Erabaru.net. Pernahkah Anda berharap seseorang menghilang dari hidup Anda, seseorang yang menurut Anda hanya menyusahkan Anda, tetapi pada akhirnya orang itu justru menjadi harapan Anda untuk bertahan hidup?

Sebuah film pendek yang diadopsi dari kisah nyata dari National Cancer Institute of Thailand, menggambarkan tentang sepasang saudara perempuan dengan kepribadian yang berbeda.

Saat kedua orangtua mereka meninggal dunia, sang kakak harus merawat adiknya yang memiliki sifat bertolak belakang dengannya.

Suatu hari, sang kakak divonis menderita kanker. Hari demi hari, ia pun merawat dirinya tanpa bantuan sang adik.

Hingga suatu ketika, adiknya melihat rambut sang kakak yang nyaris botak karena kemoterapi.

Begitu kakaknya mengungkapkan bahwa ia mengidap kanker, sang adik yang tadinya tidak peduli kepada kakaknya kemudian merawatnya dengan penuh perhatian, sebagaimana sang kakak yang merawatnya sejak kecil.

Si adik pun memotong rambutnya menjadi pendek, sebagai bentuk solidaritas kepada kakaknya. Dia juga membelikan kakaknya sebuah wig agar tak terlihat botak.

Cinta kasih yang luar biasa dalam film ini sangat menyentuh. Sebenarnya, meski pun ada banyak ketidak puasan terhadap adiknya, namun, sang kakak tetap tanpa lelah merawat adiknya, yang merupakan satu-satunya keluarganya, karena cinta dan kasih sayang. Adiknya yang pemberontak, dan keras kepala merawat kakaknya dengan telaten di saat sang kakak sakit.

Hanya saja kita sering melupakan objek yang sedang kamu serang itu, sebenarnya adalah orang terdekat kamu.

Hal itu mengingatkan saya akan sebuah buku yang pernah saya baca: “Semua penderitaan, amarah, kekerasan, angkara murka dan fitnah, berikut dengan segala kejahatan, semuanya itu harus disingkirkan dari benak kalian. Kalian seharusnya saling menyayangi, mencintai dan tertanam dalam hati yang lembut, saling memaafkan, seperti Tuhan yang akan mengampuni segala dosa kalian.”

Pertengkaran dan kecaman hanya akan membuat jarak kita semakin jauh, bahkan lupa kalau kita adalah orang yang paling dekat (keluarga).

Hentikanlah luka hati yang tidak perlu itu, ketika kita tak sanggup bersabar lagi, dan saat di ambang kehancuran, bersujudlah kepada-Nya, panjatkan do’a di hadapan-Nya, berdo’a meminta-kepada-Nya memurnikan sanubari kita, dan yakinlah Tuhan akan menenangkan hati kita, dan membuat kita semakin dekat dengan pengampunan dan toleransi!

Dengarkanlah getaran cinta kasih yang lebih mulia dan menyentuh itu: “Betapa pentingnya cinta dan kasih Tuhan itu bagi umat manusia.” (jhn/elg)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular