Yan Ning

Kejuaraan sepak bola dunia sekali dalam 4 tahun kali ini masih berjalan dengan begitu gencar di Rusia dan belum nampak juga sepak terjang tim RRT. Namun, absennya tim RRT sama sekali tidak menyurutkan antusiasme penggemar bola dari Tiongkok. Selain ratusan juta penggemar yang menonton di depan TV setiap harinya, terdapat pula ribuan gibol yang terbang ke Rusia bersorak-sorai mendukung tim kesayangan mereka. Menurut data dari FIFA,  penggemar bola dari RRT telah membeli lebih dari 40.000 tiket untuk Piala Dunia ini dan menduduki urutan ke 9 dari seluruh negara yang ikut berkompetisi.    

 Akan tetapi yang membuat heran media internasional adalah, sebagian besar awak media yang meliput di arena juga berasal dari RRT. Di dalam Piala Dunia di Brasilia 4 tahun silam, wartawan yang dikirim oleh RRT juga paling banyak yakni 120 orang.

Piala Dunia tanpa tim RRT ternyata telah menarik sejumlah besar kedangangan reporter RRT, hal ini membuat banyak orang Barat merasa tidak habis pikir, tentu saja bagi reporter RRT sendiri mau tak mau sesekali mengalami hal yang tidak mengenakkan.

Media Jepang “Spotiva” pada 18 Juni lalu telah melaporkan kejadian seperti ini: Menjelang peresmian Piala Dunia, di dalam aula media, seorang reporter Argentina terlibat konflik dengan seorang koleganya dari RRT yang telah membuat reporter RRT itu sangat marah, tetapi sebuah kalimat dari reporter Argentina itu, “Tim Anda tidak hadir disini, apa yang hendak Anda banggakan?”, telah membuatnya bungkam. Konon, reporter RRT ketika di Brasilia juga pernah dipojokkan dengan pertanyaan, “Tidak ada tim RRT mengapa masih datang saja ke Brasilia?”, tentu membuat reporter tersebut tak mampu berkata-kata.

Sesungguhnya, begitu banyak reporter dikirim untuk meliput di garis depan, selain tidak dapat menemukan tim negara sendiri, juga sangat mungkin lantaran berbagai pengaturan pembatasan membuat mereka tak dapat mendekati para bintang yang sedang berlaga, hanya melalui keberuntungan saja dapat mewawancara bintang besar yang kontennya juga belum tentu menarik.

Maka itu, yang paling banter dapat dilaporkan adalah berbagai berita gosip/berita pinggiran, namun hal seperti itu bagi para penggemar bola sejati RRT sama sekali tidak penting. 

Meski begitu, mengapa RRT harus mengirim begitu banyak wartawan untuk menguber berita Piala Dunia, tak peduli apakah mereka dapat meliput secara eksklusif atau tidak? Banyaknya penggemar bola di dalam negeri adalah salah satu faktor, para pimpinan level tertinggi saat ini menyukai sepakbola juga merupakan faktor lainnya, tetapi salah satu alasan yang tidak bisa diabaikan adalah: Di RRT saat ini ketika politik, ekonomi, masyarakat, hiburan dan berita lainnya sangat dikendalikan dengan ketat, mungkin hanya berita olahraga saja yang masih aman dari sensor, sedangkan perhatian pada Piala Dunia, sampai batas tertentu, dapat mengalihkan perhatian masyarakat di daratan Tiongkok dalam hal Perang Dagang Sino-AS dan maraknya demo anti pemerintah belakangan ini.

Hanya saja, setelah berinvestasi dan menghamburkan banyak duit hanya untuk mengundang seorang pelatih kondang internasional, serta mengirim rombongan reporter dalam jumlah besar, persepak-bolaan di RRT masih saja kedodoran dan masih saja tidak bergairah, apakah penyebab sebenarnya? Yang tidak mau, juga tidak berani diakui oleh pihak berwenang RRT adalah permasalahan sistem ketatanegaraan diri sendiri.  (WHS/asr)  

Share

Video Popular