Ketika berita muncul bahwa Presiden AS Donald Trump mengancam untuk memberlakukan tarif 10 persen atas tambahan pada barang-barang Tiongkok senilai $200 miliar, telah membuat pasar saham Tiongkok jatuh.

Saham Shanghai turun hampir 4 persen, ke level rendah dalam dua tahun, pada 19 Juni.

Saham Hong Kong juga terpukul keras. Indeks Hang Seng jatuh hampir 3 persen ke level penutupan terendah dalam enam bulan.

Setelah Trump pertama kali mengumumkan pada 15 Juni bahwa ia akan melanjutkan dengan tarif senilai $50 miliar barang-barang Tiongkok, Tiongkok membalas dengan tarifnya sendiri atas barang-barang AS. Trump telah bersumpah dia akan memberlakukan tarif tambahan jika itu terjadi, dan bertindak cepat dengan kata-katanya dengan mengusulkan hukuman tambahan $200 milyar pada 18 Juni.

Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan kepada wartawan pada 19 Juni bahwa Trump memutuskan untuk menerapkan $200 miliar seandainya Beijing melanjutkan dengan tarif-tarif pembalasan.

“Jika mereka berpikir bahwa mereka [Tiongkok] dapat membeli kita dengan murah dengan beberapa produk tambahan yang dijual dan memungkinkan mereka untuk terus mencuri kekayaan intelektual dan permata-permata mahkota kita, itu adalah salah perhitungan,” kata Navarro, menegaskan kembali pendirian Trump bahwa praktik pencurian kekayaan intelektual oleh Tiongkok telah melukai ekonomi Amerika.

Investor di Tiongkok Gugup

Momok putaran baru sengketa perdagangan tersebut telah membuat para investor Tiongkok gugup. Mereka melepas saham-saham sehingga mempengaruhi semua orang, dengan lebih dari 1.000 saham turun dengan batas 10 persen harian mereka pada 19 Juni.

Yuan Tiongkok juga jatuh nilainya, menjadi 6,4754 terhadap dolar AS dalam perdagangan sore, terlemah sejak Januari.

Dalam tanda lebih lanjut dari kegelisahan terkait perdagangan, bank sentral Tiongkok secara tak terduga telah menyuntikkan 200 miliar yuan ($31 miliar) dalam dana jangka menengah ke dalam sistem perbankan pada 19 Juni. Para analis mengatakan langkah tersebut menunjukkan rezim Tiongkok khawatir tentang likuiditas dan potensi konsekuensi ekonomi dari perang perdagangan sepenuhnya.

Yi Gang, gubernur Bank Rakyat Tiongkok, mendesak para investor untuk tetap tenang. “Kita akan menggunakan kombinasi alat kebijakan moneter untuk menjaga likuiditas pada tingkat yang tepat dan stabil,” katanya.

Juga pada 19 Juni, bank sentral menerbitkan kertas kerja yang merekomendasikan agar bank-bank memotong rasio persyaratan cadangan mereka, persentase simpanan yang harus dimiliki bank sebagai uang tunai, tanda lain kecemasan atas keputusan-keputusan investor.

Karena Tiongkok telah menghadapi penurunan tajam dalam pertumbuhan investasi, beban utang yang meningkat, dan meningkatnya gagal bayar kredit, konflik perdagangan yang mengganggu dengan Amerika Serikat dapat membuat “situasi buruk sementara lebih buruk,” perusahaan jasa keuangan Jepang Nomura mengatakan dalam sebuah catatan pada 19 Juni.

Penilaian terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) tentang stabilitas keuangan Tiongkok menemukan bahwa total hutang negara tersebut, termasuk pemerintah pusat dan daerah, perusahaan, dan rumah tangga, mencapai 2,55 kali PDB (Produk Domestik Bruto).

“Sebagai seorang investor, saya tidak optimis dengan investasi saya,” Gu Xiaoliang, seorang investor pribadi berusia 31 tahun di Shanghai, mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara. “Saat ini, saya tidak memiliki penilaian yang jelas sehingga saya hanya akan menunggu dan melihat.”

Tanggapan Resmi

Tiongkok dengan cepat menggapi. Kementerian perdagangan negara tersebut berjanji bahwa seharusnya Trump maju terus dengan tarif $200 miliar, Beijing akan melawan dengan tindakan “kualitatif” dan “kuantitatif.”

Surat kabar yang dikelola negara, Global Times, juga menerbitkan editorial keras pada 19 Juni mencerca Trump. Ia meramalkan bahwa jika Tiongkok harus menyambut balasan atas tarif $200 miliar, Amerika Serikat dapat memberlakukan tarif lain sebesar $200 miliar lebih banyak barang-barang Tiongkok. Pada 19 Juni, Gedung Putih mengatakan pihaknya berencana untuk melakukan skenario ini jika Tiongkok membalas lebih jauh.

“Trump jelas mencoba menakut-nakuti Tiongkok,” katanya, mungkin menyadari bahwa Tiongkok akan kehilangan lebih banyak dalam sengketa perdagangan berlarut-larut. Amerika Serikat adalah pelanggan terbesar Tiongkok. Pada 2017, mereka membeli $505,47 miliar produk Tiongkok, menurut data AS.

Surat kabar tersebut lebih lanjut menyatakan bahwa keputusan Beijing untuk mengenakan tarif atas barang-barang Amerika adalah karena Amerika Serikat melanggar peraturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dengan terlebih dahulu mengenakan tarif pada impor-impor Tiongkok.

Amerika Serikat dan Uni Eropa telah mengajukan pengaduan-pengaduan ke WTO, menuduh kebijakan-kebijakan diskriminatif di Tiongkok yang telah membuat perusahaan-perusahaan asing dirugikan. Secara khusus, keduanya menekankan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika dipaksa untuk mentransfer hak paten teknologi kepada mitra-mitra usaha patungan mereka di Tiongkok. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular