Wakil Kepala Negara Tiongkok Wang Qishan melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia sehari setelah Presiden Trump mengumumkan penarikan dirinya dari KTT dengan Kim Jong-un (24 Mei).

Di Rusia, Wang menyikapi soal isu perang perdagangan dengan Amerika Serikat dan denuklirisasi Korea Utara. Ia juga menyinggung soal hal terburuk yang akan dihadapi Tiongkok dan garis bawah sebagai pegangan Zhongnanhai, kata-kata yang mengandung sejumlah sinyal  tersembunyi.

oleh Sima Jing – EpochWeekly

Pada saat Tiongkok dan Amerika Serikat sedang bergelut dan bernegosiasi tentang perang dagang, Kim Jong-un tiba-tiba mengubah sikap menjadi tangguh terhadap AS dan mengancam hanya ingin membongkar fasilitas nuklir bertahap setelah ia 2 kali menemui Xi Jinping dalam waktu kurang dari 40 hari.

Presiden AS kemudian secara terbuka menuduh pihak Tiongkok sebagai faktor utama yang  mempengaruhi Kim Jong-un. Oleh karena itu Trump mengumumkan pengunduran dirinya dari KTT di Singapura dan mengeluarkan peringatan militer kepada Korea Utara pada waktu yang sama.

Setelah itu Kim Jong-un melemah dan berinisiatif untuk meminta bertemu lagi dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Sementara itu Wang Qishan yang berada di Rusia menyikapi isu perang dagang dengan AS dan denuklirisasi Korea Utara.

Tiongkok sudah siap menghadapi hal terburuk yang akan terjadi

Wang Qishan berada di Rusia dari 25 – 29 Mei, ini adalah kunjungan kenegaraan pertamanya sejak ia menjabat Wakil Kepala Negara Tiongkok.

Kantor berita Rusia Sputnik melaporkan bahwa, ketika menghadiri forum internasional ekonomi ke-22 di kota St. Peterburg pada 25 Mei, Wang Qishan dalam membahas isu perang dagang yang belakangan ini menjadi perhatian dunia, ia mengatakan bahwa kedua belah pihak masih sedang gencar melakukan negosiasi untuk menghindari terjadinya perang dagang.

Pihak Tiongkok telah belajar banyak dari pihak AS. Dan, memandang perlu untuk bekerjasama. Wang Qishan kemudian menambahkan bahwa pihak Tiongkok juga sudah siap untuk menghadapi situasi terburuk.

Wang juga mengatakan bahwa Semenanjung Korea memiliki hubungan kepentingan dengan Tiongkok, karena itu Tiongkok mengharapkan semenanjung berada dalam situasi damai dan stabil. Tiongkok tidak ingin melihat keributan atau peperangan terjadi di semenanjung. Ini  merupakan garis bawah Tiongkok. “Untuk mencapai semenanjung yang damai dan stabil, maka denuklirisasi Semenanjung Korea adalah suatu keharusan” tegas Wang Qishan.

Menurut Wang bahwa pembatalan KTT antara AS dengan Korut hanyalah sebuah ‘selingan’. “Dari berita TV yang saya saksikan, baik pembicaraan presiden AS atau Korea Utara, masing-masing masih meninggalkan ruang untuk berjaga-jaga. KTT itu penting, sekarang bertambah lagi dengan ‘selingan’, Saya selalu berpikir bahwa sesuatu yang baik itu akan muncul banyak liku-likunya, tetapi kita harus memiliki keyakinan.”

Wang Qishan adalah sekutu politik paling penting bagi Xi Jinping. Sejak akhir tahun lalu meninggalkan Komite Tetap Politbiro, kemudian diangkat sebagai Wakil Kepala Negara melalui keputusan Dwi Konperensi. Wang Qishan sudah bekerja selama 70 hari (sejak 17 Maret hingga 25 Mei). Dalam masa itu, Wang telah 18 kali menghadiri acara-acara publik yang hampir semuanya adalah urusan luar negeri.

Di Rusia, Wang Qishan menyikapi isu perang dagang dengan AS dan isu nuklir Korea Utara. Menyinggung soal Tiongkok sudah siap untuk menghadapi situasi terburuk, garis bawah dan lain sebagainya yang mengandung sinyal  tersembunyi.

Pertama, kedua inti utama yang disampaikan oleh Wang tersebut seharusnya mewakili apa yang menjadi kekhawatiran Xi Jinping dan perwakilan lainnya dari Zhongnanhai.

Kedua, keberanian Wang mengungkapkan kedua isu termaksud telah menunjukkan bahwa ia terlibat langsungnya dan pengambilan keputusan terhadap isu-isu itu, termasuk juga menyoroti hubungan dekatnya dengan Xi Jinping.

Ketiga, tentang Tiongkok sudah siap menghadapi situasi terburuk seperti yang disampaikan Wang memberikan sinyal bahwa Xi Jinping telah sepenuhnya menyadari konsekuensi serius dari sikap keras pemerintah AS yang kemudian memicu perang dagang. Hal ini juga menjelaskan mengapa Tiongkok selama ini berusaha mengalah dalam suasana perang dagang terus meningkat.

Keempat, sebagaimana yang dikatakan Wang Qishan “Untuk mencapai semenanjung yang damai dan stabil, maka denuklirisasi Semenanjung Korea adalah suatu keharusan”. Hal ini dapat diartikan bahwa Tiongkok memiliki pandangan yang sama dengan pemerintahan Trump. Juga sebagai komitmen atas jaminan keamanan rezim kepada Kim Jong-un.

Wang dalam penyampaian sikapnya juga menyebutkan bahwa KTT AS – DPRK itu memiliki arti yang sangat penting. Sementara terjadinya pembatalan itu merupakan ‘selingan’ belaka.

Isu Nuklir Korut dan perang dagang merupakan stimulator

Dengan menggabungan antara pernyataan sikap yang disampaikan oleh Wang Qishan dengan  kinerja abnormal rezim Kim Jong-un sebelum dan sedang terjadinya proses negosiasi untuk menghindari perang dagang Tiongkok – AS serta munculnya pembatalan KTT, tidak sulit untuk menemukan bahwa, di satu sisi, pihak Tiongkok memanipulasi rezim Kim Jong-un untuk mengganggu KTT demi menaikkan daya tawar menawar Tiongkok dalam negosiasi perdagangan dengan AS, dan masalah nuklir Korea Utara. Di sisi lain, Tiongkok sebenarnya sangat takut jika KTT gagal dilaksanakan, Intinya adalah untuk memberi tekanan kepada Kim Jong-un agar mencapai penyelesaian negosiasi masalah nuklir Korut lewat KTT. Karena situasi inilah yang paling bermanfaat bagi Tiongkok.

Karena jika saja KTT tidak terlaksana, maka isu nuklir Korea Utara dan perang dagang 2 unsur tersebut akan menjadi stimulator. Tidak saja militer AS telah berada dalam posisi, Amerika Serikat juga akan meningkatkan tekanan melalui sanksi terhadap Tiongkok. Tiongkok akan menghadapi konfrontasi dengan Amerika Serikat baik di tingkat perdagangan maupun tingkat  militer. Ini akan menjadi bencana bagi rezim Tiongkok komunis yang sedang mengalami kesulitan internal dan eksternal.

Sejak Trump berkuasa, ia tetap bersikap keras dalam menghadapi masalah krisis nuklir Korea Utara dan isu-isu perdagangan dengan Tiongkok. Ia berada di atas angin, karena dilatar-belakangi oleh situasi internasional untuk menyapu bersih komunisme dari dunia sedang terbentuk.

Senjata nuklir rezim Kim Korea Utara selama ini dikendalikan oleh Tiongkok dan digunakan sebagai sarana untuk melakukan intimidasi nuklir dan pemerasan terhadap masyarakat Barat. Dengan denuklirisasi Korea Utara setara dengan rezim Tiongkok komunis ‘menanggalkan sendiri senjata’. Namun perang dagang dengan AS yang merupakan faktor menghambat pertumbuhan ekonomi Tiongkok masih menjadi ancaman.

Isu baik perang dagang maupun isu nuklir Korea Utara dapat dikatakan saat ini masih berjalan menurut ‘skenario’ pemerintahan Trump, efek pukulan knock-on masih dirasakan Tiongkok. Dalam pengertian lain bahwa reaksi berantai yang mengarah pada pembubaran PKT sedang bergerak.

Xi Jinping, Wang Qishan yang terlibat dalam permainan ini, pasti lebih memahami keseriusan krisis. Apa saja bottom-line yang mereka tetapkan untuk menanggulangi masalah, pilihan apa saja yang akan dibuat, mari kita tunggu perkembangannya lebih lanjut. (Sin/asr)

Share

Video Popular