Erabaru.net. Aku Selly, kenal dan menikah dengan Rizal, suamiku lewat mak comblang. Suamiku berasal dari desa. Kami sama-sama kerja di kota, jadi, saat menikah, kami mempertimbangkan untuk langsung saja membeli rumah di kota.

Pihak keluarga dari suamiku tidak sanggup mengumpulkan uang sebanyak itu. Akhirnya, setelah dibicarakan, keluarganya hanya sanggup membantu sekitar 70 juta rupiah, sementara dari pihak keluargaku membantu sekitar 150 juta rupiah, sisanya kami tanggung bersama secara angsur.

Dua bulan setelah menikah, rumah kami tiba-tiba saja menjadi seperti hotel keluarga suamiku. Karena kami hanya tinggal berdua, jadi, masih ada satu ruang belajar dan satu kamar lain yang kosong.

Awalnya, paman dari suamiku bilang akan tinggal selama dua hari, aku pun bilang langsung tinggal di hotel saja, biayanya aku yang tanggung.

Lagi pula, aku merasa tidak nyaman dan repot kalau dikunjungi anggota keluarga, apalagi sampai menginap. Aku harus menyiapkan seprai dan mencuci lagi setelah mereka pergi. Sementara sorenya saat suamiku pulang kerja, aku harus menyiapkan makan malam lagi.

Namun, paman suamiku justru bilang tetap akan datang menginap, dan tidak masalah meski harus tidur di sofa. Aku pun tak berdaya, akhirnya membiarkannya tinggal sekitar 3 hari di rumah.

Selama tiga hari itu, aku benar-benar melayaninya dengan baik. Kebiasaan hidup paman suamiku itu tidak sama denganku. Selalu membuang sampah semaunya, membuatku harus selalu menyapu dan mengepel lagi. Merokok di kamar tidur, sampai-sampai abu rokok juga berantakan di tempat tidur.

Tak lama kemudian, adik sepupu suamiku juga datang menginap, alasannya untuk ujian kelulusan, dan ingin bermain bersama dengan teman-temannya.

Belakangan, datang lagi adik perempuan suamiku, juga menginap sementara sekitar satu bulan sambil mencari pekerjaan dan akan segera pindah begitu mendapatkan pekerjaan.

Namun, adik perempuannya hanya bermain game di rumah setiap hari, bermain dengan teman-temannya. Setiap hari aku harus memasak lagi untuknya dan suamiku saat pulang kerja.

Yang lebih menjengkelkan lagi, adik perempuannya bahkan pilih-pilih makanan, selalu saja mencari masalah dengan mengatakan masakanku tidak enaklah, terlalu asinlah dan sebagainya.

Sementara itu, suamiku juga ikut menimpali : “Masakan hari ini kenapa asin sekali, bisa masak gak sih kamu ?” kata suamiku.

Aku pikir, karena adik perempuannya tinggal sebulan di rumah, jadi aku pun tidak mau mempermasalahkan sikapnya. Tapi tak disangka, setelah tinggal selama satu bulan, dia tidak ingin kerja lagi, dia bilang ingin melanjutkan kuliah S2, dan berencana tinggal di rumah selama setengah tahun lagi.

Sehubungan dengan hal itu, suamiku tidak membicarakannya denganku dulu langsung menyetujuinya. Biasanya adik perempuan suamiku itu selalu menggerutu saat aku sedang bersih-bersih atau tertawa saat menonton TV.

“Bisa diam gak sih, aku sedang belajar, tahu!” katanya menggerutu.

Lama kelamaan, aku pun tak tahan lagi, dan menyatakan ketidakpuasanku pada suamiku, namun, suamiku justru berkata : “Kehadiran keluargaku saja tidak bisa kamu terima, bagaimana mau jadi istri yang baik. Kalau kamu menyuruh adikku angkat kaki dari sini, aku juga tidak akan tinggal di rumah ini lagi !”

“Oh begitu, ya sudah, kamu pulang saja bersama adikmu itu!” kataku mulai jengkel.

Pada sore itu juga, aku pun membuang semua barang-barang adik perempuan suamiku, dia pun marah, dan tidak pulang ke rumah.

Sampai saat ini, aku dan suamiku tidak saling kontak, masih dalam keadaan perang dingin.

Menurut teman-teman, benarkah sikap dan tindakan saya ini ? Apa aku harus berbaikan dengan suamiku ?

Terima kasih atas masukan teman-teman, terutama ibu rumah tangga yang sudah berpengalaman dalam hal ini.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular