Chen Ximin

Dari tanggal 26 hingga 28 Juni, di tengah semakin terpaparnya perang dagang RRT-AS, Menhan AS Jim Matiss berkunjung ke RRT.

Menurut pemberitaan media asing, saat Matiss berdialog dengan penguasa Beijing, hubungan militer kedua negara menjadi topik utama, dan hal yang oleh kedua belah pihak berupaya dihindari untuk dibicarakan adalah ketegangan perdagangan kedua negara yang terus berlanjut.

Walau demikian, berita menyebutkan, selama kunjungan Matiss topik perdagangan sempat disinggung secara singkat, namun tidak mengandung informasi khusus yang ingin disampaikan oleh Trump.

Yang patut diperhatikan adalah, berita tanggal 26 Juni memuat soal majalah bulanan Hongkong yakni “Super Media” terbitan bulan Juli yang akan memuat wawancara khusus dengan dosen dari Nanyang Technological University Singapura bernama Profesor Li Mingjiang, yang mengutarakan bahwa untuk menandingi “One Belt One Road” yang dimotori PKT, Amerika juga membentuk “Strategi India-Pasifik” yang tengah diwujudkan secara bertahap.

Menurut Analisa, pada Dialog Shangri-La ke-17 yang baru saja berakhir Matiss telah menjelaskan cetak biru yang jelas tentang “Strategi India-Pasifik”, walaupun dalam pidatonya Matiss tidak secara jelas menyebutkan “One Belt On Road” PKT, namun dapat dilihat jelas, pidatonya telah merefleksikan hal yang ingin dilakukan oleh kalangan politik AS untuk menandingi “One Belt One Road”.

Sebenarnya banyak negara berkembang telah mulai khawatir akan kebijakan “One Belt One Road” dari PKT yang akan semakin memperbesar kondisi perdagangan yang tidak seimbang, dan sama halnya dengan “Made in China 2025” yang menjadi fokus sengketa dagang RRT-AS, kebijakan “One Belt One Road” tidak hanya memiliki makna ekonomi, juga memiliki makna politik, dengan dibangunnya jalan, pelabuhan, bandara, jaringan internet, pembangkit listrik dan berbagai infrastruktur lainnya oleh perusahaan RRT di negara yang dilalui “One Belt One Road”, di baliknya ada pengincaran PKT terhadap sumber daya alam setempat, serta kepentingan di masa mendatang untuk menguasai fasilitas vital atau penempatan militer dan pengendaliannya, bahkan dapat lebih memperdalam propaganda ofisial PKT.

Sebelumnya diberitakan, saat para ahli ekonomi mengkritik hasil dari kebijakan  “One Belt One Road” PKT, ada suatu kesimpulan yang sangat cemerlang: Dunia tidak percaya pada RRT (The World doesn’t trust China).

Suatu konsep yang matang pada opini dewasa ini, yang dimaksud Tiongkok oleh media massa, mayoritas pembaca dan pendengar bisa secara otomatis membedakan Tiongkok dengan PKT, secara mendasar dunia tidak memercayai rezim PKT yang menerapkan komunisme di daratan Tiongkok.

Beberapa tahun terakhir dua slogan PKT yang mengguncang dunia adalah “Made in China 2025” dan “One Belt One Road”, pada permukaan sepertinya untuk mendorong perdagangan, namun di baliknya adalah perluasan pengaruh politik, ambisinya adalah langkah rezim PKT untuk menguasai seluruh dunia.

Namun di luar dugaan, Trump terpilih sebagai Presiden AS dan Amerika setelah dipimpin Trump, sudah bukan seperti Amerika yang dulu lagi, di bawah kepemimpinan Trump yang bersikap keras terhadap PKT, negara lain yang dulu tidak berani protes pada PKT kini juga mulai melawan. Fakta membuktikan, masyarakat internasional walaupun juga mengeluhkan beberapa kebijakan Trump, namun antara PKT dan AS, mereka tetap “memilih AS”, dan “percaya AS”.

Tidak hanya negara peradaban yang bebas, pada KTT Korsel-Korut Kim Jong-Un juga menyatakan harapannya agar AS mau mengakui Korut sebagai “negara yang normal”. Kim Jong-Un suka makan burger, rakyat Korut juga sangat mendambakan sebuah restoran McDonald. Masyarakatnya, termasuk para pejabat yang mengabdi bagi rezim tersebut, sangat mendambakan hal baik, yang tidak bisa selamanya dihalangi otoritarian mana pun.

Setelah Trump menjabat, media massa PKT yang sempat beranggapan Trump yang dinilai tidak baik tidak akan mampu melakukan apa pun, pada perang dagang RRT-AS media menyebut Trump melakukan proteksi dagang yang membuat AS akan menjadi isolasionisme, dan ini berarti memberi peluang bagi “Tiongkok”.

Kini Trump melancarkan perang dagang, AS-RRT dipastikan akan mengalami konflik yang lebih besar, juga menunjukkan sikap AS terhadap rezim PKT kian lama kian keras.

Faktanya, di sebuah negara yang menindas HAM, yang tidak dipercaya oleh rakyatnya sendiri, bagaimana pun juga tidak akan mungkin bisa menjadi negara adidaya dunia. Dan ini membuat PKT sangat ketakutan, PKT sendiri paling mengetahuinya. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular