Aktris dan penulis AS berusia 97 tahun, Lois Wheeler Snow 2 bulan lalu meninggal dunia di Swiss. Nyonya Snow mengutuk penindasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap hak asasi manusia dan kritikannya berdampak lebih luas di bawah pengaruh suaminya.

Li Muyang – EpochWeekly

Lois Wheeler Snow, aktris dan penulis AS berusia 97 tahun telah meninggal dunia pada 3 April di Swiss. Suaminya adalah seorang jurnalis Amerika terkenal bernama Edgar Snow.

Edgar Snow bersama mantan istrinya, Helen menulis buku berjudul ‘Red Star Over China’. Sebuah buku terbitan tahun 1937 yang tulisannya untuk mempercantik kepribadian Mao Zedong. Sehingga berkat buku tersebut Mao berhasil menggalang sejumlah  bantuan dana asing untuk mengembangkan Partai Komunis Tiongkok (PKT), selain itu, buku tersebut juga berhasil memikat banyak intelektual muda Tiongkok yang tidak mengetahui situasi untuk bergabung dengan komunis yang berbasis di Yan’an.

Tentu tidak diragukan lagi bahwa Edgar Snow melakukan propaganda ingternasional untuk PKT karena ia tertipu organisasi jahat tersebut. Seperti yang semua orang tahu, Partai Komunis Tiongkok selalu menaruh perhatian tinggi pada hubungan publik dengan para wartawan dan penulis media Barat, termasuk akademisi dan orang-orang dari kalangan intelektual tinggi.

Tahun 1949, Edgar Snow menikah dengan Lois Wheeler yang kemudian dikenal sebagai Nyonya Snow. Sebelum menikah, Lois Wheeler adalah seorang aktris pertunjukan di Broadway yang relatif masih segar, dan Edgar Snow sudah terkenal karena buku larisnya ‘Red Star Over China’.

Edgar dan Lois Snow dengan putranya Christopher dan Sian, 1954.
(Courtesy of Lois Wheeler/ Snow via https://publishing.cdlib.org)

Edgar tiba di Tiongkok pada bulan September 1928, dan ia dapat pergi ke Yan’an dengan bantuan Soong Ching Ling (istri alm. Sun Yatsen) pada tahun 1936. Ia secara berturut-turut telah mewawancarai banyak pemimpin Tentara Merah Tiongkok, termasuk Mao Zedong, Peng Dehuai, Zuo Quan, Nie Rongzhen dan lainnya.

Snow menerbitkan banyak artikel di berbagai media Inggris, dan kemudian disusun dan diterbitkan dalam buku ‘Red Star Over China’. Justru karena pengaruh buku ini membuat Amerika Serikat berpaling dari kebijakan Chiang Kai-shek yang akhirnya menyebabkan kegagalan bagi rezim Chiang Kai-shek.

Ada versi yang lebih baru dari ini, Matthews dan Castro. Matthews, jurnalis besar The New York Times melakukan kontak dengan Fidel Castro dan Castro berbicara tentang konstitusionalisme liberal. Kemudian dalam wawancara panjang dengan Matthew, Matthew mempromosikan Fidel Castro sebagai citra heroik yang anti-kediktatoran dan seorang demokrat sejati, sehingga menyebabkan kehebohan di masyarakat Barat. Setelah itu, di bawah tekanan publik, pemerintah AS secara bertahap menyerahkan dukungannya kepada pemerintah militer Kuba dan menyebabkan keruntuhannya.

Tetapi tak lama setelah Castro mulai berkuasa, orang-orang menemukan apa yang telah dia lakukan dan apa yang telah dijanjikan bertolak belakang, sehingga New York Times dan Matthew mulai diserang karena mereka tertipu oleh Castro, melakukan propaganda untuk pemerintah militer baru.

The American National Review Magazine pernah menerbitkan gambar kartun berupa Castro tersenyum dan duduk di atas peta Kuba. Judulnya tertulis : Saya menemukan pekerjaan melalui The New York Times.

Edgar Snow pun sama, tulisan dalam bukunya semua menggambarkan segala sesuatu yang cenderung pro PKT. Karena apa yang dia lihat dan dengar semuanya ditentukan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Mengenai kematian sebenarnya dari Liu Zhidan, Edgar dan para pemimpin PKT lainnya yang terjerumus dalam kehidupan pribadi yang pesta pora di Yan’an. Jelas tidak akan membiarkan Snow mengetahuinya.

Terpengaruh oleh tulisan dalam bukunya, beberapa orang wanita ‘berpikiran maju’ pun pergi ke Yan’an untuk bergabung dengan PKT. Itulah sebabnya Mao Zedong langsung meninggalkan He Zizhen (istri Mao) dan kumpul kebo dengan Jiang Qing. Hal-hal seperti itu dirahasiakan, sehingga Edgar Snow tidak mengetahuinya.

Lois dan Edgar Snow saat dinner party di Peking, 1970. (https://publishing.cdlib.org)

Buku Snow tersebut telah membantu menaikkan ‘reputasi’ PKT, tetapi ketika Edgar kembali mengunjungi Tiongkok pada tahun 1960, Partai Komunis Tiongkok bahkan tidak memberikan royalti dari buku yang diterbitankan, karena hampir tidak ada tempat lain kecuali perpustakaan dengan jumlah buku yang sangat sedikit. PKT selalu habis manis sepah dibuang, begitu pula Edgar Snow diperlakukan.

Mengenal wajah sebenarnya dari PKT melalui peristiwa Tiananmen 4 Juni

Edgar Snow di tahun-tahun terakhirnya melihat kekejian Mao Zedong dan mulai membenci Mao. Ketika mengunjungi Tiongkok pada tahun 1970, meskipun ia dan istri diperlakukan seperti raja dan ratu, tetapi Mao Zedong bahkan berkata kepadanya bahwa dia harus berterima kasih kepada Jepang atas agresi mereka, karena itu yang memungkinkan PKT merebut kekuasaan dari Kuomingtang dan mengubah tatanan pemerintah yang demokrasi menjadi diktator di bawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok.

Sejak itu, Snow menyadari bahwa ia telah keliru dan menyesali perbuatannya yang telah merugikan rakyat Tiongkok.

Dibandingkan dengan Edgar, istrinya Lois Wheeler lebih beruntung karena ia dapat melihat kejahatan PKT secara langsung. Ia kemudian menjadi seorang pendukung kegiatan HAM Tiongkok yang cukup gigih.

Tahun 1989 PKT memutuskan pembantaian mahasiswa di Tiananmen pada 4 Juni. Ribuan masyarakat dibunuh, digilas dengan tank-tank Tentara Pembebasan Rakyat. Sejak itu, nyonya  Snow melihat PKT dengan perspektif yang berbeda. Ia segera mengutuk tindakan keras itu dan bersumpah tidak akan pernah kembali ke Tiongkok.

Ny. Snow pernah mengatakan kepada Time versi Asia bahwa ia selama ini tidak mengetahui tentang pelanggaran hak asasi manusia oleh PKT dan bahwa pembantaian massal pada 4 Juni itu telah menyadarkan dirinya.

“Misalnya, Anda dapat melihat orang-orang dengan wajah penuh darah dibawa pergi. Saya mulai menyadari bahwa keluarga orang-orang termasuk telah dianiaya dalam beberapa cara.”

Selama bertahun-tahun, Ny. Snow menulis surat kepada para pemimpin puncak Partai Komunis Tiongkok dan meminta mereka untuk memperhatikan keluarga yang terkena dampak dari penindasan di Lapangan Tiananmen.

Nyonya Snow merasa ia memiliki tanggung jawab ini, karena bagaimanapun suaminya masih memiliki pengaruh tertentu di PKT, dan kekejaman PKT itu juga telah membawa bencana yang tidak ringan bagi rakyat Tiongkok.

Nyonya Snow terakhir pergi ke Beijing adalah pada tahun 2000. Saat itu ia sudah berusia 79 tahun. Ia menyumbangkan sejumlah uang kepada seorang aktivis terkenal yang putranya tewas dalam insiden 4 Juni.

Namun, Perjalanan ke Beijing kali ini dibandingkan dengan pertama kalinya ia mengunjungi Beijing 30 tahun yang lalu telah jauh berbeda.

Ia diperlakukan sebagai tamu istimewa oleh PKT, namun bukan pemimpin Partai Komunis Tiongkok yang menerimanya, tetapi lebih dari 20 orang polisi berpakaian preman yang mengelilinginya.

Para polisi itu secara diam-diam memotretnya dan mencegahnya bertemu dengan aktivis. Bahkan ketika ia singgah ke Universitas Peking di mana terkubur separuh dari abu jenasah suaminya Edgar Snow, ia juga diawasi secara ketat. (Sinatra/asr)

Video Rekomendasi :

Atau anda menyukai kisah ini :

Share

Video Popular