EpochTimesId – Beberapa maskapai penerbangan asing termasuk dari Amerika Serikat menolak permintaan Partai komunis Tiongkok (PKT) untuk mengganti nama Negara Taiwan (Republik of China). Para maskapai menyampaikan penolakan dengan dukungan kuat dari pemerintah AS.

Pada 25 April 2018 lalu, PKT mengeluarkan surat tertulis yang ditujukan kepada 36 maskapai penerbangan asing. Isi surat itu meminta kepada maskapai untuk mengubah nama Taiwan baik dalam situs internet dan peta dalam waktu 30 hari. Jika tidak, maka maskapai bersangkutan akan menghadapi hukuman berat.

Gedung Putih pada bulan Mei secara terbuka menuduh PKT, menyatakan bahwa tindakan itu tidak ada bedanya dengan omong kosong ala Orwellian. Senator bipartisan juga mendesak perusahaan penerbangan untuk memboikot permintaan PKT yang mengandung intimidasi. Senator mengistruksikan perusahaan untuk memberitahu PKT bahwa yang berhak menangani isu tersebut adalah urusan pemerintah Amerika Serikat bersama Pemerintah Tiongkok.

Wall Street Journal dalam laporannya menyebutkan bahwa, walau PKT mengklaim bahwa Taiwan adalah bagiannya dari wilayah RRT. Namun, Taiwan memiliki pemerintahan sendiri yang dipilih oleh rakyatnya.

Partai Komunis Tiongkok baru-baru ini memperpanjang batas waktu bagi maskapai penerbangan untuk mengubah nama pada situs dan peta mereka sampai pada 24 Juni 2018 mendatang.

Tiga maskapai besar Amerika Serikat sejauh ini belum bersedia mengganti nama Taiwan. Juru bicara United Airlines mengatakan pada hari Rabu (13/6/2018), “Kami telah menyerahkan masalah ini kepada pemerintah AS karena hal ini menyangkut masalah diplomatik dan perlu diselesaikan antar pemerintah.”

Juru bicara Delta Airlines menjelaskan, perusahaan sedang berkonsultasi erat dengan pemerintah AS mengenai masalah ini. Seorang juru bicara American Airlines menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Hingga hari Kamis (14/6/2018) maskapai penerbangan dari Prancis, Jerman, Inggris, Kanada, maskapai penerbangan yang berada di Timur Tengah, dan di Asia seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Turki telah mengubah konten sebagaimana yang diminta PKT.

Akan tetapi, dua maskapai penerbangan Hongkong (Cathy Pacific dan Hongkong Airlines), 3 maskapai AS (United Airlines, American Airlines, Delta Airlines), 2 maskapai Jepang (All Nippon Airways, Japan Airlines), 2 maskapai Korea Selatan (Korean Air, Korean Air Asia) dan Air India, Vietnam Airlines semua belum melakukan perubahan nama Taiwan.

China Daily melaporkan bahwa negara-negara di mana maskapai penerbangan ini berada memiliki alasan historis atau politis untuk memungkinkan mereka beralasan untuk memboikot tuntutan PKT.

“Ini adalah satu lagi bukti bahwa PKT ingin memanfaatkan kekuatan dari pertumbuhan output mereka untuk mengekspor pandangan sendiri (komunis) kepada dunia. Dengan niat untuk mengatur perilaku organisasi, negara dan perusahaan di seluruh dunia,” ujar Ken Jarrett, Ketua KADIN AS untuk Shanghai.

Pemerintah Tiongkok sedang ‘mengekspor’ pandangan globalnya. Tahun ini saja, setidaknya selusin perusahaan Barat, termasuk Marriott International, Zara Garment dan Mercedes-Benz, telah diperintahkan oleh pemerintah Tiongkok untuk mengubah konten situs mereka. Sebagian besar perusahaan memilih untuk tunduk pada PKT karena takut jika kepentingan ekonomi mereka di Tiongkok terganggu dan bahkan terputus.

Tapi permintaan PKT tampaknya telah ditolak oleh pemerintahan Trump serta tentangan keras dari anggota senat lintas partai. Pemerintah Amerika Serikat menentang pemerintah Tiongkok untuk ikut campur dalam urusan perusahaan AS.

Tuntutan ini justru terjadi pada saat hubungan Tiongkok-AS sedang tegang gara-gara urusan perdagangan. Dan, hubungan AS-Taiwan sedang membaik. Gedung American Institute in Taiwan (AIT) di Neihu, Taiwan telah diresmikan pada 12 Juni. Ini mungkin telah menimbulkan ketidakpuasan PKT.

Dunia luar percaya bahwa upaya PKT untuk mengekspor pandangan mereka ke dunia dan memaksa perusahaan asing mengikuti apa yang PKT mau akan menyebabkan lebih banyak kebencian dan resistensi dari masyarakat Barat. (Lin Yan/ET/Sinatra/waa)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular