Erabaru.net. Perhelatan pemilihan kepala daerah serentak sudah biasa diketahui adanya yang menang dan kalah antara pasangan calon yang bertarung. Bahkan kejuatan demi kejutan juga terjadi. Namun apa jadinya ketika calon tunggal keok dengan kotak kosong.

Hah! calon tunggal dikalahkan oleh kotak kosong! Ya …ini benar-benar terjadi di pemilihan Walikota Makassar pada pencoblosan, Rabu (27/06/2018).

Kota yang terletak di Sulawesi Selatan ini memiliki Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Pilkada Serentak 2018 sebanyak 1.019.475 hak pilih.

Walaupun terdengar mustahil tapi nyata, Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi sebagai pasangan calon yang diusung oleh 10 partai politik mengalami kejadian ini.

Dukungan yang diperoleh paslon ini tak tanggung-tanggung lagi, pasalnya parpol secara keseluruhan menguasai 43 kursi di DPRD Makassar.

Melansir dari Tribun Timur, hitung cepat Celebes Riset Centre (CRC), Jaringan Suara Indonesia (JSI), dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan kotak kosong keluar sebagai juara di Pilwakot Makassar 2018.

Hitung cepat CRC menunjukkan pasangan Appi-Cicu memperoleh 46,55 persen suara. Sebagai pemenang kotak kosong dengan perolehan 53,45 persen suara.

Lebih-lebih lagi, tempat calon Walikota Munafri Arifuddin mencoblos di TPS 3 SD Mangkura 1, Kelurahan Sarewigading, Kecamatan Ujungpandang, Makassar harus mengakui keunggulan kotak kosong. Di sini pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika hanya memperoleh 43 suara dan kotak kosong 91 suara.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya jika kotak kosong menang?

Pasal 22 PKPU Nomor 13 Tahun 2018 tentang perubahan atas PKPU Nomor 14 Tahun 2015 tentang pilkada dengan satu pasangan calon dicantumkan bahwa pasangan calon tunggal ditetapkan sebagai pemenang bila mendapatkan suara sah lebih dari 50% dari suara sah. 

PKPU ini menyebutkan, apabila perolehan suara pasangan calon kurang dari jumlah itu, maka pasangan calon dapat mencalonkan diri pada pemilihan berikutnya.

Pasal 22 ayat 2 menyebutkan pemilihan serentak berikutnya dapat diselenggarakan pada tahun berikutnya atau dilaksanakan sebagaimana jadwal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Aturan ini menyebutkan, apabila perolehan suara pada kolom kosong lebih banyak dari perolehan suara pada kolom foto pasangan calon, KPU Provinsi/KIP Aceh atau KPU/KIP Kabupaten/Kota menetapkan penyelenggaraan Pemilihan kembali pada Pemilihan serentak periode berikutnya.

Kali ini melawan kotak kosong terjadi di 11 daerah. Daerah pemilihan ini adalah Kota Prabumulih (Sumatera Selatan), Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang (Banten), Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur), Kabupaten Enrekang (Sulawesi Selatan), Kabupaten Minahasa Tenggara (Sulawesi Utara), Kabupaten Tapin (Kalimantan Selatan), Kabupaten Mamasa (Sulawesi Barat), Kabupaten Jayawijaya (Papua), dan Kabupaten Padang Lawas Utara (Sumatera Utara).

Tentu nasib yang dialami para pasangan calon ini  di daerah-daerah tersebut tak sama dengan Pilwakot Makassar. Seperti di Pilkada Kabupaten Pasuruan 2018, Calon Irsyad Yusuf – Mujib Imron (ADJIB) meraih 77,8 persen sedangkan kotak kosong hanya meraih 22 persen. (asr)

Share

Video Popular