Dalam siaran pers 12 Juni, Departemen Perdagangan AS mengumumkan bahwa mereka memulai penyelidikan apakah tabung gas propana baja dari Tiongkok, Taiwan, dan Thailand diekspor dengan praktik dumping di Amerika Serikat dengan harga yang jauh lebih rendah, persaingan yang ketat dari hasil olahan pabrik-pabrik Amerika.

Tabung-tabung gas tersebut adalah tabung gas propana portabel yang biasa digunakan untuk memanaskan dan memberi tenaga gerak benda-benda yang dipindah.

Penyelidikan dimulai setelah perusahaan Amerika, Worthington Industries, yang berbasis di Columbus, Ohio, dan Manchester Tank & Equipment Co yang berbasis di Franklin, Tennessee, mengajukan petisi. Mereka mengklaim bahwa pemerintah Tiongkok memiliki 18 program subsidi yang membantu pengusaha-pengusaha pabrik Tiongkok memproduksi tabung gas propana, yang kemudian dilempar ke pasar Amerika Serikat dengan harga yang jauh lebih rendah dari nilai pasar.

“Selama beberapa tahun terakhir, Tiongkok, Thailand dan Taiwan telah cukup agresif dalam menjual tabung gas propana dengan harga yang jauh lebih rendah daripada industri domestik,” kata Cathy Lyttle, juru bicara Worthington Industries, mengatakan kepada Columbus Dispatch dalam laporan 13 Juni. “Dan itu telah menurunkan harga dan mengambil penjualan dari para produsen AS.”

Komisi Perdagangan Internasional AS (ITC) akan melakukan penyelidikan awal mengenai apakah impor dari Tiongkok, Taiwan, dan Thailand telah merugikan industri domestik pada 6 Juli. Jika tekad seperti itu dibuat, Departemen Perdagangan akan melanjutkan penyelidikan, hasilnya akan diumumkan pada bulan Agustus dan Oktober.

Departemen Perdagangan mengatakan akan memberlakukan bea masuk impor tabung gas propana baja jika dipastikan bahwa dumping dan subsidi-subsidi pemerintah yang tidak adil itu memang ada.

dumping tabung gas china tiongkok
Tabung gas propana. (ubonwanu / Shutterstock)

Pada tahun 2017, tabung gas propana baja yang diimpor dari Tiongkok, Taiwan, dan Thailand bernilai sekitar $89,8 juta, $10,1 juta, dan $14,1 juta, masing-masing, menurut Departemen Perdagangan, dengan jutaan sedang dijual.

Pajak anti dumping telah menjadi pusat ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Pada bulan Februari, Departemen Perdagangan pertama kali menemukan bahwa impor aluminium dan produk baja dari Tiongkok telah disubsidi oleh pemerintah Tiongkok dan dilempar di pasar AS. Ia kemudian mengumumkan tarif-tarif terhadap impor-impor Tiongkok. Tiongkok kemudian mengumumkan tarif pembalasan atas barang-barang pertanian Amerika.

Pada bulan Mei, ketika Departemen Perdagangan menemukan bahwa produk-produk baja yang dibuat di Vietnam sebenarnya berasal dari Tiongkok, dan karenanya dikenakan bea masuk impor baja Vietnam, Kanada mengikuti dengan penyelidikan dumping baja yang diimpor dari Tiongkok, Vietnam, dan Korea Selatan. Bulan itu, Uni Eropa juga membuka penyelidikan atas lembaran baja yang diimpor dari Tiongkok.

Industri-industri Amerika lainnya juga mengeluhkan praktik dumping oleh pabrikan-pabrikan Tiongkok. Pada bulan April, sebuah produsen kuarsa permukaan Amerika, Cambria Company, mengajukan petisi kepada ITC, mengklaim bahwa produsen Tiongkok mendapat manfaat dari subsidi pemerintahnya. Produk permukaan kuarsa biasanya digunakan untuk membuat permukaan licin dan datar pada dapur dan kamar mandi sehingga berkesan mewah.

Pada 2017, Amerika Serikat adalah pasar ekspor terbesar bagi Tiongkok untuk batu-batu sintetis buatan manusia, senilai $709 juta, termasuk produk kuarsa, menurut situs web produsen Tiongkok. Angka tersebut mewakili lebih dari 60 persen total ekspor Tiongkok untuk batu-batu sintetis.

Pada 24 Mei, Departemen Perdagangan mengatakan akan menyelidiki klaim dumping setelah produsen serat poliester Amerika mengajukan petisi menentang impor dari Tiongkok, India, Korea Selatan, dan Taiwan.

Ada lebih dari 114 penyelidikan anti dumping baru dan pajak impor yang dikenakan pada barang-barang tertentu untuk mencegah dumping sejak Presiden Donald Trump berkuasa, 78 persen lebih dari jumlah yang diprakarsai selama tahun terakhir pemerintahan mantan presiden Barack Obama, menurut Departemen. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular