- Erabaru - http://www.erabaru.net -

LGD Korea Selatan Terancam Mentransfer Teknologi untuk Membuka Pabrik di Tiongkok

Mundur ke belakang bulan Desember 2017, ketika pemerintah Korea Selatan memberikan persetujuan kepada LG Display (LGD), anak perusahaan konglomerat Korea Selatan LG Corp, untuk membangun pabrik manufaktur di kota Guangzhou Tiongkok selatan untuk memproduksi panel TV berteknologi tinggi, Otoritas Korea Selatan mendesak LGD untuk menetapkan langkah-langkah dalam melindungi teknologinya dari pencurian.

Setelah semua, teknologi canggih, yang dikenal sebagai organic light-emitting diode (OLED), dianggap berharga bagi perekonomian negara dan biasanya dibatasi dalam ekspornya guna melindungi industri domestik. LGD berencana untuk menginvestasikan 5 triliun won (sekitar $4,5 miliar) ke dalam pabrik tersebut, menurut laporan Business Korea, sebuah majalah Korea Selatan, melihat potensi dalam permintaan global yang terus meningkat untuk layar televisi OLED.

Tindakan berhati-hati untuk pencegahan tersebut terbukti terus terjadi, karena media Korea Selatan baru-baru ini melaporkan bahwa rezim Tiongkok telah menekan LGD untuk mentransfer teknologi pembuatan OLED sebagai syarat dalam menyetujui pembangunan pabrik tersebut.

Otoritas Tiongkok juga menekan LGD untuk mendirikan pusat penelitian dan pengembangan OLED di Tiongkok dan memperoleh lebih banyak komponen-komponen dan bahan-bahan yang diproduksi Tiongkok, menurut laporan 4 Juni oleh Hankyung News, sebuah publikasi bisnis Korea Selatan.

Para pembuat layar tampilan Tiongkok saat ini mampu memproduksi panel OLED untuk smartphone, tetapi belum mengembangkan teknologi untuk memproduksi panel OLED besar untuk layar TV, tambah Hankyung News. LGD juga merupakan satu-satunya pabrikan massal untuk panel-panel OLED besar yang digunakan di TV, menurut Business Korea.

Untuk mendirikan pabrik tersebut, yang dijadwalkan untuk mulai produksi pada tahun 2019, LGD mengadakan usaha patungan dengan pemerintah kota Guangzhou, dengan LDG mengambil 70 persen saham dan pemerintah kota mengambil 30 persen saham. Perusahaan patungan tersebut sedang menunggu persetujuan dari Kementerian Perdagangan Tiongkok, menurut situs berita bisnis Korea Selatan, The Bell.

Dipaksa Mentransfer Teknologi

Fenomena terus-menerus tentang transfer teknologi paksa di Tiongkok telah menjadi salah satu isu inti pemerintahan AS, Presiden Donald Trump telah berusaha untuk mengatasi melalui sanksi-sanksi perdagangan melawan Tiongkok. Seperti di dalam kasus LGD, perusahaan-perusahaan asing sering ditekan untuk mentransfer teknologi mereka sebagai pertukaran untuk akses pasar.

LGD dari LG korea selatan [1]
Para pengunjung melihat tampilan rekaman bawah air dari langit-langit yang diisi dengan TV OLED 4K yang cembung dan datar oleh LG pada Pameran Elektronik Konsumen 2017 di Las Vegas, Nevada pada 7 Januari 2017. (Frederic J. Brown / AFP / Getty Images)

Laporan investigasi kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) tentang praktik-praktik pencurian kekayaan intelektual oleh Tiongkok, yang dipublikasikan pada bulan April, menemukan bahwa transfer teknologi paksa semacam itu sering menjadi bagian dari strategi rezim Tiongkok untuk mencuri teknologi yang bermanfaat bagi pengembangan industri berteknologi tinggi dalam negeri.

Kebijakan industri “Made in China 2025” rezim tersebut menguraikan bagaimana kebijakan tersebut berusaha mengejar pesaing-pesaing asing dan akhirnya menggantikannya melalui akuisisi dan alih teknologi asing.

Laporan USTR menemukan bahwa untuk perusahaan-perusahaan teknologi AS, tekanan untuk mentransfer teknologi “sangat kuat.” Menurut survei anggota US-China Business Council’s 2017, bahwa 19 persen dari perusahaan yang menanggapi mengatakan bahwa pada tahun lalu mereka telah diminta secara langsung untuk transfer teknologi. Dari jumlah tersebut, 33 persen mengatakan bahwa permintaan tersebut berasal dari entitas pemerintah pusat, sementara 25 persen mengatakan berasal dari pemerintah lokal.

Tindakan Pencegahan

Pemerintah Korea Selatan juga waspada terhadap taktik Tiongkok. Pemerintah berwenang mengambil waktu lima bulan untuk meninjau ulang rencana pabrik LGD tersebut sebelum memberikan persetujuan, mengusulkan beberapa ketentuan kepada LGD untuk mencegah transfer teknologi.

Syaratnya adalah: meningkatkan proporsi bahan-bahan yang disediakan pemasok Korea Selatan hingga sekitar 70 persen; menetapkan tindakan pencegahan untuk mencegah arus keluar teknologi, termasuk dengan membentuk satuan tugas bersama otoritas pemerintah dan memungkinkan mereka untuk memeriksa pabrik Tiongkok setiap enam bulan; dan memastikan bahwa inovasi OLED terbaru akan dikembangkan hanya di Korea Selatan, menurut Hankyung News.

Ketika kesepakatan tersebut pertama kali disetujui, berita itu dilihat sebagai bukti untuk meningkatkan hubungan dengan Tiongkok.

Selama berbulan-bulan, rezim Tiongkok memblokir perusahaan Korea Selatan dalam melakukan bisnis di Tiongkok dan mendorong warganya untuk memboikot produk-produk Korea Selatan, setelah Korea Selatan setuju untuk menjadi tuan rumah sistem pertahanan anti-rudal Amerika di tanahnya untuk melawan ancaman nuklir Korea Utara. Tiongkok mengklaim sistem tersebut dapat memata-matai wilayah udara dan menggunakan langkah-langkah ekonomi untuk balas dendam pada Korea Selatan.

Sekarang, pemerintah Korea Selatan menghadapi berbahaya di mana salah satu dari teknologi-teknologi intinya berisiko dipindahkan ke mitra Tiongkok jika mereka melakukan kesepakatan tersebut. (ran)

ErabaruNews