Zhou Xiaohui

Beberapa waktu lalu, yang paling disoroti oleh masyarakat berbagai negara seluruh dunia selain suka duka Piala Dunia Sepak Bola, juga Perang Dagang RRT-AS yang saling membalas dan mengaburkan pandangan mata, dan perang dagang ini juga berpengaruh pada situasi politik AS-RRT dan naik turunnya pasar.

Tanggal 15 Juni lalu pemerintah AS mengumumkan daftar produk impor asal RRT senilai USD 50 milyar (703 triliun rupiah) dikenakan bea masuk tambahan, pihak Beijing langsung mengumumkan hal yang sama dengan nilai serupa sebagai balasan.

Menanggapi hal ini, pada 18 Juni lalu Presiden Trump mengkritik tindakan Beijing itu sebagai “tindakan yang jelas menunjukkan tidak ada itikad baik untuk mengubah pencurian kekayaan intelektual dan teknologi AS yang didapat dari perdagangan tidak adil tersebut”, juga menyatakan bahwa AS akan menambah bea masuk terhadap komoditi dari RRT lainnya senilai USD 200 milyar (2.812 triliun rupiah).

Departemen Perdagangan Beijing dalam tanggapannya beberapa hari lalu yang penuh amarah, mengatakan Amerika “semakin menjadi-jadi”, ini adalah “ancaman” dan “tekanan ekstrim serta pemerasan seperti ini telah bertentangan dengan kesepakatan dalam beberapa kali dialog kedua negara”, sehingga sikap keras pun terus ditempuh, dikatakan “pihak RRT terpaksa harus mengambil tindakan kualitatif dan kuantitatif bersamaan, dan memberikan balasan yang setimpal”.

Seperti biasanya, pelanggar peraturan seperti PKT sebagai pelaku yang mencuri teknologi negara lain, momok yang menebar teror ke seluruh dunia itu, terus bersandiwara seolah dirinya “tak berdosa”, menyalahkan AS atas perang dagang ini, dan sama sekali tidak menyesalinya. Ini justru benar-benar membuktikan PKT adalah sosok yang memutar balikkan fakta.

Namun penggunaan kata-kata oleh pihak Beijing yang tidak biasanya ini dengan jelas menunjukkan betapa di bawah tekanan ekstrim Trump ini, Beijing sangat kesakitan. Dan sebelumnya, surat kabar Korut juga mengkritik “tekanan ekstrim” AS terhadap Korut, namun pada akhirnya masyarakat bisa melihat, di bawah tekanan keras itu Korut yang terlilit kesulitan di dalam dan luar negeri, pada “pertemuan Trump-Kim” lalu telah memohon dan menyetujui denuklirisasi.

Apakah masa depan Beijing juga akan berakhir memalukan seperti itu, sementara penulis tidak akan menyimpulkan, karena pada dasarnya RRT tidak seperti Korut yang menutup diri dan berkapasitas ekonomi kecil, bagaimanapun RRT secara permukaan masih memiliki banyak angka fantastis, masih ada modal untuk “melawan” AS, setidaknya bisa bertahan sedikit lebih lama dibandingkan Korea Utara.

Yang membuat penulis penasaran adalah, “kebijakan gabungan kualitatif dan kuantitatif” apa yang akan diterapkan Beijing untuk melawan AS? Menurut data perdagangan AS-RRT dari Kantor Perwakilan Dagang AS, nilai ekspor produk dan layanan AS terhadap RRT di tahun 2016 adalah sebesar USD 169,8 milyar, sementara nilai ekspor produk dan layanan RRT terhadap AS adalah sebesar USD 478,8 milyar.

Atas dasar ini Beijing tahu betul, sudah tidak mungkin memberlakukan tambahan bea masuk terhadap lebih dari USD 200 milyar produk impor dari AS, maka tercetuslah istilah “kebijakan gabungan kualitatif dan kuantitatif”, ini hanya untuk menyelamatkan pamornya saja. Dengan kata lain, “Beijing tidak perang skala dengan AS, Beijing menyerang kotak suara Trump, yang berdaya hancur besar”.

