasti Langit Yuan Agung hijrah ke Zhong Yuan memainkan peran besar sejarah selama ratusan tahun, luas wilayah kekuasaan Dinasti Yuan Agung jauh melampaui Dinasti Han dan Tang, bahkan tersambung ke panggung pertunjukan besar dunia, menjadi landasan bagi tatanan seluruh dunia.

Ming Chengzu (Kaisar Yongle dari Dinasti Ming Agung), Kangxi dari Dinasti Qing Agung dan pemimpin suci monarki lainnya, terkenal dengan hati bajik toleransi tinggi serta memimpin dengan peradaban dan kemiliteran, sehingga para suku bangsa di sekitar Tiongkok takluk.

Berlayar menyeberangi lautan, menaklukkan Mongol dan Rusia, menyatukan seluruh semesta, kebudayaan bangsa Tionghoa agung maha megah kala itu, pengaruhnya menyebar ke seluruh dunia.

Para pemimpin suci monarki brilliant dari dinasti kekaisaran bangsa Tionghoa ini, telah menciptakan sejarah, meletakkan fondasi jalan, mengubah situasi secara mendasar, sehingga membuat Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa terus berlangsung tanpa henti, membawakan kemegahan untuk Tiongkok bahkan bagi peradaban dunia.

Setiap dinasti dan setiap generasi Tiongkok selalu dalam karunia Tuhan, secara teratur meletakkan fondasi sekaligus menyempurnakan detail konkret kebudayaan dan konten pemikiran yang seharusnya dimiliki oleh manusia di dunia. (WHS/asr)

[1]De = pahala, sejenis substansi putih yang dihasilkan dari perbuatan baik, ikhlas menanggung penderitaan dan sebagainya.

[2]Yang terkenal dengan sebutan He Tu – Luo Shu.

[3]Sheng

[4]Pencipta alam semesta dalam mitologi Tiongkok.

[5]Pencipta manusia dalam mitologi Tiongkok.

[6]Pencipta perikanan, perangkap dan tulis menulis dalam mitologi Tiongkok.

[7]Pencipta agrikultural dalam mitologi Tiongkok.

[8]Nama kuno Tiongkok.

[9]Zaman Musim Semi dan Gugur (770SM-221SM), sebuah zaman dalam penghujung Dinasti Zhou

2Kaisar Wu dari Dinasti Han.

3Klan yang terdiri dari elit Mongol dan bangsa utara lainnya

Bersambung

BACA Selanjutnya : Tujuan Terakhir Komunisme : Bagian Tiongkok – Negara yang Menjadi Pusat Kebudayaan Warisan Dewata (2)

Share
Tag: Kategori: OPINI

Video Popular