Erabaru.net – Militer Amerika Serikat terus mendorong pengembangan sistem pertahanan rudalnya. Sistem pertahanan rudal dikembangkan untuk melindungi diri dari kemungkinan serangan rudal balistik dari negara-negara lain, termasuk Rusia dan Tiongkok.

Bahkan ketika pemerintahan Presiden Donald Trump memilih untuk bernegosiasi dengan Korea Utara mengenai perdamaian dan denuklirisasi di Semenanjung Korea, Amerika tetap meningkatkan sistem pertahanan rudal. AS bergerak maju dengan tetap melanjutkan rencana untuk meningkatkan kekuatan sistem pertahanan rudalnya di Korea Selatan.

Perwira Tinggi Angkatan Udara AS, Letnan Jenderal Sam Greaves mengatakan kepada Stars and Stripes pada 26 Juni bahwa mereka harus tetap mempertimbangkan kemungkinan terburuk. Walau mereka sangat berharap negosiasi dengan Korea Utara bisa berhasil dengan baik.

“Kami benar-benar berharap diplomasi itu berhasil, tetapi pada saat yang sama, kami harus tetap waspada untuk menyediakan kemampuan yang dibutuhkan,” ujar Letjen Sam Greaves.

Kini, Pentagon melanjutkan rencana sebelumnya untuk meningkatkan pencegat rudal berkualitas tinggi, ‘Terminal High Altitude Area Defense system (THAAD)’. Pentagon juga melanjutkan program rudal Patriot yang ditempatkan di Semenanjung Korea.

Program itu akan mencakup penggunaan rudal Patriot yang lebih kuat yang disebut ‘Peningkatan Segmen Rudal’, memperkuat komunikasi antara sistem THAAD dan Patriot, dan teknologi baru yang akan memungkinkan peluncur rudal THAAD untuk mencakup area yang lebih luas.

Sementara itu, di Hawaii militer AS juga sedang mengerjakan program serupa, seperti dikutip dari AP. Program Hawaii bertujuan untuk membangun radar pertahanan rudal senilai 1 miliar dolar AS (sekitar 14 trilun rupiah) yang dapat mengidentifikasi rudal balistik yang ditembakkan dari Korea Utara atau dari tempat lain menuju Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, Amerika Serikat bekerja untuk membujuk India agar membatalkan perjanjian pembelian sistem pertahanan rudal balistik dengan Rusia. India berencana memasang sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia di negara ‘anak benua Asia’ itu.

Menurut The Economic Times of India, alternatif untuk India kemungkinan adalah sistem THAAD buatan AS.

Kongres AS kini sedang memperdebatkan Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk memberi sanksi kepada badan pertahanan Rusia. Jika lolos dan disahkan menjadi Undang-Undang, maka sanksi juga akan berdampak pada negara-negara yang membeli senjata Rusia.

Laporan itu menambahkan, bagaimanapun, bahwa Menteri Pertahanan AS Jenderal Jim Mattis telah mengusulkan pengecualian India, yang memiliki kemitraan pertahanan yang kuat dengan Rusia. India kini dinilai tengah berusaha untuk mengurangi ketergantungan militernya pada Rusia.

Di samping program-program tersebut, Pentagon juga tengah berusaha untuk menyinkronkan sistem pertahanan misilnya.

Menurut situs berita militer C4ISRNET, Badan Pertahanan Rudal AS mengumumkan latihan pelacakan rudal yang sukses di New Mexico pada bulan April 2018, yang dapat mengarah pada uji coba serupa di masa depan. Ini mencatat bahwa uji coba, yang dilakukan dengan Angkatan Darat, menunjukkan bagaimana sistem THAAD dan Patriot dapat bekerja sama.

Letnan Jenderal Samuel Greaves, direktur Badan Pertahanan Rudal, mengatakan bahwa temuan tentang bagaimana kedua sistem itu dapat disinkronkan membangun kemampuan pertahanan yang efektif. Pertahanan yang berlapis-lapis dari pencegat dalam Sistem Pertahanan Rudal Balistik.

Dia mengatakan sinkronisasi yang ditunjukkan dalam uji coba memberikan kemampuan untuk mengintegrasikan dan menyinkronkan sistem pertahanan rudal. Sehingga dapat memberikan pertahanan rudal berlapis yang dioptimalkan.

“Taktis komunikasi lintas elemen sangat penting untuk koordinasi tempur perang untuk memaksimalkan pertahanan kolaboratif aset, menyiagakan pencegat, dan memberikan kesadaran situasional umum untuk komandan tempur,” kata Greaves. (Joshua Philipp/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular