Erabaru.net. Pada tahun 2012 lalu, seorang pegawai cleaning service asal Taiwan, Zhao Wenzheng terpilih sebagai salah satu kandidat Pahlawan Amal Asia versi Majalah Forbes Amerika. Dalam Daftar Pahlawan Amal Asia, dimana meski dia berasal dari golongan keluarga miskin, juga pernah diejek dan dicemooh “seperti anjing” karena memungut sampah daur ulang. Namun, dia terus berkontribusi untuk masyarakat dan telah menyumbangkan lebih dari 4 juta NTD (sekitar1.8 miliar rupiah) dalam 33 tahun terakhir ini.

Zhao Wenzheng (70), yang tinggal di Distrik Wuri, Taichung, Taiwan, memiliki penghasilkan sekitar 10.000- 12,000 NTD (sekitar 4,6 – 5,5 juta rupiah). Penghasilan yang kecil di negara dengan PDB Per Kapita Taiwan yang sebesar 24,337.00 dollar AS pada 2017. Dari total pendapatannya itu, Kakek Zhao hanya menyisakan seperempat untuk biaya hidupnya sehari-hari.

Selebihnya dia sumbangkan untuk amal. Setiap hari kakek Zhao mengendarai sepeda motornya, mengangkut tumpukan karton untuk didaur ulang.

Dia bekerja keras di tengah terjangan angin dan hujan, dikenal sebagai “Chen Shu-chu versi laki-laki”. (Chen Shu-chu, adalah seorang wanita pedagang sayur yang mendonasikan uangnya kurang lebih 4 miliar miliar untuk orang-orang tak mampu).

Zhao Wenzheng mengatakan bahwa keluarganya hidup miskin sejak kecil, jadi dia bertekad kelak jika punya kemampuan akan membantu anak-anak malang yang tak mampu sepertinya.

”Karena tak punya sandal apalagi sepatu sejak kecil, jadi saya terpaksa bertelanjang kaki kemana-mana, saat tahun baru, di mana demi menghemat uang, mau tak mau saya membeli sepatu dengan ukuran yang besar, dan saya merasa sayang dan takut rusak kalau memakai sepatu dengan ukuran yang tidak sesuai.” Cerita kakek Zhao mengenang masa kecilnya.

Pada usia 35 tahun ketika itu, kakek Zhao mulai menyumbangkan uang untuk membantu orang yang tak mampu, awalnya, kakek Zhao menulis atas nama orangtuanya.

Setiap jam 5 pagi, kakek Zhao mulai beraktivitas, tidak pernah beristirahat selama 365 hari setahun, dan mempertahankan irama kehidupan yang teratur.

Meskipun penghasilannya sedikit, dan harus membesarkan lima anak, sekarang ketiga anaknya sudah menikah.

Zhao Wenzheng bertahan menyumbangkan uangnya selama puluhan tahun. Setiap saat kakek Zhao menabung uangnya, selalu merenung “siapa yang butuh bantuan, dan disumbangkan kepada siapa ?”

Sumbangannya rata-rata didonasikan untuk anak-anak sekolah. Kakek Zhao tidak hanya mengadopsi lebih dari 200 anak tunanetra di sekolah Huimin selama 20 tahun, tetapi juga mengadopsi 2 anak miskin dari luar negeri.

Biaya adopsi selama 10 tahun mencapai 200.000 NTD (sekitar 92 juta rupiah) , tetapi dia langsung memutuskan untuk mengadopsinya tanpa pikir panjang lagi.

Kakek Zhao menuturkan, dia sangat menyayangkan tidak bisa sekolah ketika itu karena keluarga miskin. Jadi, dia sangat peduli dengan masalah anak-anak sekolah.

\

“Apa yang dapat Anda tinggalkan dalam hidup ini bukanlah segala sesuatu yang pernah Anda miliki, tetapi sumbangsih Anda,”kata kakek Zhao.

Dia masuk dalam jajaran pahlawan amal versi Majalah Forbes pada tahun 2012, termasuk pendiri Evergreen Group, Zhang Rongfa, Ketua Yayasan Kebudayaan Chi Mei, Xu Wenlong, dan pendiri Grup Wang Pin, Dai Shengyi, serta tiga pengusaha besar lainnya berikut Zhao Wenzheng, pahlawan tanpa pamrih yang juga seorang pegawai cleaning service dan pemulung.

Selain itu, Pemerintah Kota Taichung juga menganugerahkan penghargaan kepadanya sebagai warga yang luar biasa.

Di bawah himpitan ekonomi keluarga, kakek Zhao masih bisa terus berkontribusi kepada masyarakat dengan kemampuannya sendiri.Dibandingkan dengan pengusaha yang masuk dalam jajaran pahlawan amal versi Majalah Forbes , kakek Zhao, pahlawan sipil ini bahkan jauh lebih memesona.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular