Tiga perusahaan pembuat chip, satu di AS dan dua di Korea Selatan, sedang diselidiki secara bersamaan oleh pemerintah Tiongkok.

Micron Technology, pembuat chip terbesar di Amerika; Samsung Electronics; dan SK Hynix, pembuat chip memori terbesar kedua di dunia, sedang diselidiki oleh Biro Administrasi Negara Anti-monopoli Tiongkok untuk Regulasi Pasar, situs berita Tiongkok, Jiwei Net, melaporkan pada 1 Juni. Micron sejak itu mengkonfirmasi bahwa regulator Tiongkok telah mengunjungi kantor penjualannya pada 31 Mei untuk informasi, menurut Bloomberg.

Tidak jelas apakah investigasi Tiongkok berkaitan dengan gugatan class action yang telah diajukan pada bulan April di pengadilan distrik federal California utara. Gugatan tersebut, diajukan oleh firma hukum Hagens Berman atas nama konsumen AS, menuduh tiga perusahaan tersebut membuat pengaturan harga DRAM yang tinggi secara buatan, menurut Forbes.

DRAM adalah jenis chip memori komputer yang menggerakkan hampir semua komputer dan sebagian besar perangkat elektronik. Bersama-sama, ketiga perusahaan tersebut menguasai 96 persen pasar chip DRAM global, dengan Micron menyumbang 22,6 persen pangsa pasar pada kuartal pertama 2018, menurut Electronics Weekly.

Harga DRAM mencapai titik terendah di 2015 dan 2016. Sejak itu, bagaimanapun, harga telah meningkat dan ketiga perusahaan tersebut melihat keuntungan mereka berlipat ganda dari kuartal pertama 2016 hingga kuartal ketiga 2017, menurut situs berita teknologi Fossbytes.

Jiwei Net melaporkan bahwa biro penetapan harga dari Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok (NDRC) memulai penyelidikannya ke Samsung Electronics akhir tahun lalu. Biro penetapan harga tersebut telah bergabung dengan Biro Anti-monopoli.

Pemilihan waktu investigasi Tiongkok ke Micron telah meningkatkan spekulasi bahwa Tiongkok dapat menahan Micron sebagai sandera untuk sebuah tawar-menawar chip dalam diskusi perdagangan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.

Dengan ZTE, perusahaan telekom Tiongkok yang saat ini mendapat sanksi dari Amerika Serikat, rezim telah menekan pemerintah AS untuk mengurangi sanksi-sanksi dengan imbalan membeli lebih banyak komoditas Amerika. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular