Epochtimes.com

Tiga tahun lalu, Micron Technology, perusahaan pembuat chip AS menolak tawaran pengambilalihan senilai 23 miliar Dolar AS dari sebuah perusahaan BUMN Tiongkok, dan kemudian menolak beberapa proposal untuk kerjasama juga dari perusahaan Tiongkok. Kemudian pencurian menjadi pilihan lain dari pihak peminat.

Menurut ‘New York Times’ berbahasa Mandarin bahwa tahun lalu, polisi Taiwan menggerebek sebuah kantor perusahaan manufaktur chip Taiwan yang memegang rahasia teknis AS, para insinyur perusahaan tersebut mencoba untuk menutupi kasus spionase dalam bidang komersial.

Ketika polisi tiba, staf dari departemen sumber daya manusia perusahaan tersebut mengingatkan para insinyur untuk segera menghilangkan barang bukti. Insinyur menyerahkan disk U, laptop dan dokumen kepada karyawan tingkat rendah untuk disembunyikan dalam loker pribadinya. Lalu insinyur wanita tersebut keluar dari pintu depan dengan membawa telepon milik rekannya.

Laporan itu mengatakan bahwa perangkat ini mengandung nilai lebih tinggi daripada harga emas dan perhiasan. Dalam perangkat itu ada dokumen penting tentang desain microchip Micron.

Menurut pemerintah Taiwan bahwa desain ini akan dikirim ke Tiongkok daratan untuk  membantu pabrik microchip baru senilai 5,7 miliar Dolar AS menghasilkan chip yang mampu bersaing.

Dokumen pengadilan dari Micron Technology dan polisi Taiwan menggambarkan pencurian dua tahun lalu dan penggerebekan yang dilakukan tahun lalu.

Program ‘Made in China 2025’ mengimbau perusahaan dalam negara untuk menjadi pesaing global dalam berbagai industri seperti semikonduktor, robotika, kendaraan listrik dan lainnya. Dan bermaksud untuk bersaing dengan Amerika Serikat dan negara-negara lainnya di masa mendatang. Namun Tiongkok dalam prosesnya telah menggunakan pendekat curang, yang juga sebagian telah menjelaskan kepada kita mengapa Amerika Serikat ingin berperang dagang dengan Tiongkok.

Kasus Micron Technology hanyalah sebuah contoh tipikal pelanggaran Tiongkok.

Tahun 2015, wakil dari produsen chip Tiongkok Tsinghua Unigroup yang mendapatkan dukungan dari pemerintah Tiongkok melakukan kontak dengan Micron Technology kemudian mengajukan penawaran akuisisi perusahaan yang ditolak Micron. Setelah itu, Micron menjadi sasaran pencurian teknologi oleh pihak Tiongkok.

Dalam dokumen Micron yang diajukan kepada Pengadilan Distrik Federal California Utara pada bulan Desember tahun lalu, terdakwa terutama diarahkan pada perusahaan Fujian Jinhua Integrated Circuit Co., Ltd. (JHICC), perusahaan yang mendapat dukungan pemerintah untuk menjadi produsen chip nasional, berencana menginvestasikan dana sebesar 5,7 miliar Dolar AS untuk membangun pabrik di provinsi Fujian, Tiongkok.

Dua tahun lalu, Jinhua meminta perusahaan Taiwan United Microelectronics Corporation (UMC) untuk membantu pabrik mengembangkan teknologi. Namun, UMC dan Jinhua tidak memulai perjalanan panjang yang diperlukan untuk mendesain chip, tetapi malah memutuskan untuk mendapatkannya melalui pencurian.

Menurut pihak berwenang Taiwan, pertama, UMC membajak beberapa insinyur dari cabang Micron di Taiwan dengan janji gaji dan bonus lebih tinggi. Menurut dokumen pengadilan Micron dan pihak berwenang Taiwan, kemudian UMC meminta para insinyur itu membawa keluar dokumen-dokumen rahasia perusahaan Micron. Pihak berwenang Taiwan mengatakan bahwa para insinyur ini telah membawa keluar lebih dari 900 dokumen rahasia Micron, termasuk spesifikasi utama dan rincian chip memori canggih Micron.

Dokumen pengadilan Micron menunjukkan bahwa Micron mulai muncul kecurigaan setelah menemukan seorang insinyur yang akan mengundurkan diri telah menggunakan Google untuk memahami cara menghapus konten laptop perusahaan.

Setelah menerima pengingatan dari Micron, polisi Taiwan mulai menguping pembicaraan telepon seorang insinyur yang baru direkrut oleh UMC bernama Kenny Wang. Dakwaan tersebut menunjukkan bahwa UMC berinisiatif untuk menghubungi Kenny yang masih bekerja di Micron pada awal 2016. Wang kemudian mengambil informasi yang dibutuhkan oleh perusahaan UMC dari server milik Micron, dan informasi tersebut kemudian digunakan untuk membantu pengembangan dan desain chip UMC.

Ketika para penyelidik muncul di kantor UMC awal tahun lalu, Kenny Wang dan mantan karyawan teknologi Micron lainnya menyerahkan laptop, USB flash drive dan file kepada asisten insinyur. Lalu dia mengambil ponsel Kenny Wang keluar dari kantor, telepon itu yang digunakan polisi untuk nguping, Belakangan telepon itu berhasil ditemukan untuk dijadikan salah satu barang bukti.

Laporan mengutip ucapan pakar industri menyebutkan bahwa perusahaan chip lain mungkin juga menghadapi kesulitan serupa dengan perusahaan Micron Technology.

Analis Mark Newman, analis Sanford Bernstein mengatakan, sebuah pabrik yang didukung negara di Wuhan yang berafiliasi dengan perusahaan Yangtze Memory Technology Corp telah memproduksi chip yang hampir identik dengan pembuat chip Korea Selatan, Samsung. Jelas chip itu bukan hasil pengembangan sendiri.

Pejabat pemerintah Trump dalam laporan awal tahun ini menggambarkan bagaimana pejabat Tiongkok terkadang membantu perusahaan Tiongkok memperoleh kekayaan intelektual dari perusahaan-perusahaan Amerika, termasuk di bidang energi, elektronik, perangkat lunak, dan avionik.

New York Times pada bulan Agustus tahun lalu melaporkan bahwa baik Advanced Micro Devices dan Hewlett Packard Enterprise di Amerika Serikat telah bekerja sama dengan perusahaan Tiongkok untuk mengembangkan chip server. Intel bekerja sama dengan Tiongkok untuk mengembangkan chip ponsel kelas atas. IBM telah setuju untuk mentransfer teknologi penting yang akan memungkinkan perusahaan Tiongkok untuk memasuki bisnis perbankan berbasis mainframe yang dapat menghasilkan keuntungan sangat besar. (Sin/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds