Erabaru.net- Seekor ikan paus mati di Thailand selatan setelah menelan lebih dari 80 kantong plastik. Kematian ini mengakhiri upaya penyelamatan yang gagal untuk merawat mamalia kembali pulih seperti sediakala.

Kematian hewan ini gara-gara menyantap puluhan kantong plastik menjadi peringatan bagi manusia tentang bahaya sampah plastik.

Melansir dari AFP, Thailand adalah salah satu konsumen kantong plastik terbesar di dunia. Sampah plastik membunuh ratusan makhluk laut yang tinggal di dekat pantai terkenal negara itu setiap tahun.

Ikan paus jantan ini menjadi korban terbaru setelah ditemukan hampir tidak bernyawa di sebuah kanal dekat perbatasan dengan Malaysia seperti diungkapkan Departemen Sumber Daya Laut dan Pesisir Thailand di halaman Facebooknya Sabtu (09/06/2018).

Status yang diunggah akun facebook ini menyebutkan tim dokter hewan mencoba “membantu menstabilkan penyakitnya tetapi akhirnya paus itu mati” pada Jumat sore.

Peringatan! Foto ini terkandung grafik kekerasan

Setelah otopsi digelar akhirnya mengungkapkan 80 kantong plastik dengan berat hingga delapan kilogram ditemukan di perut makhluk itu.

Foto-foto yang menyertai pos menunjukkan sekelompok orang menggunakan pelampung untuk menjaga ikan paus mengapung setelah pertama kali terlihat pada hari Senin dan payung untuk melindungi dari matahari yang menyengat.

Paus memuntahkan lima buah kantong selama upaya penyelamatan sebelum mati.

Seorang ahli biologi kelautan dan dosen di Universitas Kasetsart, Thon Thamrongnawasawat,  mengatakan kantong tersebut tidak memungkinkan bagi ikan paus untuk memakan makanan bergizi.

“Jika Anda memiliki 80 kantong plastik di perut Anda, Anda mati,” katanya.

Baru-baru ini Pilot Whale mati memberi peringatan kepada orang-orang tentang masalah sampah plastik. Foto: Barney Moss / Wikimedia Commons

Setidaknya 300 hewan laut termasuk paus pilot, penyu dan lumba-lumba mati setiap tahun di perairan Thailand setelah menelan plastik.

“Ini masalah besar,” katanya. “Kami menggunakan banyak plastik.”

Kondisi paus pilot menuai simpati dan kemarahan di antara warganet Thailand.

“Saya merasa kasihan pada hewan yang tidak melakukan kesalahan apa pun tetapi harus menanggung beban perbuatan manusia,” tulis salah satu pengguna Twitter dalam bahasa Thailand. (asr)

Video Rekomendasi :

Atau anda menyukai kisah ini :

Share

Video Popular

Ad will display in 10 seconds