Zhang Ting

Pada 8 Mei lalu Presiden AS Donald Trump menyatakan mundur dari kesepakatan nuklir Iran, masyarakat internasional mendadak gempar. Seketika itu juga “Kesepakatan Nuklir” seolah terombang-ambing ke puncak pembahasan opini publik. Ada yang memuji tapi ada pula yang was-was bahwa Trump telah membuka kotak pandora, yang mungkin malah akan mendatangkan krisis di wilayah Timur Tengah.

Lalu, negara seperti apakah Iran? Ada apa dengan kesepakatan nuklir? Mengapa AS memutuskan untuk mundur? Dampak apa yang akan ditimbulkannya terhadap kesepakatan denuklirisasi Korut?

Dan untuk benar-benar memahami kesepakatan nuklir Iran, harus dimulai dari memahami Iran.

Baca juga : Negara Seperti Apakah Iran? Mengapa Trump Batalkan Kesepakatan Nuklir? (2)

Apakah Iran mematuhi perjanjian nuklir?

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada 30 April lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menunjukkan setengah ton dokumen salinan, tabel, cetak biru, foto dan video yang dicuri oleh Mossad / Badan Intelijen Israel yang terkenal, salinan tersebut mencatat progres proyek nuklir Iran pada saat ini. Israel memperoleh lebih dari 100.000 halaman dokumen dan dokumen arsif tentang program nuklir Iran.

Demi mendapatkan dokumen-dokumen tersebut, Agen Mossad menghabiskan waktu lebih dari dua tahun pemantauan.

Pada tahun 2017 Agen itu menemukan bahwa IAEA Iran sedang secara gencar mentransfer sejumlah besar file mengenai teknologi nuklir militer secara diam-diam untuk menghindari inspeksi internasional. Maka untuk itu mereka berusaha menelusurinya. Akhirnya berhasil memindah-kosongkan ruang file rahasia dari Badan Energi Nuklir Iran dalam tempo semalam.  

Netanyahu mengatakan bahwa dokumen-dokumen itu adalah “bukti konklusif baru” bahwa Iran sedang mengembangkan bom nuklir yang justru bertentangan dengan klaim pemerintah Iran bahwa tidak pernah ada proyek senjata nuklir.

Dia juga mengecam Iran “membohongi publik” untuk menutupi proyek pengembangan senjata nuklir yang sedang dilakukannya dan melanggar perjanjian nuklir Iran.

Netanyahu mengungkapkan bahwa Iran sedang meneliti dan membuat lima buah hulu ledak nuklir yang masing-masing setara dengan 10 ribu ton, kurang lebih sama dengan “bom atom Hiroshima”yang dijatuhkan Amerika Serikat di Jepang pada tahun 1945.

Pejabat AS mengatakan, informasi ini telah memberikan beberapa informasi baru, terutama mengenai upaya Iran untuk mengembangkan rudal balistik yang dapat membawa hulu ledak nuklir.

”The Washington Freedom Lighthouse” melaporkan, Penasihat Keamanan Nasional AS Bolton pada 11 Mei menyatakan bahwa dalam berbagai hal Iran sangat jelas telah melanggar perjanjian nuklir. Salah satu contoh adalah air berat yang diproduksi oleh Iran telah berulang kali melebihi batas yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir 2015.

Air berat adalah sejenis air yang digunakan dalam reaktor nuklir dan sangat krusial bagi Plutonium yang digunakan untuk produksi senjata nuklir.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Robert Palladino mengatakan, bukti yang paling gamblang dari pelanggaran perjanjian nuklir Iran adalah persediaan air berat yang melebihi batas pada tahun 2016.

Perjanjian nuklir menetapkan bahwa persediaan air berat Iran tidak boleh melebihi 130 ton dan cadangan air berat Iran pada tahun 2016 telah melebihi setidaknya 2 kali lipat dari batas tersebut.

Palladino juga mengatakan “Sebagaimana yang ditekankan oleh Presiden Trump, Iran sering menyentuh batas-batas perjanjian nuklir, seperti kegagalan memenuhi persyaratan (perjanjian nuklir) untuk operasi sentrifugal tingkat tingginya.”

Selain itu, pemimpin Iran juga menyebutkan bahwa mereka tidak akan mengizinkan pihak luar melakukan pemantauan terhadap fasilitas militer mereka, ini jelas tidak sesuai dengan kewajiban dalam perjanjian nuklir Iran dan tidak menerapkan ketetapan dalam Protokol Tambahan.

Menurut peraturan protokol tambahan, jika penyelidik internasional mengkhawatirkan tentang lokasi tertentu, mereka dapat memasuki fasilitas non-nuklir Iran.

Dalam surat yang ditandatangani senator AS Tom Cotton bersama dengan tiga orang senator lainnya juga mengecam masalah air berat Iran yang melebihi batas.

Anggota parlemen AS  berpendapat bahwa perjanjian nuklir mengijinkan Iran untuk menjual air berat, tetapi hal ini justru memberi dalih bagi Iran untuk menyimpan air berat dalam jumlah besar.

Dalam surat bersama mereka mengatakan bahwa salah satu kebocoran dalam perjanjian nuklir itu adalah Iran dapat mengklaim bahwa mereka memiliki hak untuk memproduksi air berat dalam jumlah tak terbatas dan menyimpan stock air berat, karena mereka selalu dapat menemukan alasan bahwa mereka mencari pembeli dari luar negeri. Dengan demikian Iran dapat menghindari batasan air berat dalam perjanjian nuklir.

Beberapa pelanggaran perjanjian nuklir Iran lainnya yang disebutkankan dalam surat para senator itu termasuk :

  1. Mengoperasikan sentrifugal nuklir yang lebih canggih dari yang diizinkan dalam perjanjian nuklir.
  2. Laporan badan intelijen Jerman pada tahun 2015 dan 2016 menunjukkan bahwa meskipun telah ada larangan dalam perjanjian nuklir, Iran tetap terus berusaha secara ilegal untuk membeli senjata nuklir dan teknologi rudal melalui saluran diluar saluran yang diijinkan dalam perjanjian nuklir.
  3. Iran telah menolak memberikan ijin kepada penyelidik untuk melakukan inspeksi internasional terhadap penelitian nuklir dan fasilitas militernya.

Meskipun pada bulan Maret inspektur Badan Energi Atom Internasional mengatakan bahwa mereka tidak menemukan pelanggaran janji Iran atas perjanjian tersebut. Namun masih membuat dunia luar meragukan bahwa aktivitas nuklir tersembunyi Iran masih belum terdeteksi. Hal yang disebutkan oleh senator AS adalah paling jelas bahwa Iran menolak memberikan ijin inspeksi terhadap fasilitas militernya.

Menurut Kantor Berita CNA, Taiwan, inspektur Badan Energi Atom Internasional dapat meminta akses masuk ke tempat militer Iran, namun harus mengaktifkan negosiasi selama 24 hari. Kritikus mengatakan bahwa waktu seperti ini sudah cukup bagi Iran untuk menyembunyikan bukti uranium yang diperkaya.

Penasihat Keamanan Nasional AS Bolton mengatakan bahwa perjanjian nuklir Iran tidak memiliki ketentuan pemantauan yang memadai, sehingga Amerika Serikat tidak dapat memastikan bahwa semua kegiatan nuklir dapat terdeteksi sepenuhnya. (LIN/WHS/asr)

Share

Video Popular