Zhang Ting -Epochtimes.com

Pada 8 Mei lalu Presiden AS Donald Trump menyatakan mundur dari kesepakatan nuklir Iran, masyarakat internasional mendadak gempar. Seketika itu juga “Kesepakatan Nuklir” seolah terombang-ambing ke puncak pembahasan opini publik. Ada yang memuji tapi ada pula yang was-was bahwa Trump telah membuka kotak pandora, yang mungkin malah akan mendatangkan krisis di wilayah Timur Tengah.

Lalu, negara seperti apakah Iran? Ada apa dengan kesepakatan nuklir? Mengapa AS memutuskan untuk mundur? Dampak apa yang akan ditimbulkannya terhadap kesepakatan denuklirisasi Korut?

Selain itu, beberapa waktu lalu AS tengah berupaya menyeret kembali Iran ke meja perundingan untuk membuat kesepakatan baru. Kesepakatan seperti apakah yang diinginkan oleh AS? Masalah ini akan dibahas lebih lanjut pada artikel berikut.

Dan untuk benar-benar memahami kesepakatan nuklir Iran, harus dimulai dari memahami Iran.

Negara Seperti Apakah Iran?

Sebelum tahun 1501 dalam periode sejarah yang sangat panjang Iran disebut sebagai Persia, yang merupakan wilayah kekuasaan Kekaisaran Persia kuno. Waktu itu bangsa Persia memiliki kepercayaan Agama Zoroastrianisme, tapi kemudian Kekaisaran Persia ditaklukkan oleh Kerajaan Saudi Arabia, ajaran Islam pun dibawa masuk ke Persia, dan Ajaran Zoroastrianieme (Majusi) mulai pudar.

Pada tahun 1935, di bawah pemerintahan Dinasti Pahlavi, Perisa pun berganti nama menjadi “Iran”. Pada masa itu Dinasti Pahlavi menerapkan kebijakan pro Amerika, oleh karena itu mendapat dukungan kuat dari Amerika. Sebagai negara pengekspor minyak utama, Iran berkembang pesat di bidang ekonomi dan cukup berpengaruh besar di wilayah Timur Tengah.

Menara kembar Kharraqan di Persia, dibangun pada tahun 1067, di dalamnya terdapat makam Pangeran Seljuk. (Wikipedia public domain)

Pada tahun 1979, “Revolusi Islam” yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini Meletus, Kerajaan Pahlavi digulingkan. Khomeini pun membentuk negara baru “Republik Islam Iran” yang berlandaskan pada Islam aliran Syiah dengan menyatukan politik dan agama (Teokrasi).

Khomeini mencanangkan pemerintahan harus sepenuhnya berlandaskan pada hukum Islam. Sejak saat itu, Iran telah membuka lembaran baru yang dipandang telah berseberangan dengan peradaban dunia.

Khomeini menggerakkan rakyat Iran menentang Amerika, sehingga seketika itu juga Iran berubah menjadi negara yang anti Amerika dari yang sebelumnya pro Amerika di masa Dinasti Pahlavi.

Pada bulan November 1979, atas persetujuan Khomeini, terjadilah peristiwa warga Iran menduduki Kedubes Amerika untuk Iran, dengan menyandera 66 orang warga AS, ini merupakan “krisis sandera Iran” yang menggemparkan dunia. Hubungan Amerika-Iran pun sontak memburuk, bulan April 1980 Amerika mengumumkan putus hubungan diplomatik dengan Iran, dan secara resmi menerapkan sanksi terhadap Iran.

Setelah negara “Iran” berubah menjadi “Republik Islam Iran”, yang awalnya bersikap pro AS dan pro Israel berubah menjadi anti AS dan anti Israel, selain itu Iran juga menjalin permusuhan dengan negara sekitarnya.

Iran adalah penganut Islam aliran Syiah, sedangkan yang mendominasi di antara negara Arab adalah Islam aliran Sunni. Iran pernah mengumumkan pihaknya menantang posisi kepemimpinan aliran Sunni di dunia Islam. Konflik akibat perbedaan aliran agama ditambah lagi dengan adanya konflik akibat kepentingan geopolitik, membuat Iran telah bermusuhan dengan hampir semua negara Arab lainnya.

Yang lebih penting lagi adalah, Iran juga menjadikan Israel sebagai musuh bebuyutan. Selama jangka waktu panjang, Israel telah dianggap sebagai musuh bersama negara Arab, tapi ketika Iran mulai merajalela di wilayah Timur Tengah, sikap negara Arab terhadap Israel beberapa tahun terakhir mulai agak mereda, bahkan ada niat untuk menjalin hubungan diplomatik.

Contoh paling mencolok adalah negara Saudi Arabia yang sangat berpengaruh di dunia Arab. Antara petinggi Israel dan Saudi Arabia diam-diam tidak hanya telah melakukan interaksi yang sangat jarang terjadi, yang mengejutkan pihak luar adalah, di saat Trump mengakui status kota Yerusalem sebagai ibukota Israel, dunia Arab bukan hanya tidak memprotes keras, bahkan menurut informasi, Saudi Arabia merupakan salah satu pendukung atas keputusan Trump tersebut.

Singkat kata, Iran menganggap mayoritas negara Arab lainnya sebagai musuh, juga menjadikan Israel yang pernah menjadi musuh bersama bagi negara Arab sebagai musuh, memusuhi negara sekitarnya menjadikan Iran sebagai negara “aneh” di wilayah Timur Tengah.

Iran mendukung organisasi milisi Syiah yakni Hizbullah dan juga kelompok militan Hussein. Beberapa tahun terakhir, di balik setiap kekacauan yang terjadi di wilayah Timur Tengah seperti perang saudara Irak, perang saudara Yaman, perang saudara Suriah dan lain-lain, dapat ditemukan jejak Iran.

Mantan Presiden Bush Junior pada tahun 2002 pernah menyebut Iran sebagai pusat negara kejahatan, yakni “rezim yang mendukung paham teroris”. Pemerintahan Trump juga menyebutkan, “Iran adalah negara dalang pendukung paham terorisme.” (SUD/WHS/asr)

Bersambung

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular