Jutaan siswa sekolah menengah diwajibkan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi tahunan Tiongkok mulai tanggal 7 Juni. Menurut media yang dikelola pemerintah Tiongkok, keamanan di pusat tes akan ketat untuk mencegah kecurangan merajalela yang sudah biasa terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Juga dikenal sebagai “gaokao”, ujian masuk perguruan tinggi tahunan Tiongkok di bulan Juni dilihat oleh orang tua dan siswa Tionghoa sebagai acara yang mengubah hidup: skor gaokao seseorang adalah penentu satu-satunya di mana seorang siswa akan masuk ke perguruan tinggi.

Menurut koran pemerintah yang dikelola negara, Global Times, diperkirakan 9,75 juta siswa akan mengikuti ujian tahun ini, angka tertinggi dalam delapan tahun terakhir.

Kecurangan telah menjadi perhatian utama. Badan Keamanan Publik Tiongkok, dalam upaya yang terkoordinasi di beberapa provinsi, termasuk Mongolia Dalam dan Liaoning di Tiongkok utara, Provinsi Shandong di Tiongkok timur, Provinsi Hubei di Tiongkok tengah, dan Sichuan dan Guangdong di selatan, telah menjatuhkan 12 komplotan kriminal dan menangkap lebih dari 50 tersangka.

Mereka juga menutup enam jalur produksi yang membuat perangkat elektronik ilegal untuk mendukung kecurangan dan delapan toko yang menjualnya, melaporkan media Hong Kong Oriental Net pada tanggal 4 Juni.

Para tersangka ditemukan membuat kamera-kamera kecil tersembunyi, pemancar sinyal digital nirkabel terenkripsi, dan penerima sinyal nirkabel tersembunyi. Selain itu, para tersangka tersebut mengadakan kelas pelatihan untuk mengajar orang-orang bagaimana menggunakan dan memasarkan perangkat-perangkat tersebut.

Di Harbin, ibu kota Provinsi Heilongjiang Tiongkok utara,  seseorang bernama Dai ditangkap oleh polisi Harbin karena menjual salinan ujian gaokao palsu melalui berbagai akun WeChat yang ia buat, melaporkan media yang dikelola pemerintah The Paper pada 6 Juni. Dai mengakui bahwa dia menjual ujian palsu tersebut dengan harga 300 yuan (sekitar $47) per set. Dia telah menghasilkan 170.000 yuan ($26.600) dari penjualannya.

Untuk memperketat keamanan, pusat-pusat tes di Provinsi Henan tengah Tiongkok akan memeriksa sidik jari siswa, bersama dengan gambar dan identitas pribadi mereka, sebelum mereka diizinkan masuk, menurut media yang dikelola pemerintah Xinhua.

Selain itu, peserta tes dilarang berpakaian apapun yang mengandung logam, termasuk bra dengan kait tali logam. Kacamata metalik akan diizinkan, tetapi mereka akan diperiksa untuk setiap berat atau ketebalan yang tidak biasa yang mengindikasikan kacamata mungkin berisi kamera tersembunyi. Siswa dengan alat bantu dengar atau alat pacu jantung akan diminta untuk menyajikan dokumen dari otoritas medis dan persetujuan dari kantor administrasi ujian lokal.

Di Kota Qingdao di Shandong, sistem pengenalan wajah akan dipasang di pusat tes untuk mengkonfirmasi identitas peserta tes, selain untuk ID pribadi dan pemeriksaan sidik jari, lapor Xinhua. Menyewa pemeran pengganti (joki) untuk mengikuti ujian adalah skema kecurangan umum.

Selama bertahun-tahun, pihak berwenang Tiongkok telah mencoba untuk mengatasi masalah kecurangan tersebut. Pada Juni 2015, di Kota Luoyang di Provinsi Henan Tiongkok tengah, drone-drone dikerahkan untuk memantau para siswa.

Namun, kecurangan bukan masalah terbatas pada gaokao saja. Warga negara Tiongkok di Amerika Serikat telah tertangkap karena kecurangannya dengan menyewa pemeran pengganti untuk mengikuti ujian SAT dan TOEFL atas nama mereka.

Pada Mei 2017, Wang Yue, seorang mahasiswa Tionghoa di Hult International Business School di Cambridge, Massachusetts, ditangkap karena menggantikan ujian TOEFL untuk tiga siswa yang berbeda. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular