EpochTimesId – Sebuah jajak pendapat terbaru mengungkapkan bahwa terorisme dan imigrasi menjadi keprihatinan dan kekhawatiran utama bagi orang-orang Eropa. Akan tetapi, mereka menunjukkan optimisme tentang masa depan Uni Eropa.

Jajak pendapat Eurobarometer yang digelar dua kali dalam setahun oleh Komisi Eropa menemukan bahwa 38 persen dari 510 juta warga Uni Eropa paling prihatin dengan imigrasi. Termasuk pada sebagian besar warga di negara-negara yang tidak memiliki banyak imigran, seperti Estonia, Republik Ceko, dan Hongaria.

Sejak 2015, konflik Suriah telah mendorong lonjakan pengungsi ke Eropa, memberi tekanan terhadap sistem suaka Uni Eropa. Masalah itu juga menumpulkan selera publik untuk kebijakan perbatasan terbuka, dan memicu isu dan janji pengetatan sistem imigrasi dalam setiap pemilihan umum.

Pada 2015, lebih dari 1 juta migran menyeberang ke Eropa, dengan 307.000 orang diberikan suaka. Sekitar setengah dari mereka berasal dari Suriah, Irak, dan Afghanistan. Ini meningkatkan kekhawatiran bahwa teroris ISIS menyusup ke Eropa bersama pengungsi.

Terorisme menjadi perhatian terbesar bagi 29 persen orang di Uni Eropa, survei itu menemukan. Namun, sekali lagi, itu adalah yang tertinggi di negara-negara yang belum pernah mengalami serangan teroris baru-baru ini, seperti Lithuania, Siprus, Irlandia, Republik Ceko, Bulgaria, Polandia, dan Latvia.

Survei ini dilakukan pada akhir Maret di 28 negara Uni Eropa, serta lima negara kandidat Uni Eropa seperti Bekas Republik Yugoslavia Makedonia, Turki, Montenegro, Serbia, dan Albania, serta Komunitas Siprus Turki.

Hasil survei menunjukkan bagaimana warga menilai pemerintah mereka dan Uni Eropa sendiri, menangani isu-isu yang terkait dengan kebijakan Komisi Eropa seperti perdagangan dan pergerakan bebas.

Kanselir Jerman, Angela Merkel tiba di KTT pemimpin Uni Eropa di Dewan Eropa pada 14 Desember 2017 di Brussels, Belgia. (Dan Kitwood/Getty Images)

Ada sedikit peningkatan dalam tingkat kepercayaan terhadap Uni Eropa sejak musim gugur 2017. Tingkat kepercayaan naik satu persen menjadi 42 persen.

Namun, 48 persen mengatakan mereka cenderung tidak mempercayai Uni Eropa. Dengan 49 persen mengatakan mereka merasa suara mereka tidak didengar.

Jumlah ini naik dari tingkat terendah historis pada 2013, ketika kepercayaan terhadap Uni Eropa turun menjadi sekitar 30 persen.

Meningkatnya Optimisme
Meskipun Inggris meninggalkan Uni Eropa bulan Maret, optimisme bagi masa depan blok masih meningkat. Kini mencapai 58 persen, tertinggi sejak musim semi 2015.

Memang, hanya Yunani dan Inggris yang pesimis tentang masa depan Uni Eropa. Meskipun demikian, Inggris dalam beberapa hari terakhir menekankan bahwa mereka ingin bekerja sama dengan Uni Eropa bahkan setelah meninggalkan blok tersebut.

David Lidington, seorang menteri kabinet Inggris, mengatakan kepada surat kabar Frankfurter Allgemeine bahwa Inggris terbuka untuk kemitraan erat dengan Eropa pada kekuatan intervensi krisis setelah meninggalkan Uni Eropa.

Mengenai ekonomi, di Italia, Prancis, dan Spanyol, tiga dari empat ekonomi terbesar di zona euro, mayoritas orang percaya situasi ekonomi Eropa ‘buruk’.

Ini kontras dengan 25 negara lain, yang warganya percaya bahwa ekonomi UE ‘baik’, menurut jajak pendapat.

Sebagian besar mendukung mata uang tunggal, euro, yang dukungannya tidak berubah pada tingkat 74 persen. Antusiasme tertinggi ada di Estonia, dengan 88 persen, dan Irlandia dan Slovenia, keduanya di 84 persen.

Di Italia, bagaimanapun, di mana ‘koalisi euro-skeptis’ terpilih untuk berkuasa baru-baru ini, dukungan untuk euro berada di level 61 persen.

Survei menunjukkan bahwa delapan lebih dari sepuluh responden mendukung gerakan bebas warga negara Uni Eropa dengan hak untuk hidup, bekerja, belajar, dan melakukan bisnis di mana saja di UE.

Dukungan untuk memperbesar Uni Eropa juga lumayan, dengan 44 persen mendukung, dan 46 persen menentang.

Mayoritas 58 persen warga Uni Eropa melihat pergerakan bebas orang, barang dan jasa sebagai pencapaian terbesar dari blok tersebut. Diikuti 54 persen suara untuk perdamaian di antara negara-negara Uni Eropa. (The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular