Zhang Ting -Epochtimes.com

Pada 8 Mei lalu Presiden AS Donald Trump menyatakan mundur dari kesepakatan nuklir Iran, masyarakat internasional mendadak gempar. Seketika itu juga “Kesepakatan Nuklir” seolah terombang-ambing ke puncak pembahasan opini publik. Ada yang memuji tapi ada pula yang was-was bahwa Trump telah membuka kotak pandora, yang mungkin malah akan mendatangkan krisis di wilayah Timur Tengah.

Lalu, negara seperti apakah Iran? Ada apa dengan kesepakatan nuklir? Mengapa AS memutuskan untuk mundur? Dampak apa yang akan ditimbulkannya terhadap kesepakatan denuklirisasi Korut?

Dan untuk benar-benar memahami kesepakatan nuklir Iran, harus dimulai dari memahami Iran.

Baca Juga : Negara Seperti Apakah Iran? Mengapa Trump Batalkan Kesepakatan Nuklir? (1)

Lahirnya “perjanjian nuklir Iran”

Untuk melawan Amerika Serikat, Israel dan negara-negara Arab di sekitarnya, Iran mulai mengembangkan senjata nuklir dan ingin menggunakan kekuatan penjera nuklir untuk meningkatkan kekuatan tawar-menawarnya dalam arena internasional agar dapat mengancam dan memeras keuntungan yang lebih banyak.  

Sejak Iran mengumumkan keberhasilan ekstraksi uraniumnya pada tahun 2003, PBB telah melalui berbagai resolusi sanksi terhadap Iran dan juga mengeluarkan RUU sanksi dari Amerika Serikat serta Eropa.

Sanksi PBB terhadap Iran terutama difokuskan pada pelarangan terhadap Iran dalam berpartisipasi di bidang investasi nuklir, transportasi dan kegiatan keuangan dengan luar negeri. Amerika Serikat memutus semua hubungan lembaga keuangan Iran dengan sistem perbankan AS.   

Pada awal tahun 2006, Iran mulai memulihkan kembali penelitian bahan bakar nuklir. Pada tahun yang sama, komunitas internasional mengadakan negosiasi nuklir dengan Iran dan akhirnya di tahun 2015 menandatangani “Perjanjian Nuklir Iran” dengan sebutan lengkap “Rencana Aksi Komprehensif Gabungan”.

Kesepakatan ini bertujuan melalui pengurangan sanksi ekonomi yang ditukar dengan pengekangan program nuklir Iran. Perjanjian itu ditandatangani bersama oleh Iran dan Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, RRT dan Uni Eropa.

Perjanjian itu menetapkan bahwa Iran tidak lagi diperbolehkan mengembangkan senjata nuklir, namun masih dapat mengembangkan program nuklir dalam bidang pemakaian sipil. Dalam waktu 15 tahun Iran tidak boleh memproduksi Uranium diperkaya yang konsentrasinya melebihi 3.67%. Tidak boleh membangun reaktor air berat yang diperlukan untuk produksi Torium atau reprocessing bahan bakar reaktor yang ada.

Pada saat yang sama, aktivitas pengayaan uranium Iran akan terbatas pada fasilitas nuklir tunggal dalam 10 tahun mendatang dan hanya dapat menggunakan mesin sentrifugal generasi pertama. Perjanjian nuklir juga menetapkan bahwa persediaan air berat Iran tidak boleh melebihi 130 ton.  

Pada Januari 2016, masyarakat internasional mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran berdasarkan perjanjian nuklir. Puluhan miliar dolar asset Iran di luar negeri juga telah dicairkan.

Ada komentar yang mengatakan bahwa dari perjanjian ini dapat dilihat fasilitas nuklir Iran pada dasarnya dapat dipertahankan semuanya, hanya saja fungsi diberbagai aspek harus dilemahkan. Kemudian sedikit bahan bakar nuklir harus diserahkan, tidak boleh menyimpan terlalu banyak. Perjanjian saat ini mengartikan bahwa di bawah premis pembatasan skala dan konsentrasi/kepekatan, aktivitas uranium diperkaya masih bisa dipertahankan. 

Sejauh menyangkut perjanjian itu sendiri, Presiden Trump mengatakan bahwa justru terdapat kekurangan pada inti perjanjian.

Kritikus menunjukkan bahwa bagi Iran, meskipun perjanjian itu telah membatasi fungsi fasilitas nuklirnya namun fasilitas yang dipertahankan itu telah menjadi sah menurut perjanjian.

Menurut perkiraan, perjanjian itu akan meningkatkan waktu Iran untuk memproduksi satu buah senjata nuklir dari waktu 3-4 bulan menjadi 12 bulan. Dengan kata lain, kemampuan Iran membuat bom nuklir telah mendapatkan persetujuan diam-diam dari negara-negara pemiliki nuklir.

Para pendukung perjanjian percaya bahwa jika Iran melanggar perjanjian, akan membutuhkan waktu satu tahun baru mampu membuat satu buah bom nuklir, maka komunitas internasional memiliki waktu yang cukup untuk bertindak.

Namun informasi dari kalangan intelijen Israel menunjukkan bahwa setelah menandatangani perjanjian nuklir itu Iran tidak berhenti dalam penelitian dan pengembangan senjata nuklir. Oleh karena itu, ketika Iran melanggar perjanjian nuklir secara terang-terangan, mungkin tidak sampai membutuhkan waktu satu tahun sudah bisa membuat bom nuklir.

Menjelang perjanjian nuklir Obama, dua partai dalam Kongres menentang.

Sebuah artikel di “New York Times” pada Maret 2015 mengungkapkan bahwa untuk perjanjian nuklir Iran yang akan ditandatangani pada bulan Juli tahun itu, ada banyak ketidaksepakatan antara anggota dua partai dalam Kongres dengan Presiden Obama.

Obama mengatakan bahwa perjanjian itu akan menjadi cara terbaik untuk mencegah Iran memperoleh bom nuklir, namun kritikus dua partai mengatakan bahwa tindakan menipu diri sendiri ini sangat berbahaya, meskipun kesepakatan itu tercapai, pada akhirnya Iran masih memiliki peluang untuk membuat senjata nuklir yang dapat menghancurkan Israel dan musuh-musuh Iran yang lain.

Pada saat itu anggota Partai Republik dalam Kongres juga mengeluarkan surat terbuka kepada “pemimpin Republik Islam Iran”, Surat itu memperingatkan Iran bahwa setiap kesepakatan yang dicapai Obama dan Iran dapat dicabut oleh presiden berikutnya “dengan satu ayunan pena”. Laporan itu menyebutkan bahwa intervensi langsung seperti itu oleh Kongres AS dalam negosiasi diplomatik sangat jarang terjadi.

Surat terbuka itu disusun oleh Senator Arkansas Tom Cotton dan ditandatangani oleh sebagian besar anggota Senat dari Partai Republik. Cotton menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam perjanjian nuklir sedang berfermentasi sehingga membuatnya menjadi sangat berbahaya. 

Di masa kampanye Trump tahun lalu, Trump sudah menyatakan bahwa kesepakatan itu adalah kesepakatan yang “paling celaka”.

Trump berpendapat bahwa meskipun perjanjian itu berjanji untuk mempromosikan perdamaian regional dan internasional namun cacat pada inti (perjanjian) membuat perjanjian itu bukan hanya tidak dapat menghentikan pengembangan senjata nuklir Iran juga masih menyediakan dana bagi Iran unuk mendukung kasus-kasus kekerasan yang terjadi diberbagai tempat di Suriah dan Yaman. (LIN/WHS/asr)

Share

Video Popular