Hanya saja Beijing harus tahu, cara ini sebaliknya hanya kontraproduktif, sangat mungkin akan memicu semakin banyak warga AS mendukung Trump untuk terus menekan PKT. Karena tidak seperti rakyat Tiongkok yang telah dibodohi oleh PKT (berkat sensor ketatnya), mayoritas warga AS tahu mengapa Trump ingin menekan PKT, yakni karena PKT yang tidak taat peraturan dagang dunia tidak hanya mengakibatkan industri AS menyusut, tapi juga telah merusak pasaran dunia.

Oleh karena itu untuk menyelesaikan masalah keadilan perdagangan PKT, walau harus ada pengorbanan, namun bagi masyarakat AS pada umumnya yang berdiri pada sisi moral dan meyakini kebenaran dan keadilan, mereka tidak akan memilih untuk tunduk pada PKT, ini juga hal yang tak bisa dipahami oleh para pejabat PKT yang tercemari budaya partainya.

Karena tidak bisa memahami, karena yakin perlawanan “yang berdaya hancur besar” akan efektif, penulis tidak meragukan, setelah Beijing mengeluarkan kebijakan perlawanan yang baru, Trump akan tetap bertahan pada strateginya, tekanan ekstrim akan terus berlanjut, dan sejak mulai berlakunya tambahan bea masuk di bulan Juli mendatang, dalam setengah tahun mendatang akan bisa terlihat antara RRT-AS siapa pecundangnya.

Faktanya, dilihat dari sikap pesimis PKT, reaksi pasar dan tidak sedikit analisa yang ada, tidak ada yang menyangkal, PKT yang tengah menghadapi ancaman dari dalam maupun luar negeri akan mengalami pukulan yang lebih berat. Setelah Trump mengumumkan akan menambah bea masuk terhadap USD 200 milyar produk impor, bursa efek Amerika tidak banyak beraksi namun bursa Asia anjlok drastis. Seperti pada indeks komposit Shanghai yang turun hampir 4%, dan anjlok sampai di bawah batas psikologis 3000 poin pada 20 bulan terakhir, sementara indeks gabungan Shenzhen turun hampir 6%. Di Hongkong, indeks standar Hangseng turun 3,2% dan indeks perusahaan RRT Hangseng yang mayoritas terdiri dari saham perusahaan RRT juga turun 3,9%.

Reaksi pasar ini secara tidak langsung menjelaskan pasar tidak optimis terhadap RRT, dan belum lama ini konglomerat RRT yakni Jack Ma sempat mengatakan “masa indah bagi perusahaan RRT sudah tdiak lama lagi”, Bank Sentral PKT tiba-tiba tidak bergerak setelah The Fed menaikkan suku bunga, menjadi catatan kaki yang paling patut diamati untuk menilai baik buruknya perekonomian RRT.

Ketika investor, perusahaan dan konsumen tidak lagi yakin terhadap pasar RRT, masalah apa yang bakal dihadapi oleh pemerintah Beijing? Ditambah berbagai masalah dalam negeri, ancaman bahaya yang akan dihadapi pemerintah Beijing kian menjadi-jadi.

Konkritnya, jika Beijing mematuhi peraturan WTO, mengijinkan investor asing atau pemodal individu membuka perusahaan finansial, asuransi, internet dan lain-lain, maka jurus partai tunggal PKT membodohi rakyatnya akan dipaksa berubah terutama dibukanya internet akan mengungkap sejarah hitam dan kejahatan PKT yang penuh aib itu, kekuasaan PKT juga pasti akan menghadapi tantangan lebih besar, yang akan mengakibatkan lebih banyak perlawanan, dan inilah “petaka akhir” yang paling dikhawatirkan oleh Beijing.

Setidaknya saat ini, Beijing sebagai pihak yang bersalah, lebih rela mengalami kehancuran dengan tetap melawan AS pada masalah perdagangan ini, penyebab utamanya adalah karena PKT adalah rezim yang tidak pernah memikirkan kesejahteraan rakyat Tiongkok, PKT yang egois akan terus melawan, walaupun masih bisa menipu rakyat Tiongkok yang telah dicuci otak selama ini, namun kian lama kian banyak rakyat yang semakin sadar akan fakta yang ada. Rezim PKT yang memimpikan untuk memanfaatkan rakyatnya dalam “melawan AS” pada saat itu akan tamat riwayatnya dengan penuh kekecewaan. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular