LONDON — Institut Konfusius disebut-sebut sebagai program pendidikan yang menanamkan budaya dan bahasa Tionghoa, tetapi para kritikus mengatakan mereka telah mempromosikan propaganda Partai Komunis Tiongkok dan melarang mereka yang mengikuti kepercayaan tradisional Tionghoa.

Awal tahun ini, Komisi Hak Asasi Manusia Partai Konservatif Inggris meluncurkan penyelidikan ke Institut-institut Konfusius (IK). Hasil penyelidikan diharapkan akan diterbitkan sebelum Juli tahun ini.

“Jika itu hanya mengajarkan bahasa dan mempromosikan budaya, saya pikir semua orang akan menyambut itu,” kata wakil ketua komisi, Benedict Rogers. “Tetapi fakta bahwa mereka menggunakan propaganda Partai Komunis, dan fakta bahwa mereka tertanam di universitas-universitas, dan mempengaruhi kebebasan akademis yang lebih luas dari universitas tersebut adalah sangat memprihatinkan.”

Di Inggris, ada 29 IK dan 127 ruang kelas Konfusius yang terhubung ke universitas seperti Manchester, Cardiff, Newcastle, Nottingham, dan University College London. Ada sekitar 500 IK di seluruh dunia dan Tiongkok bertujuan untuk membuka total 1.000 pada tahun 2020, menurut penyelidikan.

Namun bahkan ketika ekspansi mereka ke Inggris tersebut direncanakan, keraguan-keraguan sedang bermunculan.

Pada tanggal 5 Juni, film dokumenter “In the name of Confucius” (Di Dalam nama Konfusius) diputar di Parlemen Inggris, di premier Inggris.

Film tersebut mengikuti kisah Sonia Zhao, seorang guru bahasa Mandarin di IK yang membelot ke Kanada. Pemaparannya tentang apa yang terjadi di balik pintu-pintu tertutup akhirnya mengarah pada penutupan pertama IK di Amerika Utara.

Doris Liu, sutradara film “In the name of Confucius”, mengatakan bahwa dengan standar Barat, beberapa bahan ajar yang digunakan dalam IK dapat digambarkan sebagai propaganda kebencian.

Sebuah contoh tentang ini, kata Liu, adalah lagu tema Tiongkok dari sebuah film propaganda tentang seorang pemuda yang menjadi prajurit di Partai Komunis Tiongkok. “Lagu tersebut adalah lagu tema dalam film yang mengatakan bahwa bocah lelaki itu harus memiliki kebencian terhadap para tuan tanah dan membunuh mereka,” katanya.

Dalam film Liu, Zhao, seorang praktisi Falun Gong, merasa ditekan untuk menandatangani kontrak kerjanya, yang menyatakan bahwa karyawan tidak diizinkan untuk berlatih Falun Gong, metode kultivasi jiwa dan raga yang telah secara brutal ditindas di Tiongkok sejak tahun 1999.

“Institut Konfusius melarang orang-orang dengan keyakinan agama tertentu atau memiliki pandangan-pandangan politik tertentu, untuk menjadi instruktur,” kata Liu.

Dia menambahkan, “Karakter dalam film saya Sonia Zhao memberi tahu saya ketika dia berlatih di Beijing sebelum dia dikirim ke Kanada, dia diberitahu untuk menghindari topik-topik tersebut, seperti Tibet, Falun Gong, di dalam kelas-kelas mereka. Jika dia dikejar oleh para mahasiswa untuk menjawab, dia hanya akan menyatakan garis partai tersebut.”

Pada tahun 2009, mantan penguasa propaganda Partai Komunis Tiongkok, Li Changchun, menggambarkan IK sebagai “bagian penting dari propaganda luar negeri Tiongkok.”

Rogers, wakil ketua komisi, mengatakan bahwa meskipun film dokumenter tersebut berbasis di Kanada, kekhawatiran tentang IK bersifat global.

“Apa yang terperinci dalam film tersebut, yang ada di Kanada, terjadi di seluruh dunia, dimanapun Institut-institut Konfusius berada,” katanya.

Bagi Miriam Lexmann, direktur International Republican Institute EU Office, film tersebut menyoroti seberapa cepat demokrasi-demokrasi bebas dapat diubah.

“Kita perlu membela kebebasan akademik di dunia Barat kita,” katanya. “Kita harus memastikan mereka yang menikmati demokrasi disadarkan betapa mudahnya demokrasi dapat berubah dan seberapa cepat segala sesuatu dapat diubah.”

Dr. Niall McCrae, dosen di King’s College London, menggemakan keprihatinannya.

McCrae mengatakan bahwa administrator di universitas-universitas Barat tampaknya cukup “naif” tentang IK.

“Saya harus jujur, saya tidak tahu tentang itu hingga saat ini,” katanya. “Saya sangat sadar bahwa ada lebih banyak mahasiswa Tionghoa di universitas saya, yang saya tidak ketahui adalah bahwa ada satu atau dua di antara kelompok-kelompok mahasiswa Tionghoa yang sebenarnya mata-mata pemerintah komunis untuk memata-matai rekan-rekan mereka. Hal semacam ini benar-benar mengejutkan saya.”

McCrae menambahkan bahwa lebih banyak tekanan yang diperlukan untuk diberikan kepada para pengelola universitas untuk masalah ini. “Kita seharusnya tidak khawatir mengenai anggapan-anggapan tentang xenophobia. Ini adalah untuk membantu, pertama dan terutama, untuk membantu mahasiswa-mahasiswa Tionghoa.” (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular

Ad will display in 10 seconds