Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengambil langkah untuk mengendalikan industri kereta api AS, memanfaatkan pendanaan negara untuk memangkas pesaing, memaksa perusahaan-perusahaan swasta keluar dari bisnis, dan kemudian mendominasi pasar tersebut.

Masalahnya tidak berakhir dengan perdebatan tentang pasar bebas atau tindakan-tindakan asing yang menghancurkan persaingan swasta dalam bisnis tersebut. Mengendalikan sistem kereta AS juga memberi PKT jaringan sensor-sensor di seluruh Amerika Serikat, dan mengendalikan alat utama memanfaatkan transportasi domestik oleh militer AS.

Menurut Erik Olson, wakil presiden dari Rail Security Alliance, perusahaan utama di balik desakan ini adalah CRRC, perusahaan milik negara Tiongkok. Sebuah laporan dari Oxford Economics, yang didukung oleh Rail Security Alliance, menemukan bahwa tindakan CRRC dapat menghilangkan 65.000 pekerjaan dari Amerika Serikat jika Tiongkok mengambil alih produksi kereta api AS. Jika diizinkan untuk melanjutkan, itu juga dapat mengurangi PDB AS hingga mendekati $6,5 miliar.

“Kita merasa mereka sangat transparan dengan minat mereka di kereta api. Ini jelas bagian dari Rencana 2025 mereka,” kata Olson, mengacu pada rencana “Made in China 2025” rezim Tiongkok untuk menjadi negara adidaya manufaktur dengan menggantikan pesaing-pesaing asing di pasar teknologi tinggi global.

Sebagai bagian dari Rencana 2025-nya, PKT telah mengidentifikasi 10 sektor teknologi untuk mengambil alih yang meliputi, antara lain, peralatan rel lanjutan. Untuk mencapai tujuan ini, rezim Tiongkok mengarahkan perusahaan milik negara dan swasta untuk berinvestasi dan mengakuisisi perusahaan-perusahaan asing, dan untuk memperoleh atau mencuri inovasi teknologi.

Bersama CRRC, dengan cepat maju untuk mendominasi industri kereta api global.

Di Australia, PKT telah menunjukkan taktiknya. Menurut Olson, CRRC pergi ke Australia sembilan tahun lalu. Karena perusahaan milik negara Tiongkok tersebut tidak butuh mendapat untung, ia dapat membuat tawaran yang tidak dapat ditandingi oleh para pesaing. Dari tiga perusahaan kereta api utama Australia, CRRC akhirnya mengakuisisi satu, dan dua lainnya keluar dari bisnis.

“Kita tidak ingin melihat itu di sini di Amerika Serikat karena kita memiliki industri pengiriman yang sehat dan bersemangat,” kata Olson.

Namun, CRRC sedang membuat terobosan di Amerika Serikat; telah memenangkan tawaran di Boston, Philadelphia, Los Angeles, dan Chicago.

“Yang Boston sangat menarik karena tawaran terendah kedua dari Bombardier, yang sekitar satu miliar dolar, dan CRRC masuk di 569 juta,” kata Olson.

“Ini hampir separuh tawaran dari Bombardier,” katanya. “Mereka tidak harus menghasilkan uang, sehingga mereka dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan.”

Sebagai bagian dari kesepakatan di Boston tersebut, Massachusetts akan mendapatkan fasilitas dan pekerjaan, tetapi bagian untuk proyek kereta api akan dikirim dari Tiongkok. Boston juga menahan diri untuk tidak menggunakan dana federal, sehingga tidak perlu mengikuti ketentuan di bawah perintah eksekutif Presiden Donald Trump 2017 “Beli Amerika dan Pekerjakan Amerika”.

Olson telah mencatat gerbong-gerbong kereta pertama pergi ke Boston di bawah kesepakatan tersebut dibungkus dan dikirim seluruhnya dari Tiongkok.

“Ini yang telah mereka lakukan. Mereka juga membangun perusahaan gerbong angkutan baru bernama Vertex di North Carolina, dan fasilitas ini bersama mitra AS,” katanya. Olson mencatat bahwa Vertex mendapat pendanaan dari Tiongkok, dan “tujuan yang telah mereka nyatakan adalah untuk mendatangkan gerbong-gerbong angkutan.”

“Kita melihat semua ini terjadi dan menjadi khawatir karena kita tidak ingin melihat Amerika seperti di Australia dan negara-negara lain tempat di mana CRRC mendominasi,” katanya. “Jika CRRC mengambil alih dan menghancurkan basis kereta AS kita, mereka dapat mengenakan biaya apapun yang mereka inginkan karena mereka adalah penyedia tunggal.”

Ancaman Mata-Mata dan Keamanan

Selain pengaruh PKT yang semakin besar terhadap sisi bisnis kereta api, ada juga masalah yang dapat mempengaruhi keamanan nasional AS.

Kereta api hari ini dilengkapi dengan kamera sirkuit tertutup, memiliki WiFi internal, dan, menurut Olson, teknologi di kereta api buatan Tiongkok berasal dari beberapa perusahaan yang sama yang saat ini dituduh memata-matai untuk kepentingan PKT.

“Smartcars benar-benar kendaraan pintar,” kata Olson. “Mereka punya banyak sensor. Itu adalah e-mobil, pada dasarnya.”

Data para pengguna dapat berisiko sejak perusahaan-perusahaan Tiongkok memiliki akses ke lalu lintas internet di jaringan-jaringan tersebut, dan data yang dikumpulkan oleh sensor dapat memberi umpan balik ke rezim Tiongkok juga.

Menurut Olson, bagaimanapun, ancaman keamanan yang lebih besar adalah militer AS, yang masih sangat bergantung pada sistem kereta api AS untuk transportasi. Kereta api berjalan melalui setiap kota besar dan melalui setiap pangkalan militer utama, katanya, dan kereta api juga digunakan untuk mentransfer bahan-bahan sensitif untuk militer AS.

Jika perang pecah, Departemen Pertahanan memiliki sekitar 200 gerbong angkutan sendiri, tetapi masih sangat bergantung pada sistem publik. Olson mengatakan jika semua kereta api ini dibangun dan dikelola oleh PKT, “bisakah Anda mempercayai mereka?”

“Kita khawatir jika Tiongkok mengendalikan seluruh sistem tersebut,” katanya.

Namun kerja advokasi dari Aliansi Keamanan Kereta Api (Rail Security Alliance) telah mengidentifikasi banyak pemimpin AS di Departemen Pertahanan dan Departemen Keamanan Dalam Negeri yang memahami ancaman tersebut.

Namun, di luar komunitas pertahanan, Aliansi Keamanan Kereta Api masih berjuang keras untuk memberi tahu pemimpin AS. Bagaimanapun, mereka telah melihat sedikit kemajuan baru-baru ini.

“Kita telah melihat dalam enam bulan terakhir, saya pikir, orang-orang berpaling ke pihak kita,” katanya.

Masalahnya adalah ketika orang berpikir tentang kereta api, mereka masih memikirkan lintas angkutan. Olson mengatakan, kereta api saat ini adalah “kendaraan teknis yang sangat mampu” sering dilengkapi dengan lebih dari 200 sensor pada bagian termasuk roda, ventilasi terbuka, kontrol suhu, dan lainnya.

Ancaman-ancaman tersebut juga menghubungkan kepentingan PKT dalam infrastruktur penting, teknologi-teknologi dan layanan-layanan yang diperlukan untuk menjaga suatu negara tetap berfungsi, seperti transportasi, sistem keuangan, jaringan listrik, dan lain-lain. Bagi PKT, yang sedang mencari untuk membangun teknologi-teknologi dan produk-produk untuk infrastruktur penting; dan juga menjadikan terganggunya infrastruktur kritis tersebut sebagai tujuan utama dalam perencanaan masa perang.

PKT juga menggunakan program-program infrastruktur sebagai kuda Trojan pseudo-ekonomi memasuki negara-negara asing. Di negara-negara di seluruh Afrika, Amerika Latin, dan Asia, PKT sering membangun infrastruktur sembari mempertahankan pekerjaan dan manajemen di bawah kendali yang dimilikinya.

“Begitulah cara mereka menembus ruang infrastruktur kritis tersebut,” kata Olson. “Mereka punya uang untuk dibelanjakan.” (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular

Ad will display in 10 seconds