Erabaru.net. Orang miskin hidup hemat dan sederhana, hanya membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari, tidak berani melirik barang –barang mewah, apalagi membelinya, semua ini agar dapat menikmati hidup yang lebih nyaman di masa depan, tidak perlu lagi hidup dalam keprihatinan.

Di Australia, ada sepasang suami istri yang hidup dalam ‘kemiskinan’ selama lebih dari 30 tahun, dan sebagai imbalannya adalah 15 unit rumah mewah dan deposito besar, namun, sang istri tidak tahu menahu dengan semua itu. Hingga saat istrinya memutuskan untuk bercerai, dia terkejut mengetahui suaminya memiliki banyak properti.

Ilustrasi. (Foto: video screenshot)

Joanne, seorang wanita berusia 63 tahun yang tinggal di Gold Coast, Australia, telah menikah dengan suaminya selama lebih dari 30 tahun. Selama lebih dari 3 dekade itu, mereka hidup hemat dan sederhana, namun, sederhana di sini adalah hidup dalam keprihatinan.

Karena suaminya adalah “kepala keuangan” keluarga yang bertanggung jawab mengelola keuangan, sehingga Joanne hanya bisa mendapatkan biaya hidup dalam jumlah tetap setiap minggu dari suaminya.

Setiap saat dia ingin membeli sesuatu untuk anaknya atau dirinya sendiri, dia tidak bisa memintanya dari suaminya, karena suaminya akan menolaknya dengan alasan membuang-buang uang, karena itu, Joanne selalu hidup dalam keprihatinan.

Ilustrasi. (Foto : Pixabay)

Suaminya juga sering berkata pada Joanne, “Tidak ada uang di rumah, juga tidak banyak aset yang kita miliki. Jadi, biaya hidup setiap minggu harus dikontrol secara ketat.”

Hal ini membuat Joan selalu mengkhawatirkan pengeluaran keluarga dan sangat percaya dengan apa yang dikatakan suaminya, karena itu, dia tidak pernah meminta untuk melihat rekening bank dan buku tabungan suaminya.

Sampai suatu hari, suaminya mulai menjaga jarak dan bersikap kasar pada Joanne, hal ini membuat Joanne curiga suaminya “punya simpanan atau selingkuh” di luar, sehingga membuatnya tak tahan dan setelah mempertimbangkan dengan matang, Joanne memutuskan untuk bercerai.

Ilustrasi. (Foto: Pexels)

Ketika Joanne menyewa seorang pengacara untuk mengurus perceraiannya, dia terhenyak seketika saat pengacaranya mengatakan “Kalian memiliki sejumlah besar aset dan 15 unit rumah dengan harga yang sangat tinggi, selain itu juga sejumlah deposito dengan jumlah yang besar.”

Joanne tercengang mendengar keterangan pengacaranya, dan untuk sesaat tidak dapat mencerna kabar itu setelah lebih dari 3 dekade hidup dalam ‘kemiskinan’.

Joanne merasa tertipu dan sangat kecewa menjalani hidup miskinnya di masa lalu, dan membulatkan tekatnya untuk bercerai dengan suaminya.

“Kita sama sekali tidak kekurangan uang, dan saya merasa tertipu olehnya. Saya tidak berani percaya kalau saya bisa hidup ekstrim hemat seperti itu selama lebih dari 30 tahun,” kata Joanne

Ilustrasi. (Foto: Pexels)

Akhirnya, Joan mendengarkan nasihat pengacaranya. Untuk memenangkan hak asuh anak-anak, kuncinya terletak pada masalah ekonomi. Dia memutuskan ke pengadilan bersama suaminya dan akhirnya berhasil mendapatkan setengah dari asset dan rumah mewah.

Setelah cerai, Joan, yang telah memiliki kemampuan finansial, hal pertama yang ingin dilakukannya adalah mewarnai rambut putihnya menjadi hitam dan mengawali hidupnya dengan lebih baik/nyaman untuk menebus penderitaan hidup yang dijalaninya selama bertahun-tahun di masa lalu.

Ilustrasi. (Foto : Pexels)

Tak dipungkiri, terjadinya pertengkaran suami istri umumnya tak lepas dari masalah ekonomi. Sebenarnya, terlepas dari kaya atau miskin, umumnya pasti akan terjadi pertengkaran karena uang.

Dan memang akan melukai perasaan jika sudah berbicara tentang uang! Tapi, terlepas dari itu, semuanya tergantung pada individu masing-masing bagaimana melihat posisi uang itu. (jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular