- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Ketika Terjadi Ledakan Virus “SARS”, Dia dengan Berani Membedah “Delapan Mayat” dan Keberaniannya Ini Akhirnya Berhasil Memecahkan Rahasia Virus Tersebut!

Erabaru.net. Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) yang terjadi di Provinsi Guangdong, Tiongkok pada tahun 2002 silam menyebar ke seluruh dunia dalam waktu singkat, menyebabkan kepanikan masyarakat di dunia, dan hingga kini masih menjadi mimpi buruk dalam ingatan banyak orang!

[1]

Meskipun SARS berhasil dibasmi pada 2 September 2003, namun, lebih dari 700 orang tewas karenanya dan lebih dari 8.000 kasus infeksi di dunia.

Terkait SARS yang dapat diberantas dengan cepat, hal ini tak lepas dari jasa seorang dokter dari Hong Kong kala itu.

[2]

Pada akhir Maret 2003 ketika itu, SARS meledak di Prince of Wales Hospital, Hong Kong, dan dalam waktu singkat lebih dari 100 orang yang terinfeksi.

[3]

Pihak rumah sakit terkait berusaha keras menanganinya, namun, tidak tahu bagaimana virus itu bisa merajalela ke dalam tubuh manusia, mereka hanya tahu steroid dosis tinggi mungkin dapat membantu meredam amukan virus Sars.

[4]

Du Jiahui (baca Tu Cia Huei-red), seorang asisten profesor dari Departemen Anatomi dan Sitologi di Chinese University of Hong Kong, dimana selama ledakan epidemi SARS, dia bertanggung jawab untuk membedah mayat korban Sars, untuk mencari tahu virus misterius itu.

[5]

Pada saat itu, beberapa kasus membutuhkan otopsi untuk memahami penyebab kematian. Dan atas permintaan pengadilan, dia pun secara berturut-turut membedah 8 mayat korban Sars, ia juga dokter pertama di Hong Kong yang berani membedah mayat korban sars.

Mayat pertama yang dibedah dokter Du Jiahui adalah seorang pria berusia 69 tahun dengan riwayat penyakit jantung. Pria itu terinfeksi di ruang pasien dan telah dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu.

[6]

Dari hasil anatomi ditemukan, bahwa kondisi penyakit berkembang cepat, fungsi paru-paru pasien menjadi sangat buruk dalam waktu singkat.

Dia meninggal dalam waktu kurang dari 4 hari ; Korban Sars termuda yang dibedahnya adalah seorang pria 44 tahun yang menderita sirosis semasa hidupnya. Dia juga terinfeksi di rumah sakit dan dirawat di rumah sakit karena fungsi hati yang buruk. Dan meninggal setelah 16 hari rawat inap di rumah sakit. Pihak rumah sakit meresepkan steroid dan obat antiviral Ribavirin, tetapi khasiatnya tidak signifikan.

Dari total 8 kasus terkait, Du Jiahui menetapkan bahwa virus SARS dapat menerobos garis pertahanan pertama dari sistem kekebalan manusia, menyebabkan reaksi alergi dan peradangan, termasuk pneumonia (radang paru-paru), dan Diffuse Alveolar Damage (DAD) atau kerusakan alveolar difus yakni bentuk histologis pada penyakit paru.

Karakterisasi awal mirip dengan bronkiolitis – infeksi saluran napas yang menyebabkan terjadinya radang dan penyumbatan di dalam bronkiolus atau saluran pernapasan kecil di dalam paru-paru, selain itu jumlah limfosit juga menurun tajam.

Dia juga menemukan bahwa selain paru-paru, protein virus juga ditemukan di organ lain dari almarhum, diantaranya ginjal dan sumsum tulang rusak hingga batas tertentu, dan muncul bintik-bintik putih pada limpa. Namun, organ pernapasan bagian atas almarhum tidak mengalami perubahan secara patologi. Dengan kata lain, virus langsung menyerang saluran pernapasan bagian bawah dan menyebar ke organ lain.

[7]

Menurut Du Jiahui, bahwa mekanisme patogenik dari virus SARS tidak identik dengan pneumonia pada umumnya. Dia hanya menemukan mekanisme patogenik sejenis pada sebagian kecil mayat saat flu burung H5N1 meledak di Hong Kong untuk pertama kalinya pada tahun 1997 ketika itu. Namun, kondisi ini sering terjadi pada pasien SARS, dan insidensi serta penyebarannya sangat cepat.

[8]

Dari akhir Maret hingga awal April tahun itu, Du Jiahui menyelesaikan delapan anatomi dan melaporkan kepada Prince of Wales Hospital dan Otoritas Rumah Sakit di Hong Kong.

Belakangan, Departemen Mikrobiologi dari Li Ka Shing Faculty of Medicine – The University of Hong Kong mengidentifikasi SARS sebagai Koronavirus, yakni virus dari familia Coronaviridae yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia, mamalia, dan burung.

Du Jiahui percaya bahwa temuan anatomisnya, bersama dengan temuan dari Universitas Hong Kong, dapat membantu otoritas rumah sakit untuk mendiskusikan langkah selanjutnya pada waktu itu.

[9]

Tes patologis selalu menjadi “departemen logistik” rumah sakit, tetapi bisa berkontribusi untuk memecahkan misteri virus dalam epidemi.

[10]

Proses ini sangat menegangkan, Dia bersedia menempuh risiko : “Sebagai dokter, saya tidak boleh mundur, meski sangat berisiko. Dan sikap saya tidak berubah jika suatu hari harus kembali menghadapi epidemi di masa depan, saya akan terus maju di garis depan tanpa surut sedikit pun,” tutur dokter Du Jiahui saat diwawancarai media setempat.

Jika tidak ada penelitian dr. Du Jiahui, maka rahasia virus SARS mungkin tidak akan ditemukan begitu cepat. Akibatnya, akan menyebabkan lebih banyak orang yang terinfeksi dan kematian!

Pada kesempatan ini, kita sampaikan ucapan terima kasih kepada Du jiahui, dokter dan asisten profesor dari Departemen Anatomi dan Sitologi di Chinese University of Hong Kong.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi: