Erabaru.net. Dia dijatuhi hukuman lima tahun penjara atas kasus penganiayaan yang menyebabkan cedera pada korbannya. Lima tahun kemudian, dia kembali menghirup udara bebas. Dengan tidak sabar, dia pun ingin segera pulang untuk menjenguk ibunya. Ibunya tak pernah menjenguknya selama dia mendekam di penjara, tetapi setiap tahun dia selalu menerima mantel yang dibuat oleh ibunya.

Sesampainya di rumah, dia melihat pekarangan rumahnya yang dulunya bersih telah ditumbuhi rerumputan liar, Dia bergegas ke rumah tetangga dan bertanya di mana ibunya. Tetangga yang melihat kepulangannya kemudian berkata pelan bahwa ibunya sudah lama meninggal.

Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan tetangganya, karena ibunya baru berusia 50 tahun, dan masih sehat, jadi tidak mungkin meninggal secepat itu tanpa sebab.

Tetangga yang melihatnya tidak percaya dengan kata-katanya, kemudian membawanya ke makam ibunya, dan dia terkejut ketika membaca nama ibunya terpahat di atas batu nisan.

Saat itu juga dia pun tidak bisa lagi menahan air matanya, dia jatuh berlutut dan meratap sedih. Ternyata satu tahun sebelum dia dibebaskan dari penjara, ibunya mengirim mantel yang terakhir untuknya.

Ibunya tidak sempat menyelamatkan diri dan dinyatakan tewas saat terjadi kebakaran hebat di pabrik tempat kerjanya.

Dia berlutut di depan pusara ibunya, dan merenung cukup lama di sana. Dia menyalahkan dirinya yang tidak bisa mengendalikan diri semasa muda.

Jika saja dia bisa menahan diri ketika itu, dia bisa memanfaatkan lima tahun waktunya itu bersama ibunya, tapi sekarang dia hanya bisa meratap pilu di depan makam ibunya.

Setelah menenangkan dirinya dari kesedihan, dia menjual rumah tua ibunya dan sambil membawa barang-barang peninggalan mendiang ibunya, dan mulai bekerja keras di kota.

Singkat cerita, 4 tahun pun berlalu, hasil kerja kerasnya lumayan sukses di kota, dia berhasil membuka sebuah restoran kecil, dan menikah dengan seorang gadis sederhana.

Karena dia dan istrinya mau bekerja keras dan makanannya bersih dan ekonomis, sehingga usaha restonya semakin berkembang.

Untuk memastikan kesegaran makanan, dia pergi ke pasar setiap pagi membeli sayur-mayur, dan kembali sibuk sepanjang hari di restonya.

Karena kurangnya istirahat dan tidak teratur, rambutnya pun rontok dan mulai tampak lingkaran hitam di matanya.

Hingga suatu hari, seorang wanita tua yang mukanya rusak seperti bekas terbakar datang ke restonya. Dia menawarkan sayuran dan daging segar dengan isyarat tangannya.

Sayuran dan daging di gerobaknya memang tampak segar, namun, karena muka wanita itu sangat menyeramkan, istrinya tidak mau membeli sayurannya. Sementara itu, suaminya yang melihat wanita tua itu tiba-tiba teringat dengan almarhumah ibunya.

Jika ibunya masih hidup, mungkin usianya sama dengan wanita penjual sayur mayur itu. Mungkin karena teringat ibunya, dia pun memborong semua sayuran dan daging wanita tua itu tanpa peduli dengan pertentangan istrinya.

Orang tua penjual sayur itu menepati janjinya, sayuran yang dikirim setiap jam 7 pagi itu memang sangat segar.

Dan selama 3 tahun berturut-turut, wanita penjual sayur itu setiap pagi selalu memasok sayur-mayur segar untuk restonya. Namun, dia tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Restoran kecil ketika itu kini telah berkembang menjadi restoran yang besar.

Tiba-tiba suatu hari, dia tidak melihat orang tua itu lagi di pintu masuk restorannya. Akhirnya, dia pun terpaksa menyuruh pegawainya untuk membeli sayuran di pasar.

Ketika pegawainya membawa pulang sayuran yang dibelinya, dia tampak kecewa melihat sayuran itu, karena tidak sesegar dan sebagus wanita penjual sayur langganannya.

Dia bisa melihat sayuran yang dijual wanita tua itu telah dipilih dengan hati-hati, setiap tangkainya memancarkan aroma sayuran yang segar.

Sejak itu, orang tua yang mengantar sayuran tidak pernah datang lagi. Pagi itu, kebetulan istrinya membuat pangsit ayam, tiba-tiba terbayang dalam benaknya, wanita tua penjual sayur yang telah bertahun-tahun memasok sayuran untuk restonya. Selama ini, dia belum pernah sekali pun menjamu orang tua itu untuk makan, walau sekadarnya.

Kemudian dia berkata kepada istrinya, bahwa dia ingin memberi sepiring pangsit untuk orang tua itu, sekalian menjenguknya kenapa tidak mengantar sayuran lagi. Istrinya pun menyiapkan pangsit untuk orang tua penjual sayur itu dan diberikan kepada suaminya.

Akhirnya, di sebuah pondok di luar dua jalan dari rumahnya, dia mendapatkan kabar mengenai alamat orang tua penjual sayur itu.

Dia berdiri di luar pintu rumah yang reyot, dan perlahan mengetuk pintu beberapa kali, rumah itu tak dikunci tetapi tidak ada yang datang membukakan pintu, kemudian dia mendorong perlahan pintu itu dan masuk ke dalam.

Di dalam rumah yang remang-remang, tampak wanita tua itu berbaring lemah di tempat tidur, dan sepertinya sangat susah walau sekadar untuk bicara.

Dia menaruh pangsit di atas meja dan bertanya apakah orang tua itu sedang sakit. Orang tua itu hanya melambai-lambaikan tangannya, dan tak mampu bicara.

Saat itu, dia melihat foto-foto yang dipajang di rumah itu. Tampak seraut wajah orang tua dan seorang bocah yang sangat familiar, dan memang itu adalah foto dirinya semasa kecil bersama dengan ibunya.

Sontak saja dia pun terkejut dan bertanya siapa orangtua itu ? Dan tak disangka, orang tua itu tiba-tiba membuka mulutnya sambil berkata dengan keras, “Anakku”.

Dia mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia tidak menyangka sama sekali, orang tua yang mengantar sayuran untuknya itu ternyata adalah ibu kandungnya. Dia pun seketika berlutut dan berteriak : Ibu, engkaukah itu ?

Setelah menenangkan diri sejenak, ibunya kemudian menceritakan peristiwa delapan tahun silam. Ternyata ibunya tidak tewas seperti yang dikatakan penduduk sekitar saat terjadi kebakaran pabrik kala itu, tetapi wajahnya hancur karena kebakaran hebat itu.

Karena miskin, ditambah dengan raut wajahnya yang menyeramkan, ibunya pun berpikir, hanya akan merepotkan putranya, dan bahkan kelak bisa jadi tidak ada seorang gadis yang mau dengan putranya, karena punya ibu yang menyeramkan.

Karena pertimbangan itulah, dia pun minta tolong kepada tetangganya agar merahasiakan tentang dirinya, meminta mereka untuk menceritakan bahwa dirinya sudah tewas karena kebakaran itu.

Belakangan, dia mendengar putranya merantau di kota untuk, dia pun pergi ke kota, bekerja sebagai pemulung sambil mencari tahu tentang keberadaan putranya.

Akhirnya, usaha kerasnya membuahkan hasil. Suatu hari dia melihat putranya, tetapi dia sedih ketika melihat putranya sangat sibuk, banting tulang dari pagi sampai malam, hingga tidak bisa istirahat secara teratur.

Untuk membantu meringankan beban putranya, dia mulai membeli sayuran dan secara khusus memasoknya untuk putranya selama 3 tahun berturut-turut.

Sampai sekarang, dia jatuh sakit dan tidak bisa mengantar sayur lagi untuknya.

Air mata putranya pun tak terbendung lagi setelah mengetahui rahasia tentang kebakaran itu, dia menangis sambil memeluk ibunya.

Kemudian, dia membawa ibunya pulang ke rumah. Namun, karena sakit yang dideritanya, akhirnya ibunya meninggal satu bulan kemudian, tapi dia merasa itu adalah masa-masa yang paling membahagiakannya selama hidupnya.

Dia mencurahkan segenap kemampuannya untuk membalas cinta kasih ibunya. Tapi, dia sadar, bahwa semua yang dilakukannya itu tidak sebanding dengan semua pengorbanan ibunya semasa hidup hingga ajal menjemput.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 10 seconds